Berita Hari Ini : Harga Emas Kembali Menanjak, Subsidi Gaji Cair Bulan Ini

Bareksa • 13 Aug 2020

an image
Seorang pegawai menunjukkan kepingan emas di toko dan perhiasan di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (28/7/2020). Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) pada 28 Juli 2020 menembus Rp1 juta/gram yang merupakan posisi tertinggi sepanjang masa emas Antam diperjualbelikan. ANTARA FOTO/FB Anggoro

Dana hibah UMKM cair 17 Agustus, Peringatan terbaru WHO soal Covid-19

Bareksa.com - Berikut sejumlah berita dan informasi terkait investasi dan ekonomi yang disarikan dari sejumlah media dan keterbukaan informasi, Kamis 13 Agustus 2020 :

Subsidi Gaji

Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Erick Thohir mengatakan, pemerintah bakal mencairkan subsidi gaji bagi pekerja dengan penghasilan di bawah Rp 5 juta pada akhir bulan Agustus 2020.

Sebagaimana mekanisme yang telah ditetapkan, para pekerja swasta tersebut nantinya akan mendapat bantuan senilai Rp2,4 juta selama 4 bulan atau sekitar Rp600 ribu per bulan.

"Bantuan subsidi gaji kemarin sudah di konferensi pers, Insya Allah akhir bulan ini juga sama dengan bantuan produktif usaha mikro," ujar Erick melalui tayangan virtual, Rabu (12/8/2020). Seperti dilansir Liputan6, lanjut Erick, pencairan subsidi gaji akan dilakukan dalam 2 tahap.

Pertama, untuk gaji bulan September dan Oktober akan dibayarkan pada bulan Agustus. Sedangkan untuk gaji bulan November dan Desember dibayarkan pada bulan September mendatang.

Dalam penyaluran subsidi gaji kepada kepada 15,7 juta pekerja tersebut, pemerintah akan bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) agar prosesnya berjalan dengan transparan.

"Tapi ini data dari BPJS Ketenagakerjaan yang masih menganut data Juni yang masih ada iurannya," lanjut Erick.

Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan, pekerja penerima subsidi haruslah mereka yang terdaftar aktif di BPJS Ketenagakerjaan dengan iuran di bawah Rp150 ribu per bulan atau setara dengan gaji di bawah Rp5 juta per bulan.

Pemerintah akhirnya juga menyepakati untuk memberikan subsidi atau insentif gaji Rp2,4 juta atau Rp600 ribu per bulan kepada pegawai pemerintah non PNS alias honorer. 

Insentif yang berlaku mulai September hingga Desember 2020 ini bertujuan untuk pemerataan manfaat subsidi pemerintah bagi pekerja bergaji di bawah Rp5 juta.

"Pada awalnya kami hanya mendesain untuk 13 sekian juta. Sekarang kita perluas menjadi 15,7 juta lebih. Itu karena kami juga memberikan kesempatan kepada teman-teman pegawai pemerintah non PNS, jadi dia tidak menerima gaji ke-13 sebagai peserta BPJS ketenagakerjaan," kata Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah di Jakarta, Selasa (11/8/2020).

Menurutnya, honorer berhak untuk mendapatkan subsidi gaji dari pemerintah. Pasalnya mereka bukan termasuk PNS, sekaligus mereka gajinya di bawah Rp5 juta. Karena itulah alasan penerima manfaat itu ditingkatkan dari semula 13.870.496 orang menjadi 15.725.232 orang.

"Kebanyakan mereka upahnya UMP (upah minimum provinsi), ini juga akan kami beri kesempatan. Jadi kami perluas, kalau awalnya 13 juta lebih, sekarang menjadi 15 juta karena kami ingin memperluas manfaatnya," jelasnya.

Maka anggaran bantuan pemerintah subsidi atau insentif upah ini mengalami peningkatan menjadi Rp37,7 triliun dari semula Rp33,1 triliun.

Ida menambahkan alasan pemerintah menambah jumlah penerima manfaat dan meningkatkan anggaran tersebut, agar kelompok masyarakat yang lain juga dapat menerima manfaat yang serupa dalam konteks yang berbeda, salah satunya honorer.

"Saya kira bagaimana sebisanya semua masyarakat bisa merasakan manfaat, sementara yang harus dibantu itu banyak tidak bertumpu pada satu dua orang, jadi yang sudah mendapatkan kartu prakerja berikan kesempatan lain kepada yang lainnya agar pemerataan bisa kita dapatkan," pungkasnya.

Harga Emas

Harga emas di pasar internasional terus menanjak. Melansir Kontan.co.id, harga emas nampak mencoba kembali menembus level US$2.000 per ons troi, setelah jatuh ke bawah level US$ 1.900 pada awal perdagangan Rabu (11/8/2020) dan mencatat penurunan terburuk dalam tujuh tahun terakhir di sesi Selasa (11/8/2020).

Pada Selasa (11/8/2020), harga emas menukik tajam hingga 6,2 persen, penurunan satu hari terburuk sejak April 2013. Sementara di sesi awal Rabu (12/8/2020), harga emas merosot ke posisi US$1.863,15 per ons troi.

Tapi kemudian, harga emas berbalik arah dan terus menanjak. Mengutip Bloomberg, harga emas di pasar spot pada pukul 23.52 WIB naik hampir 2 persen, tepatnya, 1,9 persen menjadi US$1.948,26. Sedang harga emas berjangka AS naik 0,69 persen ke US$1.959,80.

"Ini seperti hujan lebat setelah cuaca panas yang menyengat," kata analis independen Ross Norman kepada Reuters. "Harga emas memantul kembali dengan sangat kuat. Sentimen belum rusak dan lebih dari itu, Anda dapat berargumen itu menciptakan peluang bagi mereka yang mungkin ketinggalan perahu pada reli untuk masuk lagi," ujarnya.

"Penurunan itu adalah koreksi yang sehat, itu memungkinkan lebih banyak orang untuk masuk, sehingga harga emas akan reli lagi dan pada akhir tahun kita akan melihat rekor tertinggi baru sepanjang masa dengan emas di US$2.500," kata Phillip Streible, Chief Market Strategist Blue Line Futures di Chicago.

"Kita memiliki semua faktor fundamental yang sama yang mendukung harga emas. Federal Reserve akan tetap dovish untuk jangka waktu yang lama, mereka telah mengatakan akan membiarkan inflasi naik di atas target mereka," ujarnya ke Reuters.

Kekhawatiran atas kerusakan ekonomi akibat pandemi virus corona baru karena ekonomi Inggris menyusut dengan rekor 20,4 persen pada kuartal kedua tahun ini mendukung daya tarik emas, seiring pelemahan dolar AS.

"Ekonomi global masih menghadapi sejumlah masalah yang memiliki kapasitas untuk mendukung harga emas," kata James Steel, Kepala Analis Logam Mulia HSBC dalam sebuah catatan.

"Ini termasuk risiko geopolitik dan stimulus moneter dan fiskal yang sedang berlangsung. Faktor-faktor ini akan menopang kenaikan lebih lanjut (harga emas)," imbuhnya.

UMKM

Selain bantuan dalam bentuk restrukturisasi kredit, pemerintah akan memberikan bantuan tunai Rp2,4 juta per pelaku usaha mikro sebagai upaya untuk mendorong pelaku bisnis tersebut kembali bangkit. Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki menyatakan, dana tersebut akan mulai dicairkan pada 17 Agustus 2020.

"Jadi ini semacam hibah modal kerja untuk UMKM yang belum pernah mendapat atau menerima kredit atau pembiayaan dari perbankan (unbakable), persisnya akan diberikan ke pelaku usaha mikro nantinya. Jadi ini kami sudah siapkan, pertengahan Agustus ini juga sudah bisa kita kick off," ujarnya dalam jumpa pers di Kantor Presiden, mengutip siaran resminya, Kamis (13/8/2020).

Teten juga menjelaskan untuk mendapatkan bantuan tunai ini, pelaku usaha mikro harus mendaftarkan dirinya ke koperasi-koperasi yang berada di wilayah terdekat. Lalu pelaku usaha yang sudah mendaftar akan diidentifikasi langsung oleh kepala dinas koperasi untuk didata dan dilakukan pengecekkan apakah pelaku usaha tersebut benar-benar layak mendapatkan bantuan.

Pelaku usaha juga bisa diusulkan oleh instansi di antaranya dinas yang membidangi koperasi dan UMKM provinsi dan kabupaten/kota, koperasi yang telah disahkan sebagai badan hukum, Kementerian/Lembaga, perbankan dan perusahaan pembiayaan yang terdaftar di OJK, dan lembaga penyalur program kredit pemerintah yang terdiri atas BUMN dan BLU.

Namun perlu diingat bahwa pelaku usaha yang bisa mendapatkan bantuan ini adalah pelaku usaha mikro yang belum pernah mendapatkan atau menerima bantuan peminjaman atau sejenisnya dari pihak perbankan (unbakable). Teten pun mengajak agar para pelaku usaha mikro yang belum mendapatkan pembiayaan modal kerja dan investasi dari perbankan untuk ikut aktif mengakses bantuan produktif usaha mikro yang diberikan sebesar Rp2,4 juta.

"Jadi kami ingin mengajak kepada pelaku usaha mikro yang belum mendapatkan pembiayaan modal kerja dan investasi dari perbankan untuk ikut aktif mendaftarkan diri melalui dinas koperasi terdekat," jelas dia.

WHO

Tak dapat dipungkiri, ancaman virus corona atau Covid-19 masih mengintai dunia. Data yang dirilis real time Worldometers menunjukkan, total infeksi virus corona pada Rabu (12/8/2020) sebanyak 20.521.644 kasus global, dengan 13.441.743 pasien sembuh, dan 745.918 orang meninggal dunia.

Guna menekan penyebaran Covid-19, seperti dilansir Kontan, Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) terus memberikan sejumlah peringatan secara global terkait sejumlah hal yang berkaitan dengan virus corona. Berikut sejumlah peringatan WHO terkait Covid-19 :

1. Tunda rutinitas pemeriksaan gigi

WHO baru-baru ini memberikan warning terkait penundaan perawatan gigi rutin karena risiko Covid-19. Dilansir dari Straits Times, (12/8/2020), meskipun saat ini tidak ada data mengenai penyebaran virus corona dari tindakan dokter gigi, namun penelitian lebih lanjut mengungkapkan prosedur umum yang menghasilkan partikel kecil yang mengambang berpotensi menyebabkan infeksi jika terhirup.

Potensi tersebut termasuk berasal dari semprotan udara/air tiga arah, peralatan pembersih ultrasonik yang menghasilkan endapan dari permukaan gigi, dan pemolesan gigi.

"Panduan WHO merekomendasikan dalam kasus penularan komunitas untuk memprioritaskan kasus oral yang mendesak atau darurat, untuk menghindari atau meminimalkan prosedur yang dapat menghasilkan aerosol, memprioritaskan serangkaian intervensi klinis yang dilakukan dengan menggunakan instrumen dan tentu saja untuk menunda rutinitas yang tidak penting. perawatan kesehatan mulut," ujar petugas gigi WHO, Benoit Varenne.

Ia menambahkan, kemungkinan Covid-19 ditularkan melalui aerosol, partikel mikro atau partikel udara. Menurutnya, fasilitas gigi harus memiliki ventilasi yang memadai untuk mengurangi risiko penyebaran virus dalam pengaturan tertutup Meski begitu, hal ini masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk membuktikannya.

2. Covid-19 dapat bertahan di udara (airborne)

Pada awal Juli 2020, WHO resmi mengeluarkan pernyataan virus corona dapat bertahan di udara atau airborne dalam ruangan tertutup. Dengan kondisi itu, virus corona juga dapat menular dari satu orang ke orang lain. Dalam pernyataan resminya, WHO mendefinisikan penularan melalui udara sebagai penyebaran agen penular yang disebabkan oleh penyebaran aerosol yang melayang di udara dalam jarak dan waktu yang lama.

Dilansir New York Times (9/7/2020), tempat tertutup yang bisa menjadi tempat penularan Covid-19 di udara antara lain restoran, klub malam, tempat ibadah, tempat kerja, atau tempat-tempat lain di mana orang berteriak, berbicara dan bernyanyi.

"Teori menunjukkan bahwa sejumlah droplet pernapasan dapat menghasilkan aerosol. Ini terjadi saat menguap, bernapas normal, dan saat berbicara," kata WHO.

Dengan demikian, orang yang rentan dapat menghirup aerosol dan dapat terinfeksi jika aerosol itu mengandung virus dalam jumlah cukup untuk menyebabkan infeksi ke orang lain. Namun hingga saat ini, WHO dan para ahli masih mencari tahu berapa proporsi droplet yang diembuskan saat menguap untuk menghasilkan aerosol.

3. Vaksin tak akan tersedia sebelum akhir 2021

Ketika virus corona terus menginfeksi orang-orang di dunia, sejumlah negara saling berlomba untuk menemukan vaksin atau obat untuk menyembuhkan pasien Covid-19. Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa kecil kemungkinan untuk memiliki vaksin tersebut sebelum akhir 2021.

Pengembangan dan distribusi masal vaksin secara luas dipandang sebagai cara yang paling mungkin untuk mengendalikan Covid-19. Tiga perusahaan farmasi terbesar AS, Inovio, Moderna, dan Pfizer kini telah memulai uji klinis, yaitu tahap pertama dalam pengembangan vaksin.

Sementara itu, para peneliti di Oxford University yang didukung oleh Pemerintah Inggris mengatakan mereka bertekad untuk memproduksi vaksin pada musim gugur nanti. Pejabat Senior WHO Dale Fisher menyebut vaksin untuk Covid-19 tidak akan siap hingga akhir tahun depan.

"Saya pikir akhir tahun depan adalah ekspektasi yang sangat masuk akal," kata Fisher dilansir CNBC, Senin (4/5/2020).  

4. Bahaya nasionalisme vaksin

Selain itu, WHO juga memperingatkan mengenai bahayanya "nasionalisme vaksin" bagi negara-negara adidaya yang menyimpan perawatan medis/kesehatan untuk diri mereka sendiri. Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan, nasionalisme vaksin tidak baik lantaran tindakan tersebut tidak mempermudah WHO atau sejumlah negara dalam memberantas Covid-19.

"Agar dunia pulih lebih cepat, ia harus pulih bersama, karena ini adalah dunia yang mengglobal di mana ekonomi saling terkait satu sama lain. Sebagian dunia atau beberapa negara tidak bisa menjadi tempat berlindung yang aman dan pulih," ujar Tedros. Menurut dia, kerusakan akibat Covid-19 dapat berkurang jika negara-negara yang memiliki dana ikut berkomitmen untuk ini.  

(AM)