
Bareksa.com - Menurunnya harga obligasi pada beberapa hari ini mendorong kenaikan pada yield obligasi. Yield obligasi mulai menunjukkan adanya kenaikan setelah menyentuh level terendah dalam setahun terakhir sebesar 7,7 persen pada awal Desember lalu. Hingga kemarin, yield obligasi benchmark 10 tahun terus meningkat hingga 8,01 persen.
Peningkatan pada yield obligasi seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Dalam pekan ini saja rupiah sempat sentuh level tertinggi sejak tahun 2008 silam di angka Rp12.400 per dolar Amerika.
Investor asing juga terlihat mulai melakukan penjualan. Hal ini tercermin dari turunnya nilai kepemilikan investor pada Surat Utang Negara yang diperdagangkan dari periode satu hingga delapan Desember sebanyak Rp7 triliun. Padahal pada awal Desember lalu, arus dana asing yang masuk pada pasar obligasi mencapai level tertinggi, yakni Rp482,2 triliun.
Grafik Arus Dana Asing pada Pasar Obligasi
Sumber : Bareksa.com
Bukan hanya nilai tukar rupiah yang mempengaruhi pergerakan obligasi, hasil dari The Fed Meeting yang akan diselenggarakan pada 18 Desember 2014 juga perlu dicermati. Pasalnya The Fed akan memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) atau tidak dalam jangka waktu dekat.
Jika The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan, ini akan mendorong kenaikan yield obligasi di Indonesia karena adanya penyesuaian spread (selisih) antara yield obligasi di Amerika dan Indonesia.(al)
Grafik Pergerakan Yield Obligasi
Sumber : Bareksa.com