Akankah rally IHSG kembali terulang pada Pemilu 2014 ?

Bareksa • 19 Mar 2014

an image
Diskusi efek pemilu 2014 dan piala dunia pada pasar modal dan perekonomian Indonesia

Dalam dua Pemilu terakhir, terjadi rally panjang kenaikan IHSG yang berlangsung selama 2 hingga 2,5 tahun.

Bareksa.com – Setelah Jokowi diumumkan menjadi calon presiden pada 14 Maret 2014 telah terjadi inflow dana asing ke pasar saham sebesar Rp 4,3 triliun dalam tiga hari terakhir perdagangan bursa. Menurut Jos Parengkuan, Direktur Utama PT Syailendra Capital dalam acara soft launching PT Bareksa Portal Investasi, Rabu 19 Maret 2014 di Jakarta,  manyampaikan bahwa hal tersebut terjadi karena tingkat ketidakpastian politik menurun jauh seiring dengan pencalonan Jokowi sebagai presiden. Dan Jokowi merupakan tokoh yang populer dimata masyarakat dan membawa harapan di mata publik termasuk investor asing bahwa jokowi dapat mengubah reformasi struktural yang membangun iklim investasi menjadi lebih kondusif.

Sejalan dengan pendapat Jos, berdasarkan hasil survey LSI yang dikemukakan dalam acara tersebut juga menyebutkan bahwa Jokowi masih berada di peringkat teratas. Survey terakhir yang diadakan LSI pada bulan Januari 2014 berdasarkan tren suara terbuka menunjukkan tingkat elektibilitas Jokowi mencapai 35 persen. Artinya jika hal ini benar maka diperkirakan pemilu hanya berlangsung satu kali putaran, sehingga risiko ketidakpastian politik menjadi berkurang.

Terdapat fakta menarik yang disampaikan oleh Jos bahwa dari dua pemilu terakhir, terjadi rally panjang kenaikan IHSG yang berlangsung selama 2 hingga 2,5 tahun dari sejak awal tahun pemilu. Rata-rata kenaikan IHSG dalam dua pemilu terakhir mencapai 150%, dari sejak awal tahun pemilu hingga ke level kenaikan tertingginya yang dicapai dalam rentang waktu 2 hingga 2,5 tahun.

Pada tahun 2004, ketika Presiden Susilo Bambang Yodhoyono, yang merupakan tokoh yang disukai masyarakat pada saat itu dicalonkan menjadi Presiden, dari pencalonan sampai akhir tahun 2004 terdapat inflow dana asing sebesar Rp 14 triliun . Dan sampai level tertingginya yakni pada 11 Mei 2006 masih terus mengalami inflow dana asing hingga Rp 46 triliun, sedangkan pada awal tahun 2004, nilai kapitalisasi pasar IHSG baru mencapai Rp 500 triliun, artinya total inflow dana asing hingga 11 Mei 2006 mencapai 9 persen dari nilai kapitalisasi pasar IHSG  awal tahun 2004.

Sedangkan pada tahun 2009, terjadi inflow dana asing sebesar Rp 14 triliun. Dan sampai level kenaikan tertinggi sebelum krisis Eropa yakni bulan September 2011 terjadi inflow dana asing yang mencapai Rp 51 triliun. Pada awal tahun 2009, nilai kapitalisasi pasar IHSG sebesar  Rp 1.086 triliun artinya total inflow hingga bulan September 2011 mencapai 4,7 persen dari nilai kapitalisasi pasar IHSG.

Kemudian jika kita lihat tahun 2014, total kapitaliasasi pasar IHSG pada awal tahun berada pada level Rp 4.215 triliun, jika kita menggunakan asumsi berdasarkan dua pemilu terakhir tersebut, untuk yang konservatif yakni terjadi inflow dana asing sebesar 2 persen dari kapitalisasi pasar IHSG di tahun 2014 maka diperkirakan akan terdapat inflow dana asing terhadap IHSG sekitar Rp 84 triliun. Dimana dari awal tahun hingga 18 Maret 2014, sudah terjadi inflow dana asing sebesar Rp 16 triliun, artinya masih ada perkiraan tambahan inflow dana asing sebesar Rp 68 triliun sampai akhir tahun jika tidak ada faktor – faktor lain yang menyebabkan terjadinya koreksi di pasar saham.


Grafik Pergerakan IHSG dan Arus Dana Asing di Pasar Saham
Sumber : Bareksa.com

Namun Jos juga memperingatkan investor bahwa masih terdapat resiko-resiko di pasar saham pada tahun ini. Dari segi politik sendiri, akan kembali terjadi ketidakpastian politik mengenai siapakah yang akan menjadi calon wakil presiden dari Jokowi.

Kemudian juga dari segi ekonomi, masih terdapat risiko eksternal dan internal. Risiko eksternal diantaranya, pertama mengenai bagaimana dampak  tapering  The Fed yang masih akan berlangsung sampai akhir tahun 2014, dan apakah pemulihan ekonomi Amerika cukup kuat tanpa adanya Quantitaitve Easing (QE) serta dapatkah Amerika menjaga level yield obligasinya bertahan di level saat ini. Kedua, adalah terkait ekonomi Cina yang masih dalam tahap konsolidasi  dan mulai terjadi gagal bayar kredit disektor manufaktur dan properti. Ketiga adalah faktor-faktor lain di beberapa negara berkembang, seperti risiko geopolitik yang terjadi di Ukraina. Sementara di internal, investor juga perlu mewaspadai bagaimana pengaruh larangan ekspor mineral serta penguatan kurs Rupiah terhadap neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia.

Berdasarkan data bareksa, valuasi pasar saat ini masih berada pada level yang masih layak beli dimana PER IHSG per 18 Maret 2014 baru mencapai level 13,86 x dibawah rata-rata PER IHSG dalam 8 tahun terakhir yakni  level 15 x.

Grafik PE Band IHSG
Sumber : bareksa.com


Menurut Jos, IHSG diperkirakan memiliki potensial kenaikan mencapai PER di level 17 x, artinya IHSG ditargetkan dapat mencapai level 5800. Tetapi untuk mengantisipasi risiko-risiko yang mungkin menyebabkan koreksi di pasar saham, Jos menyarankan untuk melakukan switching dari saham-saham yang valuasinya sudah tinggi ke valuasi yang lebih menarik seperti saham ASII, GGRM, BMRI, BBTN, ADHI, WSKT, SMGR, BWPT dan SIMP.