Berita Hari Ini : Produksi Batu Bara Semester I 163 Juta Ton, Asing Masuk di SUN

Bareksa • 13 Jul 2018

an image
Pertambangan Sejumlah kapal yang membawa batu bara melintasi Sungai Mahakam, Samarinda, Minggu (31/12). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target produksi batubara tahun 2018 sebesar 477 juta ton akan melampaui target produksi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Penawaran KIK EBA GIAA diperpanjang, Investasi masuk ke sektor hulu, BBCA gandeng Avaya

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal, dan aksi korporasi yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat, 13 Juli 2018 :

Produksi Batu Bara

Hingga akhir semester I 2018, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batubara nasional baru mencapai 163,44 juta ton. Angka ini berarti baru merealisasi 33,7 persen dari target produksi batu bara nasional pada tahun ini 485 juta ton. Pencapaian produksi batu bara nasional di semester I 2018 tumbuh 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu 139 juta ton.

Mengutip Kontan, Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM, Agung Pribadi, menyatakan pencapaian produksi nasional masih rendah karena pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di daerah belum sepenuhnya melaporkan volume produksi batubaranya hingga Juni lalu.

"Jumlah itu (163,44 juta ton) belum angka realisasi. Biasanya laporan IUP di daerah delay bisa sampai tiga bulan,” ujar dia.

Dana Asing di SUN

Walau masih rentan terhadap berbagai tekanan, investor asing mulai kembali melirik pasar obligasi Indonesia. Ini terwujud oleh arus asing yang kembali masuk sepanjang Juli.

Mengutip data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, per 11 Juli 2018, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp835,42 triliun. Artinya, sepanjang Juli, dana asing yang masuk mencapai Rp5,25 triliun. Mengingat porsi asing di akhir Juni lalu hanya sebesar Rp830,17 triliun.

Sebagai catatan, kemarin, yield SUN seri acuan tenor 10 tahun bertengger di level 7,46 persen. Di saat yang sama, yield US Treasury tenor 10 tahun berada di posisi 2,85 persen. Artinya, spread kedua surat utang tersebut mencapai 461 basis poin (bps).

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA)

Masa penawaran awal atau bookbuilding Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dengan jumlah pokok sebanyak-banyaknya Rp4 triliun diperpanjang hingga 19 Juli 2018.

Mengutip Bisnis Indonesia, Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi, Endang Astharanti, mengatakan saat ini masih dilakukan bookbuilding untuk EBA Mandiri GIAA01. Awalnya, tahapan tersebut ditargetkan rampung pada 6 Juli 2018. “Diperpanjang sampai dengan 19 Juli 2018,” ujarnya.

Astharanti mengklaim struktur produk dan kupon EBA Mandiri GIAA01 terbilang menarik. Instrumen tersebut memiliki underlying asset berupa surat berharga hak pendapatan atas penjualan tiket Garuda Indonesia rute Indonesia - Jeddah - Madinah.

Minat Investasi di Sektor Hulu

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melihat minat investasi di industri hulu padat modal kian menunjukkan pertumbuhan yang baik hingga tahun depan.

Mengutip Bisnis Indonesia, Kepala BKPM Thomas T. Lembong menuturkan, industri hulu umumnya fokus ke bahan baku yang selama ini masih banyak diimpor oleh pasar dalam negeri. Adapun, industri hulu yang minatnya kian meningkat pada tahun ini dan tahun depan adalah industri besi baja.

“Tahun ini hingga tahun depan, saya lihat minatnya ke arah industri hulu padat modal untuk melengkapi industri hilir, contohnya besi baja,” ungkap Thomas.

Besi baja tersebut akan memasok barang setengah jadi (intermediate goods) bagi industri konstruksi atau peralatan rumah tangga. Sayangnya, tren ini akan terganjal oleh faktor politik dan nilai tukar.

Menurut Thomas, pergerakan investasi di dalam negeri dalam 20 tahun terakhir umumnya akan mengalami perlambatan 1 tahun jelang pemilu. Namun, realisasinya akan meningkat tajam setelah pemilu.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Avaya menyediakan solusi teknologi digital untuk seluruh layanan pelanggan PT Bank Central Asia Tbk. Avaya Holdings mengumumkan kemitraan dengan BCA. BCA mengadopsi seluruh solusi Avaya di lima pusat pelayanan pelanggan (contact centre) dengan lebih 1.500 agen pelanggan.

Beberapa solusi yang disediakan Avaya adalah layanan video perbankan MyBCA dan layanan asisten virtual yang memanfaatkan teknologi bot untuk mengefi sienkan fungsi layanan pelanggan bernama Vira.

Mengutip Bisnis Indonesia, Executive Vice President of Center of Digital Division BCA, Nathalya Wani Sabu, mengatakan saat ini perilaku mayoritas konsumen sudah mengarah ke digital dan mulai meninggalkan cara-cara konvensional. Bahkan, data terbaru BCA menyebut 97 persen transaksi mereka saat ini berasal dari internet banking, sangat jauh dibandingkan dengan transaksi di cabang yang hanya 3 persen.

PT ABM Investama Tbk (ABMM)

Cita-cita tentu boleh setinggi langit, tapi implementasinya belum tentu bisa mulus. Meski mengaku siap pendanaan, hingga kini upaya mencari lokasi tambang batu bara baru belum kesampaian. Padahal, ABM Investama memiliki daftar yang berisi titik-titik potensial lokasi tambang batu bara. Kabar terbaru, mereka telah mengebor sebuah lokasi di wilayah Kalimantan.

"Hasilnya, reserved (cadangan batubara) di sana tidak cukup, tidak ekonomis, maka kami pull out," ungkap Adrian Erlangga, Direktur Keuangan PT ABM Investama Tbk, seperti dikutip Kontan.

ABM Investama bertekad mencari cadangan batu bara sekitar 25 juta ton hingga 100 juta ton. Perusahaan berkode saham ABMM di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut juga mensyaratkan jenis batu bara berkalori di atas 4.000 kilo kalori (kkal).

(AM)