Melemahnya Konsumsi Rumah Tangga Perlu Diperhatikan, Kenapa?

Bareksa • 08 Nov 2017

an image
A mother puts her kids in a trolley while shopping at a supermarket in Jakarta, Indonesia, May 13, 2015. Indonesia's finance minister said on Wednesday economic growth of 5.4 percent is more realistic for this year than the government's target of 5.7 percent. REUTERS/Beawiharta

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal III-2017 hanya 4,93 persen

Bareksa.com - Institute For Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemerintah perlu memperhatikan melemahnya tingkat konsumsi rumah tangga di kuartal III-2017 yang hanya 4,93 persen atau menurun dibandingkan dengan kuartal II-2017 dan kuartal III-2016. Pada kuartal II-2017, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01 persen dan kuartal III-2016 tumbuh 4,95 persen.

Ekonom Indef Enny  Sri Hartati meminta pemerintah perlu mencermati pelemahan tingkat konsumsi rumah tangga. Pasalnya, tingkat konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perlu ada upaya agar tingkat konsumsi bisa kembali menguat di masa-masa mendatang.

"Seolah-olah hanya turun 0,01 persen tapi lihat kontribusi konsumsi rumah tangga itu lebih dari 50 persen (terhadap pertumbuhan ekonomi). Jadi, penurunan itu signifikan sekali bagi pertumbuhan ekonomi. Apalagi, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia itu dominanya ada dua, yakni konsumsi rumah tangga dan investasi," kata Enny, Selasa 7 November 2017.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Aviliani menyebut pemerataan pertumbuhan ekonomi harus bisa dimaksimalkan oleh pemerintah agar tingkat kesejahteraan bisa terasa di seluruh wilayah di Indonesia. Kondisi itu penting dilakukan meski pertumbuhan ekonomi mencapai 5,06 persen di kuartal III-2017.

"Dari sisi pertumbuhan ekonomi bagus tapi dari sisi 'kue' atau pemerataan itu memang 'kuenya' belum tersebar. Infrastruktur itu spesialis dan tidak dimiliki banyak pihak. Karenanya World Bank menyebut diikutsertakan swasta selain BUMN agar 'kue' menyebar," kata Aviliani.

Selain itu, lanjut Aviliani, hal lain yang menjadi sorotan dari pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2017 yang tetap tinggi adalah persoalan daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat. Aviliani tidak menampik daya beli masyarakat tidak menurun tapi sayangnya tingkat konsumsi melemah.

"Kedua terkait konsumsi. Daya beli tidak menurun tapi tingkat konsumsi masyarakat menurun. Jadi bagaimana konsumsi itu bisa dikembalikan," kata Aviliani.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya melansir Indonesia berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku triwulan III- 2017 mencapai Rp3.502,3 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.551,5 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan III-2017 terhadap triwulan III-2016 (yo-y) tumbuh 5,06 persen.

Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 9,45 persen. Dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 17,27 persen.

Ekonomi Indonesia triwulan III-2017 terhadap triwulan sebelumnya (q-to-q) tumbuh 3,18 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 5,32 persen, sedangkan dari sisi Pengeluaran pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 9,07 persen.

Ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III-2017 (c-to-c) tumbuh 5,03 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,80 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran terutama didorong oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang tumbuh 9,79 persen. (K03)