Berita Hari Ini : BUMN Kaji Rilis Green Bond, SSMS Siap Bangun Pabrik Biodiesel

Bareksa • 20 Feb 2019

an image
Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro dalam acara pencatatan obligasi PT Pelindo IV di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 5 Juli 2018

SSIA-JSMR bentuk usaha patungan, capex GMFI US$86 juta, laba MLBI tertekan 7,35 persen, penjualan ELSA naik 33 persen

Bareksa.com - Berikut adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal, dan aksi korporasi yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu, 20 Februari 2019 :

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)

Dukungan penggunaan minyak kelapa sawit sebagai sumber bahan bakar alternatif berupa biodiesel oleh dua calon presiden (capres) yang akan berlaga di Pemilu 2019, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto nampaknya menjadi angin segar bagi emiten perkebunan kelapa sawit.

Tak terkecuali bagi PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Emiten perkebunan kelapa sawit yang berbasis di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah ini diketahui mulai menyiapkan diri untuk menjadi produsen biodiesel.

Head of Corporate Secretary Sawit Sumbermas Sarana Swasti Kartikaningtyas menyatakan pihaknya saat ini sedang menyiapkan pembangunan pabrik biodiesel yang berlokasi di area perkebunan yang ada berada di Pangkalan Bun.

“Akan kami kembangkan, kemungkinan akhir tahun depan” kata dia ketika dihubungi oleh Kontan.co.id, Selasa (19/2).

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA)

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) berencana membuat perusahaan patungan dengan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) di tahun ini. Rencananya, perusahaan patungan ini baru dapat dieksekusi pada semester II 2019.

Head of Investor Relations PT Surya Semesta Internusa Tbk, Erlin Budiman, mengatakan saat ini perusahaannya tengah menunggu proses tender jalan tol akses Patimban dari pemerintah. Untuk konsesi akses jalan tol tersebut, SSIA akan menggandeng PT Jasa Marga (JSMR).

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI)

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) menyiapkan belanja modal US$86 juta tahun ini. Dana itu untuk mendukung bisnis perusahaan saat ini.

Corporate Communication GMF Aeroasia Fidiarta Andika menjelaskan pihaknya sudah menyiapkan beberapa rencana ekspansi di tahun ini dengan belanja modal tersebut. Untuk organik, dana itu akan digunakan untuk peningkatan infrastruktur information and communication technology (ICT).

"Selain itu juga pengembangan kapabilitas untuk perawatan Airbus A320 NEO dan pengembangan kapabilitas Boeing B737 Max," katanya seperti dikutip Kontan.co.id pada Selasa (19/2)..

Kementerian BUMN Kaji Pendanaan Alternatif

Kementerian Badan Usaha Milik Negara menyebut tengah mengkaji instrumen pendanaan melalui lewat penerbitan cross border sekuritisasi dan obligasi hijau atau green bond.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro mengatakan dua instrumen tersebut menjadi terobosan terbaru yang akan ditempuh oleh perseroan pelat merah.

Untuk instrumen green bond misalnya, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) disebut memiliki karakteristik bisnis yang cocok untuk emisi instrumen tersebut.

“PLN kami dorong bisa cari instrumen pembiayan yang green comply karena cocok untuk proyek-proyek seperti energi baru dan terbarukan atau renewable energy,” ujarnya di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Selain untuk memenuhi komitmen terhadap isu perubahan iklim, Aloysius mengatakan instrumen green bond memiliki captive investor. Artinya, pemegang modal tersebut memang fokus ke dalam skema pembiayaan tersebut.

PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI)

Emiten minuman beralkohol PT Multi Bintang Indonesia Tbk mencatatkan pertumbuhan penjualan 7,67 persen meski perolehan laba bersih tertekan 7,35 persen sepanjang 2018.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia Selasa (19/2/2019), emiten dengan kode saham MLBI itu membukukan penjualan Rp3,65 triliun pada 2018. Perolehan ini naik 7,67 persen dibandingkan dengan penjualan pada 2017 yang sebesar Rp3,39 triliun.

Beban pokok penjualan tercatat Rp1,19 triliun pada tahun lalu, naik 6,16 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp1,12 triliun. Lebih lanjut, beban penjualan Rp610,69 miliar, beban umum dan administrasi Rp198,77 miliar, beban keuangan Rp34,16 miliar, beban pajak penghasilan Rp447,11 miliar.

Dengan demikian, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke entitas induk Rp1,22 triliun pada 2018, turun 7,35 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp1,32 triliun.

PT Elnusa Tbk (ELSA)

Emiten jasa minyak dan gas, PT Elnusa Tbk (ELSA) mengantongi laba bersih sepanjang tahun 2018 naik 11,08 persen menjadi Rp276,31 miliar dari tahun 2017 yang sebesar Rp247,14 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan ELSA, kenaikan laba bersih ini didorong oleh pendapatan perusahaan yang mencapai Rp6,62 triliun atau naik 33,05 persen dari pendapatan tahun sebelumnya Rp4,97 triliun.

Dengan demikian, jumlah laba per saham juga naik secara year on year (yoY) menjadi Rp37,86 per saham dari sebelumnya Rp33,86 per saham. Jumlah kas dan setara kas turun menjadi Rp719,45 miliar pada akhir tahun lalu, dari 2017 yang sebesar Rp 902,58 miliar.

Meski demikian jumlah aset lancar naik menjadi Rp3,15 triliun dan aset tak lancar senilai Rp2,49 triliun, menjadikan total aset bernilai Rp5,65 triliun.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo)

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) hingga 18 Februari telah menerima mandat pemeringkatan untuk surat utang dengan nilai mencapai Rp28,09 triliun. Jumlah tersebut didominasi oleh surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) dengan nilai mencapai Rp9,85 triliun.

SVP Financial Institution Ratings Division Pefindo Hendro Utomo mengatakan pemeringkatan utuk MTN di awal ini cukup tinggi nilainya jika dibandingkan dengan jenis surat utang lainnya.

Salah satunya disebabkan karena kondisi suku bunga saat ini yang terbilang tinggi sementara MTN memberikan kemudahan dengan skemanya yang lebih fleksibel dibandingkan dengan obligasi.

(AM)