Teknikal dan Fundamental JSMR : Pendapatan Melonjak, Ini Prospek Harga Sahamnya

Bareksa • 20 Jul 2018

an image
Antrian kendaraan saat transaksi di Gerbang Tol Cibubur, Jakarta TImur, Kamis (31/8). PT Jasa Marga Persero berencana akan menambahkan 30 Gardu Top Up E-money dari yang semula hanya 15 gardu, guna memperlancar penerapan sistem transaksi non tunai yang akan mulai diujicoba pada September 2017. (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)

Saham JSMR kemarin ditutup melonjak 4,98 persen berakhir di level Rp5.050

Bareksa.com - Harga saham PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) pada perdagangan Kamis, 19 Juli 2018, ditutup melonjak 4,98 persen dengan berakhir di level Rp5.050 per saham. Saham JSMR bergerak atraktif pada perdagangan kemarin dengan ditransaksikan sebanyak 3.801 kali dengan nilai transaksi Rp75,20 miliar.

Berdasarkan aktivitas broker summary, anggota bursa yang menempati jajaran top buyer atau sebagai pembeli terbanyak saham JSMR pada perdagangan kemarin antara lain Mandiri Sekuritas (CC) dengan nilai pembelian Rp39,75 miliar, kemudian Mirae Asset Sekuritas (YP) Rp15,26 miliar, dan CLSA Sekuritas (KZ) Rp6,8 miliar.

Ketiga broker tersebut masing-masing berkontribusi terhadap nilai total transaksi saham JSMR yaitu 52,86 persen, 20,29 persen, dan 9,04 persen.

Kinerja Positif di Semester I 2018

Kinerja Jasa Marga makin mulus di semester satu tahun ini. Emiten jalan tol pelat merah ini berhasil membukukan pendapatan total Rp18,66 triliun di enam bulan pertama 2018.

Angka tersebut meroket 42,5 persen dibanding pendapatan di periode yang sama tahun lalu Rp13,1 triliun. Kenaikan pendapatan ditopang kenaikan pendapatan tol dan usaha lainnya 6 persen, dari Rp4,53 triliun pada semester I 2017 menjadi Rp4,79 triliun pada semester I 2018.

Pendapatan tol memberi kontribusi paling besar, yakni sekitar 8,91 persen atau setara Rp4,34 triliun. Pendapatan tol ini disumbang oleh pendapatan tol induk sebesar Rp3,78 triliun, naik 5,19 persen dari tahun sebelumnya. Sementara pendapatan tol anak usaha mencapai Rp561,43 miliar, naik sekitar 43 persen dari posisi di 2017.

Laba bersih JSMR semester I 2018 tercatat Rp1,05 triliun. Angka tersebut naik 2,9 persen dibanding periode yang sama di 2017.

"Laba bersih tetap terjaga, seiring dengan mulai beroperasinya ruas tol baru," ujar Agus Setiawan, Sekretaris Perusahaan JSMR, Rabu (18/7) seperti dilansir Kontan.

Hingga akhir Juli 2018, JSMR telah mengoperasikan sejumlah ruas tol baru. Di antaranya yakni Jalan Tol Ngawi-Kertosono Seksi Ngawi - Wilangan sepanjang 48 kilometer (km), Tol Solo - Ngawi Seksi Ngawi - Klitik sepanjang 4 kilometer dan Tol Bogor Ring Road Seksi 2B sepanjang 2,65 kilometer.

Selain itu ada juga Jalan Tol Gempol - Pasuruan Seksi Rembang - Pasuruan sepanjang 6,6 kilometer dan Jalan Tol Solo - Ngawi Seksi Kartasura - Sragen sepanjang 35,22 kilometer.

Saat ini, total panjang jalan tol JSMR yang telah beroperasi mencapai 776 kilometer. Targetnya, Jasa Marga bisa mengoperasikan 1.000 kilometer hingga awal 2019.

"Ruas jalan tol baru menyumbang pertumbuhan aset dari sisi hak pengusahaan jalan tol, mencapai Rp69,58 triliun, meningkat 24,34 persen dari 2017," tutur Agus.

Tapi perlu dicermati, pertumbuhan laba bersih perusahaan pengelola jalan tol ini di semester satu lalu terhitung tipis. Ini terjadi lantaran total beban pendapatan perseroan naik 48 persen menjadi Rp15,77 triliun. Di 2017, beban pendapatan tercatat Rp10,61 triliun.

Beban terbesar datang dari pendapatan konstruksi yang meningkat 61,8 persen jadi Rp13,7 triliun, dari sebelumnya Rp8,5 triliun. "Beban ini merupakan konsekuensi dari aktivitas pembangunan 18 ruas jalan tol yang tengah dikerjakan," papar Agus.

Maklum, JSMR tengah membangun 18 ruas tol baru. Agus mengatakan sebagai badan usaha, JSMR diperkenankan mengambil margin dari aktivitas konstruksi di kisaran 0 - 3 persen, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Mengurangi beban

Untuk mengatasi tingginya beban, JSMR terus melakukan efisiensi, sehingga bisa menjaga margin pendapatan. Dalam laporan keuangannya, tercatat beban pendapatan tol dan usaha lainnya terpangkas 5 persen. Pada semester pertama 2018, beban tercatat turun jadi Rp1,9 triliun, dari Rp2,1 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Meski penurunannya kecil, pendapatan tol dan usaha lainnya tercatat mengalami pertumbuhan sekitar 5,76 persen. Penurunan beban ini disumbang oleh sistem pembayaran  elektronik yang diterapkan di gardu tol. "Program elektronifikasi mengurangi beban, tetapi pendapatan tidak berkurang," kata Agus.

Agus menambahkan jumlah gardu yang beroperasi juga mempengaruhi penggunaan kertas yang digunakan dan peralatan yang harus dipelihara. Elektronifikasi ini juga berpengaruh pada jumlah petugas penjaga gardu yang harus dipekerjakan.

Analisis Teknikal Saham JSMR


Sumber : Bareksa

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal candle saham JSMR pada perdagangan kemarin membentuk bullish candle dengan body yang besar menggambarkan saham ini bergerak positif dalam rentang yang lebar hingga ditutup satu tick di bawah level tertingginya.

Volume perdagangan saham JSMR kemarin terpantau menunjukkan lonjakan signifikan menandakan adanya akumulasi beli yang besar pada saham ini.

Selain itu, saham JSMR telah terkonfirmasi membentuk pola double bottom yang mengindikasikan sinyal pembalikan arah, serta posisi MA 5 yang sudah berada di atas MA 20 dan MA 60.

Kemudian indikator relative strength index (RSI) terlihat bergerak naik mengindikasikan sinyal kenaikan yang kuat dengan potensi target terdekat di resisten pada level Rp5.450.

(AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.