MARKET FLASH: SILO Alokasikan Capex US$100 Juta; Telkom Bangun 2.000 Menara Baru

Bareksa • 24 Mar 2016

an image
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi. (Company)

BBRI bagi dividen Rp7,61 triliun; BSDE menang tender tol Serpong-Balaraja

Bareksa.com - Berikut sejumlah berita korporasi dan pasar modal yang dirangkum dari surat kabar nasional:

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)

SILO mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$100 - 110 juta pada tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk mendirikan tujuh rumah sakit baru dan 13 klinik Siloam Medika.

Sebanyak US$70 juta sumber pendanaan berasal dari kas internal dan sisanya dari pinjaman induk usaha, yaitu PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). Belanja modal belum termasuk tanah dan bangunan karena aset tersebut merupakan properti Grup Lippo.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom

Telkom melalui anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), menyiapkan anggaran Rp2,2 triliun untuk ekspansi menara telekomunikasi tahun ini. Ekspansi tersebut termasuk pembangunan 2.000 menara makro dan mikro.

Anggaran yang dipersiapkan lebih besar 22 persen dibanding realisasi tahun lalu Rp1,8 triliun. Sumber dana ekspansi tahun ini berasal dari pinjaman bank dan domestik. Mitratel menargetkan pertambahan 3.000 penyewa menara baru tahun ini. Jumlah tenant per Februari 2016 sebanyak 6.952.

PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merevisi outlook peringkat tiga perusahaan perkebunan kelapa sawit terafiliasi Golden Agri Resources Ltd, yaitu SMAR, PT Ivo Mas Tunggal, dan PT Sawit Mas Sejahtera. Penurunan outlook peringkat karena tekanan harga komoditas dari stabil menjadi negatif.

Peringkat tiga perusahaan tersebut masih ditegaskan pada level AA (idn). Pada saat yang sama peringkat obligasi jangka panjang SMAR senilai Rp1 triliun jatuh tempo 2017 dan 2019 ditetapkan pada AA (idn). Fitch menurunkan outlook seiring dengan peningkatan leverage Golden Agri.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)

Konsorsium BSDE berhasil mengungguli konsorsium PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) dalam penilaian tender proyek jalan tol Serpong-Balaraja oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Sebelumnya, BPJT melakukan kesalahan ketik fatal pada pemberitahuan resmi hasil penilaian tersebut. BSDE masih menunggu pemberitahuan final BPJT pekan depan.

Dalam konsorsium, BSDE mengincar kepemilikan hingga 50 persen saham, sedangkan PT Astratel Nusantara yang merupakan anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) meningcar 25 persen dan sisanya PT Transindo Karya Investama. Meskipun anggaran masih dihitung, sebelumnya konsorsium BSDE memperkirakan investasi ruas Serpong-Balaraja sepanjang 31 kilometer mencapai Rp6,03 triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

BBRI membagi dividen sebesar 30 persen laba bersih tahun lalu, sesuai persetujuan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST). Total dividen Rp7,61 triliun atau Rp311,66 per saham.

RUPST juga menyetujui pengalihan saham dalam treasury untuk digunakan dalam program kepemilikan saham bagi manajemen dan pekerja. Sebagai informasi, BBRI sudah melakukan pembelian kembali (buyback) sejumlah 221,72 juta lembar saham pada 12 Oktober 2015-12 Januari 2016.

PT Rimo International Tbk (RIMO)

RIMO masih tetap berharap bisa menggelar rights issue. Padahal, emiten ini beberapa kali gagal menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) karena belum mendapat izin efektif Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Manajemen RIMO kembali mengeluarkan prospektus tambahan terkait rights issue tersebut, Rabu (23/3).

Emiten ini berencana kembali menggelar RUPS pada 28 Maret. Dalam prospektus, RIMO masih menargetkan penerbitan saham baru maksimal 28,39 miliar saham dengan harga penawaran Rp 265 per saham. Raihan dana untuk aksi korporasi ini mencapai Rp 7,5 triliun. Rasio HMETD adalah dua saham lama berbanding 167 HMETD.

 

Tags:
silo