Total Simpanan Terus Naik Tembus Rp 5 ribu Triliun, Apakah Daya Beli Melemah?

Bareksa • 03 Aug 2017

an image
Petugas memeriksa uang rupiah di 'cash center' Plaza Mandiri, Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Total simpanan di bank terus bertumbuh dari Rp 3 ribu triliun di 2012 menjadi Rp 5 ribu triliun di pertengahan 2017

Bareksa.com – Berhembus kabar perekonomian Indonesia tengah berada dalam kondisi lesu. Kabar itu ditandai dengan sepinya pusat-pusat perbelanjaan serta menurunnya harga saham perusahaan di sektor ritel.

Dari sisi pasar modal, hal ini juga berdampak terhadap turunnya harga beberapa saham yang bergerak di sektor ritel. Menurut pantauan Bareksa, dari 4 saham perusahaan retail yang banyak ditransaksikan di sektornya, hanya satu perusahaan yang mampu bergerak positif tahun ini. Keempat perusahaan tersebut antara lain, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), dan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Mengutip Republika, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebutkan bahwa belanja masyarakat di sektor ritel pada Lebaran 2017 ini tidak seagresif tahun lalu. Ketua Umum Kadin, Rosan P Roeslani memberi contoh, pertumbuhan permintaan untuk produk makanan dan minuman saja bisa melonjak hingga 50 persen pada Lebaran tahun lalu, dibanding hari biasa. Namun, pada Lebaran ini, permintaan atas produk serupa hanya meningkat 10 persen dibanding hari biasa.

"Nah, duit itu ada, tapi mereka tidak membelanjakan seagresif tahun lalu. Orang belanja juga tidak seagresif tahun sebelumnya," ujar Rosan.

Grafik : Pergerakan 4 Saham Retail year to date

Sumber : Bareksa.com

Menurut analis Bareksa, kontribusi inflasi di 2017 terbilang menarik. Sebab beberapa angka inflasi justru berasal dari kenaikan biaya urus surat tanda nomor kendaraan (STNK) serta pelepasan subsidi listrik secara bertahap yang berdampak pada naiknya tari sewa listrik. Terakhir di bulan Juli 2017, angka inflasi tertinggi berasal dari biaya pendidikan mengingat di bulan tersebut merupakan tahun ajaran baru.

Sehingga dari faktor kontribusi inflasi saja bisa dilihat adanya gejala menunda belanja di kalangan masyarakat menengah hingga menengah atas. Kalangan masyarakat tersebut lebih berhati-hati dalam membelanjakan dana mereka. Untuk memperkuat pernyataan bahwa masyarakat saat ini cenderung menahan diri untuk berbelanja, terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak ketiga (DPK) yang terus bertumbuh di perbankan Indonesia.

Grafik : Pertumbuhan DPK di Bank Konvensional per Mei 2017 (Rp Triliun)

Sumber : OJK, diolah Bareksa

Berdasarkan grafik tersebut, total dana pihak ketiga (DPK) perbankan konvensional di Indonesia tembus Rp 5 ribu triliun. Angka tersebut merupakan sejarah tertinggi bagi perbankan di Indonesia di mana total penyimpanan terus bertumbuh dari Rp 3 ribu triliun di 2012 menjadi Rp 5 ribu triliun di pertengahan Tahun 2017 atau secara rata-rata dalam 5 tahun terakhir, DPK Indonesia bertumbuh 8,44 persen.

DPK merupakan salah satu sumber pendanaan perbankan untuk kemudian disalurkan dalam bentuk kredit. Namun, pertumbuhan likuiditas DPK ini tidak diikuti oleh membaiknya pertumbuhan penyaluran kredit yang terbilang lebih rendah pertumbuhannya dibanding dengan pertumbuhan DPK.

Grafik : Pertumbuhan Penyaluran Kredit

Sumber : OJK, diolah Bareksa

Kepala BKPM, Thomas T Lembong, mengatakan angka penurunan penjualan ritel yang terjadi cukup besar dan mengkhawatirkan. Biasanya, angka penjualan ritel per tahun bisa tumbuh sampai ke kisaran 12- 14 persen. Tapi, saat ini angka pertumbuhan penjualan retail hanya mencapai 3 persen.

BKPM khawatir gejala tersebut muncul akibat adanya pola pergeseran struktur investasi. Investasi yang selama ini banyak mengalir ke sektor padat karya mulai bergeser ke sektor padat modal. Kekhawatiran tersebut didasarkannya pada iklim investasi di dalam negeri yang belakangan ini yang banyak diganggu oleh lahirnya aturan penghambat investasi.