Berita Hari Ini : Negara Pemilik Emas Terbanyak, Prediksi Lelang SUN

Bareksa • 29 Jun 2020

an image
Ilustrasi wanita memegang tumpukan emas batangan logam mulia

Diskon PPh perusahaan publik, biaya IPO dipangkas 50 persen, Mei 2020 investor pasar modal tumbuh 13 persen

Bareksa.com - Berikut sejumlah berita dan informasi terkait investasi dan ekonomi yang disarikan dari sejumlah media dan keterbukaan informasi, Senin 29 Juni 2020 :

Emas

Emas masih menjadi pilihan untuk menyimpan dana yang aman. Bahkan bank sentral di beberapa belahan dunia menjadikan emas sebagai tempat menyimpan uang.

Akhir pekan lalu, harga emas melanjutkan penguatan. Harga emas berjangka untuk pengiriman Agustus 2020 di bursa Comex menguat 0,55 persen di 1.780,30 dolar AS per ons troi. Sedangkan harga emas spot naik 0,43 persen di 1.771,29 dolar AS per ons troi.

Berdasarkan data World Gold Council seperti dikutip Kompas.com, total emas yang disimpan oleh bank sentral sebanyak 34.891,5 ton hingga Juni 2020. Pemegang emas terbesar hingga Juni 2020 masih diduduki oleh Amerika Serikat, berikutnya Jerman, IMF dan Italia.

Susunan 10 pemilik emas terbesar di dunia hingga Juni 2020 adalah sebagai berikut:
1. Amerika Serikat : 8.133,5 ton atau setara 79,1 persen dari total cadangan devisa.
2. Jerman : 3.363,6 ton atau setara 75 persen dari total cadangan devisa.
3. Dana Moneter Internasional (IMF) : 2.814 ton.
4. Italia : 2.451,8 ton atau setara 70,5 persen dari total cadangan devisa.
5. Perancis : 2.436 ton setara 65 persen dari total cadangan devisa.
6. Rusia : 2.298,7 ton emas setara 22,2 persen dari total cadangan devisa.
7. China : 1.948,3 ton setara 3,3 persen dari total cadangan devisa.
8. Swiss : 1.040 ton emas setara 6,7 peraen dari total cadangan devisa.
9. Jepang : 765,2 ton setara 3,1 persen dari total cadangan devisa.
10. India : 653 ton emas setara 7,4 persen dari total cadangan devisa.

Sementara Indonesia berada di posisi ke-42. Kepemilikan Bank Indonesia (BI) atas emas mencapai 78,6 ton setara 3,5 persen dari total cadangan devisa.

PPh

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan merilis aturan tarif pajak perusahaan yang berbentuk perseroan terbuka. Adapun tarif yang dibebankan berdasarkan total keseluruhan saham di bursa efek di Indonesia, atau setidaknya 40 persen dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh.

"Dari jumlah saham tersebut berhak memperoleh tarif pajak penghasilan badan yang lebih rendah sepanjang memenuhi persyaratan tertentu," ungkap Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Hestu Yoga Saksama, dalam keterangannya Sabtu (27/6/2020)

Syarat untuk memperoleh keringanan tarif pajak adalah 40 persen saham tersebut harus dimiliki paling sedikit oleh 300 pihak atau di luar emiten dan pemegang saham pengendali/pemegang saham utama. Dari 300 pihak tersebut diwajibkan memiliki saham masing-masing tidak melebihi 5 persen dari keseluruhan saham yang ditempatkan dan disetor penuh.

"Syarat ini harus dipenuhi dalam waktu paling singkat 183 hari dalam jangka waktu satu tahun," tambah dia. Hestu mengatakan, pengecualian atas ketentuan di atas dapat berlaku dalam keadaan tertentu, misalkan emiten melakukan buyback berdasarkan kebijakan pemerintah atau Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2020, emiten yang melakukan buyback yang mengakibatkan tidak terpenuhinya persyaratan tersebut di atas, diberikan pengecualian sampai dengan 30 September 2020 sehingga dapat tetap memanfaatkan tarif pajak penghasilan yang lebih rendah.

"Tarif pajak yang dapat diperoleh emiten yang memenuhi persyaratan di atas adalah 19 persen pada tahun pajak 2020 dan 2021, dan 17 persen pada tahun pajak 2022," tambah dia.

IPO

Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengucurkan stimulus berupa potongan biaya pencatatan saham tambahan 50 persen dari perhitungan nilai masing-masing biaya bagi perusahaan tercatat dan/atau calon perusahaan tercatat.

Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna berharap, stimulus berupa pemangkasan biaya initial listing fee (ILF) 50 persen ini mampu meringankan perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya di BEI ataupun perusahaan tercatat yang berniat melakukan pencatatan saham tambahan.

Ia merinci, biaya untuk initial public offering (IPO) terbagi menjadi tiga kategori sesuai dengan papan perdagangan. Adapun biaya untuk pencatatan papan utama minimal Rp25 juta dengan maksimal Rp250 juta.

"Jadi setelah ada pemotongan, untuk minimal papan utama menjadi Rp12,5 juta dan maksimal menjadi Rp125 juta," ujarnya dalam acara Bincang-Bincang Virtual bersama wartawan, Jumat (26/6).

Selanjutnya untuk biaya papan pengembangan memiliki biaya minimum Rp25 juta hingga Rp150 juta. Sehingga, nantinya biaya untuk papan pengembangan hanya sebesar Rp12,5 juta sampai Rp75 juta.

Nah, untuk biaya papan akselerasi tidak ada biaya minimum ataupun maksimum yaitu senilai Rp25 juta, jadi setelah ada diskon biayanya hanya Rp12,5 juta.

"Ini yang dapat kami lakukan di kondisi yang dinamis saat ini, kami lakukan semaksimal yang Bursa bisa lakukan. Harapan kami ini bisa meringankan calon perusahaan tercatat ataupun perusahaan tercatat," tambahnya.

Selain itu, ia melihat perusahaan di Indonesia masih banyak yang membutuhkan pembiayaan dari pasar modal dan saat ini menurutnya kondisi pasar modal di Indonesia tengah bertumbuh ketimbang negara lain.

Apabila dibandingkan, sepanjang kuartal pertama tahun ini emiten baru di Malaysia hanya bertambah 7 perusahaan, Singapura bertambah 3 perusahaan, dan Thailand 2 perusahaan.

Investor Pasar Modal

Di tengah tren penurunan pasar akibat Covid-19, Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil memperoleh pertumbuhan jumlah investor pasar modal. Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan, total investor pasar modal mengalami pertumbuhan 13 persen menjadi 2,81 juta investor hingga Mei 2020, dari posisi 2,48 juta investor pasar modal di akhir tahun lalu yang terdiri dari investor saham, reksadana dan obligasi.

Sedangkan khusus untuk investor saham naik 8 persen dari tahun 2019 atau mencapai 1,19 juta investor saham berdasarkan single investor identification (SID) per Mei 2020. "Jadi masih terdapat pertumbuhan investor yang baik investor pasar modal," ujarnya dalam acara Bincang-Bincang Virtual bersama Wartawan, Jumat (26/6).

Jika dilihat dari klasifikasi usia investor, pasar modal Indonesia mulai didominasi oleh investor muda dan milenial, tercermin dari tren pertumbuhan investor saham yang berada pada usia 18 tahun-30 tahun dalam empat tahun terakhir.

Di samping itu, terdapat tren positif dari pertumbuhan aktivitas investor ritel dalam tiga bulan terakhir terlihat dari lonjakan transaksi kelompok SID Ritel yang secara rata-rata naik lebih dari 50 persen pada periode April 2020 hingga Juni 2020 ketimbang periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pada masa pandemi Covid-19, BEI juga turut melakukan penyesuaian serangkaian kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat melalui online, baik untuk kegiatan edukasi kepada calon investor dan investor, maupun kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki minat untuk menggalang dana jangka panjang dari pasar modal.

"Selain itu, BEI tetap fokus dalam melakukan serangkaian implementasi inisiatif strategis sebagai upaya pendalaman pasar dan peningkatan perlindungan investor," tambahnya.

Sebagai upaya dukungan terhadap program pemerintah dalam memitigasi dampak Covid-19 terhadap aktivitas perekonomian nasional, Self-Regulatory Organisation (SRO) melalui koordinasi bersama-sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan serangkaian stimulus yang akan diberikan kepada stakeholders pasar modal.

Pertama, BEI menyediakan infrastruktur Teknologi Informasi (TI) kepada Anggota Bursa (AB) dalam implementasi kebijakan work from home (WFH) dengan menggunakan internet dan cloud.

Kedua, adanya potongan biaya pencatatan saham tambahan sebesar 50 persen dari perhitungan nilai masing-masing biaya bagi perusahaan tercatat dan/atau calon perusahaan tercatat.

Ketiga, penerapan relaksasi atas dana jaminan dengan memberikan keringanan atas kutipan setoran dana jaminan kepada anggota kliring yang sebelumnya sebesar 0,01 persen menjadi sebesar 0,005 persen dari nilai setiap transaksi bursa atas efek bersifat ekuitas.

Keempat, ada penerapan relaksasi keringanan biaya kepada penerbit efek berupa pembebasan biaya penggunaan e-Proxy, pembebasan biaya Pendaftaran Efek Awal atas Efek yang diterbitkan melalui Equity Crowdfunding (ECF), dan pengurangan Biaya Pendaftaran Efek Tahunan sebesar 50 persen atas Efek yang diterbitkan melalui ECF.

Kelima, pemberian alternatif jaringan koneksi menggunakan Virtual Private Network (VPN), penyesuaian biaya penyimpanan 10 persen dari sebelumnya 0,005 persen per tahun menjadi 0,0045 persen per tahun.

Keenam, ada dukungan kepada industri reksadana berupa pemberian alternatif jaringan koneksi menggunakan VPN, penyesuaian biaya bulanan produk investasi untuk produk investasi yang terdaftar, dan pembebasan biaya pendaftaran produk Investasi yang didaftarkan.

Lelang SUN

Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI7DRR) pada Juni 2020 sebesar 25 basis poin ke 4,25 persen menjadi sentimen kuat untuk menggaet minat investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN). Diperkirakan, penawaran lelang SUN pekan depan masih akan berada di atas Rp75 triliun

Sekedar mengingatkan, pemerintah berencana melakukan lelang SUN pada Selasa (30/6). Sebanyak tujuh seri SUN ditawarkan mulai, dengan target indikatif Rp20 triliun dan target maksimal masih di Rp40 triliun.

"Dengan BI7DRR yang dipangkas, justru memberi potensi investor masuk lebih besar. Investor cenderung akan mencari instrumen kuat dan salah satunya Surat Berharga Negara (SBN), sehingga penawaran lelang ke depan masih akan besar," kata Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto kepada Kontan.co.id, Minggu (28/6).

Berkaca dari kondisi tersebut, Ramdhan memperkirakan, serapan pemerintah pada lelang SUN Selasa (30/6) akan berkisar Rp20 triliun hingga Rp22 triliun. Sedangkan untuk total penawaran SUN yang masuk masih akan di atas Rp75 triliun.

Pada lelang SUN Selasa (16/6) lalu, total penawaran yang masuk mencapai Rp84,82 triliun dengan serapan pemerintah Rp20,5 triliun.

"Untuk tren yield diperkirakan akan bergerak stabil pekan depan, di mana tenor 10 tahun diperkirakan berada di kisaran 7-7,2 persen, sedangkan yield tenor 5 tahun berada di kisaran 6,6 persen hingga 6,7 persen," ungkapnya.

Ramdhan mengatakan, peran investor domeatik pada lelang SBN dalam beberapa waktu terakhir cukup besar. Terlebih saat asing banyak yang keluar dan sempat menekan yield ke kisaran 8,3 persen untuk tenor 10 tahun.

Ke depan, dia meyakini, pasar obligasi Indonesia masih jadi pilihan menarik bagi asing dan saat ini mereka sudah mulai masuk bertahap.

(AM)