Tips Investasi Emas untuk Diversifikasi Aset

Bareksa • 08 Jun 2020

an image
Ilustrasi emas batangan logam mulia di atas kertas menunjukkan grafik pasar saham keuangan untuk menggambarkan emas sebagai aset aman safe haven saat krisis.

Investasi emas sering disebut sebagai aset investasi aman (safe haven)

Bareksa.com - Investasi adalah proses menanamkan modal dengan harapan mendapat keuntungan di masa depan. Investasi yang menguntungkan berpotensi memberikan imbal hasil yang lebih tinggi daripada menabung, tetapi investasi juga memiliki risiko.

Risiko investasi bermacam-macam, tergantung dari aset atau instrumen investasi yang kita miliki. Investasi yang menguntungkan, semakin tinggi potensinya, semakin tinggi juga risikonya (high risk, high return).

Sebagai contoh, aset investasi ada yang berupa fisik ataupun ada yang berupa keuangan. Investasi fisik contohnya rumah atau properti, emas atau barang mewah. Sementara investasi di pasar keuangan contohnya adalah investasi saham dan turunannya, surat berharga negara atau obligasi negara, reksadana, dan sebagainya.

Masing-masing aset investasi ini memiliki sifat dan risikonya sendiri. Contoh, investasi di pasar saham risikonya tinggi tetapi imbal hasilnya juga tinggi. Kemudian, investasi di obligasi negara atau surat utang negara risikonya rendah karena dijamin negara tetapi potensi imbal hasilnya tidak setinggi saham.

Investasi reksadana juga memiliki risiko dan potensi yang beragam tergantung aset di dalamnya. Reksadana pasar uang risikonya rendah karena isi asetnya adalah deposito dan efek surat utang dengan jatuh tempo kurang dari setahun, sedangkan reksadana saham risikonya tinggi karena mengikuti pasar saham.

Lalu, investasi di logam mulia emas risikonya rendah tetapi kita harus memiliki tempat menyimpan yang aman.

Satu cara menyiasati risiko adalah dengan cara diversifikasi, alias membagi dana investasi dalam berbagai instrumen berbeda. Plus, kita juga bisa menikmati potensi imbal hasil beragam dalam berbagai kondisi pasar.

Seperti pepatah dalam bahasa Inggris menyebutkan, "Don't put your eggs in one basket," investor sebaiknya menaruh dana investasi tidak dalam satu instrumen yang sama.

Meskipun seorang investor bertipe agresif, dia bisa saja tidak menaruh 100 persen dananya di saham. Diversifikasi bisa dilakukan oleh investor ini untuk menghadapi fluktuasi, seperti saat pasar saham sedang bergejolak.

Diversifikasi bisa dilakukan dengan menaruh dana dengan porsi tertentu di berbagai jenis aset. Strategi ini bisa disesuaikan juga dengan tipe atau profil risiko dari investor, yakni toleransi dalam menanggung risiko.

Emas untuk Diversifikasi

Investasi emas sering disebut sebagai aset investasi aman (safe haven) dan harga emas dipercaya terus naik dalam jangka panjang. Akan tetapi, bila kita menaruh 100 persen harta kita dalam investasi emas juga tidak bijak, karena ada saatnya harga emas tidak tumbuh tinggi dan imbal hasilnya bisa tertinggal daripada aset lain.

Berikut adalah cara investasi emas sebagai diversifikasi aset investasi untuk meraih hasil yang optimal.

1. Tentukan tujuan

Sebelum memulai investasi, kita harus punya tujuan dari dana yang kita kumpulkan tersebut. Misalnya, untuk biaya pendidikan, pembelian rumah, atau menyiapkan dana pensiun.

Bila kita sudah mengetahui tujuan dan perkiraan jangka waktu, kita bisa mulai menghitung perkiraan dana yang bisa kita sisihkan secara rutin tiap bulan. Misalnya, kita mau menyisihkan 10 persen dari penghasilan kita per bulan untuk investasi.

2. Sesuaikan dengan profil risiko

Profil risiko adalah seberapa besar tingkat toleransi investor terhadap risiko investasi. Investor yang berani mengambil risiko besar demi imbal hasil tinggi disebut sebagai investor agresif, atau pengambil risiko (risk taker). Sementara investor konservatif, lebih nyaman untuk memastikan dana pokoknya aman meski imbal hasilnya tidak terlalu tinggi.

Dari profil risiko ini, kita bisa menyesuaikan porsi-porsi investasi di dalam berbagai aset. Bila kita termasuk investor agresif, mayoritas dana kita bisa ditaruh di pasar saham atau investasi reksadana saham dan sebagian kecil ditaruh di pasar uang, atau logam mulia emas. Contoh diversifikasinya adalah, 60 persen di reksadana saham, 20 persen di pasar uang, 10 persen di SBN dan 10 persen di emas.

Untuk investor yang konservatif, porsi terbesar investasinya ada di instrumen dengan risiko rendah, seperti investasi emas, pasar uang, dan surat utang negara. Contoh diversifikasinya, 30 persen investasi emas, 30 persen di surat utang negara dan 40 persen di pasar uang.

3. Tempat penyimpanan aman

Khusus investasi emas, kita memerlukan tempat aman untuk menyimpan wujud fisik dari logam mulia ini agar tidak hilang atau mudah dicuri orang. Brankas atau safe deposit box di bank bisa menjadi pilihan aman, tetapi ada biaya tambahan.

Risiko penyimpanan ini bisa dikurangi bila kita memutuskan untuk membeli emas secara online dengan fasilitas titipan. Investasi emas ini sudah tersedia dengan fitur BareksaEmas di aplikasi Bareksa.

Dengan aplikasi Bareksa, kita bisa melihat nilai emas yang kita miliki dalam satu aplikasi yang bisa melihat total reksadana dan surat berharga negara (SBN) kita dalam portofolio.

4. Cairkan di saat tepat

Diversifikasi menjadikan keragaman dalam aset investasi kita. Karena sifat yang berbeda dari tiap aset, ada saatnya satu aset tumbuh lebih tinggi daripada yang lainnya sehingga porsinya dalam portofolio kita berubah. Di saat satu aset sedang memberikan hasil yang tinggi, kita bisa memanennya, alias mencairkannya untuk mewujudkan keuntungan kita.

Contohnya, harga emas baru saja mencapai rekor tertinggi sepanjang masa akibat pandemi Covid-19, sementara pasar saham sedang melemah. Kita bisa menggunakan momen ini untuk mengambil keuntungan (profit taking), saat harga emas tinggi kita jual saja sebagian tetapi bukan seluruhnya.

Hal ini kita ibaratkan seperti memetik buah dari pohonnya, kita hanya mengambil buahnya tetapi tidak menebang pohonnya (pokoknya). Lalu, kita tetap memupuk (menambah) investasi kita agar tumbuh kembali dalam jangka panjang.

Sebagai informasi, emas dalam fitur BareksaEmas di aplikasi Bareksa adalah logam mulia dengan kadar 99,99 persen yang diproduksi oleh ANTAM dan UBS mulai dari ukuran 0,1 gram. Bila kita ingin mengambil wujud emas tersebut, bisa dimulai dengan ukuran 1 gram.

Belum punya aplikasi Bareksa? Segera unduh sekarang di Appstore dan Playstore sesuai dengan ponselmu.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.