Kapan Dampak Stimulus Ekonomi Mulai Terasa di Pasar Keuangan?

Bareksa • 20 Mar 2020

an image
Ilustrasi investor trader pialang fund manager pria pemuda duduk di depan laptop gadget bingung serius memikirkan keuntungan dari hasil investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara sukuk surat utang pemerintah korporasi

Akibat penyebaran wabah virus corona (covid-19) ini, Bank Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia

Bareksa.com - Pemerintah Indonesia mulai memberikan kebijakan stimulus untuk mendorong ekonomi, di tengah kondisi pasar keuangan yang lesu tertekan pandemi virus corona covid-19. Dampaknya diharapkan bisa positif pada perekonomian, tetapi tidak bisa instan.

Akibat penyebaran wabah virus corona (covid-19) ini, Bank Indonesia pun merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 menjadi 4,2 persen hingga 4,6 persen, dari semula 5 persen hingga 5,4 persen. BI juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini dari 3 persen menjadi 2,5 persen dengan risiko yang cenderung bisa ke bawah.

Kemarin (19/03/2020), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai menerapkan kebijakan pemberian stimulus bagi perekonomian melalui penerbitan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid 19).

Kemudian, Bank Indonesia juga menurunkan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (7 DRRR) 25 basis poin menjadi 4,5 persen. Bahkan, BI telah melakukan injeksi likuiditas hingga Rp192 triliun untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah wabah virus corona (Covid-19)

Indonesia bukan satu-satunya yang memberikan kebijakan stimulus ekonomi. Pada Minggu (15/03/2020), Bank sentral AS The Fed telah memangkas suku bunga acuan dan mulai membeli obligasi negara.

Lalu, Bank of Japan memutuskan untuk menambah dua kali lipat jumlah likuiditas di bursa saham Tokyo pada Senin (16/03/2020). Di Eropa, Pemerintah Jerman berjanji memberikan kas tidak terbatas untuk mendorong usaha yang terkena dampak virus corona.

China juga menyuntikkan tambahan US$78 miliar ke dalam sistem perbankan. Sejumlah bank sentral telah menurunkan suku bunga hingga mendekati nol. Para pemimpin negara G7 berjanji untuk mengambil langkah apapun yang dibutuhkan untuk menjaga perekonomian global.

Apakah Kebijakan Tersebut Efektif?

Kebijakan pembatasan sosial (social distancing) seperti yang diberlakukan di AS dan Eropa menghambat orang untuk pergi ke restoran, bioskop, stadion, gedung kuliah dan pusat kebugaran.

"Kepercayaan bisnis dan konsumen telah menghilang. Resesi global sepertinya tidak bisa dihindari," tulis Vikram Khanna, Associate Editor di Strait Times, 17 Maret 2020.

Menurut Vikram, masalah utama pada saat ini adalah penurunan suku bunga memiliki pengaruh yang terbatas bila dikaitkan dengan dampak virus corona. Memang injeksi likuiditas yang besar dapat mendorong pasar, tetapi tidak bisa memperbaiki rantai pasok yang putus. Di berbagai negara maju dengan suku bunga nyaris nol, atau negatif, tidak ada lagi amunisi moneter tersisa.

"Injeksi fiskal lebih efektif karena, bila tepat sasaran, bisa membantu perusahaan bertahan dan menjadi bantalan finansial bagi pekerja. Tetapi kebijakan ini tidak bisa mengatasi pembatasan perjalanan, larangan berkumpul atau dampak ekonomi dari social distancing."

Pasar hingga saat ini masih lesu, meski sudah banyak stimulus besar untuk ekonomi dalam beberapa hari terakhir. Masalah utamanya adalah tegangan antara inisiatif kesehatan publik darurat dan kesehatan ekonomi.

Kebijakan yang mengutamakan kesehatan masyarakat, seperti isolasi (lockdown), larangan perjalanan, pembatasan sosial, sangat buruk bagi aktivitas ekonomi untuk jangka pendek. "Perang melawan covid-19, juga merupakan perang melawan ekonomi," ujar Vikram.

Han Yik, Head of Institutional Investors, World Economic Forum, juga memandang  para bank sentral sudah mencapai batas penurunan suku bunga. Sebab, sebelum krisis terjadi, tren suku bunga sudah sangat rendah sehingga para bank sentral tidak bisa menggunakan alat yang sama untuk mengatasi krisis seperti di 2008.

Kerutan lain berkaitan dengan pemulihan adalah frase "the new normal", level normal baru yang dalam kasus ini lebih tepat.

"Bila kita harus mengubah kebiasaan sosial dan bisnis kita akibat pandemik berkepanjangan, atau untuk mencegah pandemi lain, hal ini berpotensi memperpanjang waktu pemulihan ekonomi menjadi lebih lama dibandingkan dengan resesi 2008," tulisnya dalam World Economic Forum Agenda 12 Maret 2020.

Lantas, apa yang harus dilakukan?

Vikram mengatakan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Sehingga, kita harus bersiap untuk kemungkinan perlambatan ekonomi.

Artinya, pendapatan perusahaan mungkin berkurang. Maka variabel pendapatan dalam rasio harga saham terhadap pendapatan (P/E Ratio) juga mungkin berubah, meski terlihat rasio ini sudah menyentuh level terendah dari rata-rata jangka panjang.

Selain itu, selama krisis keuangan global 2008, Indeks S&P500 anjlok nyaris 60 persen, dua kali lipat penurunan sepanjang penyebaran covid-19 ini. Maka, jika krisis akibat virus corona ini bisa lebih buruk daripada krisis 2008, masih ada kemungkinan pasar turun lebih dalam lagi.

"Tetapi harapannya, kondisi ini tidak bertahan lama. Ini bukanlah krisis keuangan ketika sistem perbankan hancur dan rumah tangga harus menanggung utang bertahun-tahun. Belanja konsumen akan lebih cepat kembali setelah covid-19 mencapai puncak," ujar Vikram.

Pranay Gupta, seorang profesor di Nanyang Technological University, Singapura juga menilai tidak ada yang tahu kapan pasar akan turun hingga menyentuh dasarnya (bottom) sebelum kembali naik. Namun, kita bisa mulai membuat daftar aset untuk dibeli.

"Buat investor saham, pilihlah saham blue chips, jangan saham spekulatif. Dan bila Anda investor reksadana, pastikan Anda berinvestasi dengan manajer investasi besar dengan berbagai jenis portofolio," pesan Gupta.

Menurutnya, manajer investasi besar yang memiliki sumber daya cukup bisa menyediakan produk reksadana tradisional yang dikelola aktif, tetapi juga yang pasif, kuantitatif dan strategi alternatif. Sehingga, manajer investasi semacam ini cocok untuk mengelola dana investor di tengah turbulensi ekonomi saat ini.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.