Defisit Neraca Dagang Diprediksi Membaik, Meskipun Ekspor Masih Tumbuh Melambat

Bareksa • 14 Mar 2019

an image
Mobil Bea dan Cukai melintas di lapangan penumpukan kontainer PT Terminal Petikemas Surabaya, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Defisit perdagangan Indonesia untuk bulan Februari 2019 akan dirilis BPS besok (15/3)

Bareksa.com - Defisit perdagangan Indonesia untuk bulan Februari 2019 yang akan dirilis besok (15/3) diperkirakan membaik. Konsensus memperkirakan neraca perdagangan masih menghasilkan defisit, meskipun lebih kecil menjadi US$700 juta di Feb19 (vs US$1,16 miliar pada Januari 2019).

Secara khusus, pertumbuhan ekspor diperkirakan masih tumbuh lebih rendah dari impor, masing-masing -6,8 persen YoY dan -2,2 persen YoY. Kontraksi impor yang lebih dalam mungkin terjadi, setelah turun 2,2 persen YoY dan 1,8 persen YoY pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan data Statistik China, untuk pertama kalinya dalam 17 bulan, ekspor China ke Indonesia turun tajam hingga -25,6 persen YoY, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan PMI China berada di bawah level kontraksi di 49,9 pada Februari 2019. Padahal ekspor China ke Indonesia naik 20,2 persen YoY pada Januari 2019. Selain itu, harga minyak masih turun 2 persen.

Historikal Trade Balance Indonesia (US$ Juta)

Sumber : Bareksa.com

Konsensus memperkirakan ekspor turun 6,8 persen YoY dari -4,7 persen YoY di bulan sebelumnya. Harga komoditas masih mencatat kontraksi, seperti batu bara (-7,7 persen YoY), CPO (-16,1 persen), dan karet (-5,8 persen).

Volume ekspor cenderung mereda, dan aktivitas manufaktur di Indonesia tujuan ekspor utama seperti Jepang dan AS mungkin telah turun, karena Indeks manufaktur PMI di Februari 2019 tercatat lebih rendah.

Konsensus juga memperkirakan bahwa CAD akan mencapai -2,8 persen dari PDB pada Tahun 2019, lebih tinggi dari ambang batas tolok ukur -2,5 persen dari PDB. Risiko di sisi akun saat ini kini telah bergeser dari impor ke ekspor, karena perlambatan pertumbuhan global.

Dari sisi global, The Fed yang lebih dovish, dan penyelesaian potensial dalam sengketa perdagangan China dengan AS akan memberikan lebih banyak katalis positif ke depan. Peristiwa penting berikutnya yang akan terjadi adalah pertemuan FOMC pada 21 Maret 2019, terutama tentang potensi dot plot yang diperkirakan masih belum akan menaikkan tingkat suku bunga AS dalam waktu dekat.

Pada tingkat kebijakan, Tim Analisis Bareksa melihat BI akan mempertahankan posisinya untuk mengelola stabilitas, sementara menetapkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung likuiditas.

(AM)