MAMI : Hadapi Fed Tapering, Ini yang Harus Dilakukan Investor

Abdul Malik • 24 Nov 2021

an image
Ilustrasi seroang investor sedang melihat logo Manulife melalui ponsel. (Shutterstock)

Menjelang akhir tahun, investor sebaiknya mengkaji kembali seluruh portofolio investasinya, seraya menimbang potensi dan risiko ke depannya

Bareksa.com - Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, resmi mengumumkan tapering akan dimulai awal Desember mendatang. Manulife Aset Manajemen Indonesia menilai berbeda dengan yang terjadi pada 2013, tapering atau program pengurangan pembelian aset kali ini berlangsung tanpa kejutan.

Program pembelian aset dari pasar finansial US$120 miliar per bulan, yang telah dilakukan sejak awal pandemi, akan mulai dikurangi US$15 miliar setiap bulannya. Tapering diperkirakan akan selesai pertengahan tahun 2022.

Chairman The Fed, Jerome Powell, telah memberikan sinyal sejak awal tahun sehingga pasar terlihat lebih antisipatif dan gejolak di pasar finansial dapat lebih diminimalkan.

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh investor menanggapi adanya tapering? Simak penjelasan Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) dalam keterangannya Rabu (24/11/2021), berikut ini.

Respons Positif Pasar

Freddy menyampaikan selain komunikasi yang baik, hal positif lainnya yang dilakukan The Fed kali ini adalah menyampaikan dengan jelas bahwa walaupun tapering mulai diimplementasi, kenaikan suku bunga belum akan dilakukan, setidaknya hingga proses tapering berakhir.

"Ini tentunya menjadi berita positif bagi pasar finansial dan memberikan kejelasan suku bunga akan tetap pada level akomodatif. Kondisi inilah yang membuat pasar obligasi global dan domestik cenderung stabil pasca pengumuman Fed tapering," kata Freddy.

Di sisi lain, pihaknya melihat perbaikan situasi pandemi di Indonesia yang jelas mendukung pemulihan ekonomi yang berkesinambungan.

"Keseimbangan strategi penanganan pandemi yang terukur (pelonggaran aktivitas sosial diiringi dengan laju vaksinasi yang ditingkatkan) oleh pemerintah, cukup berhasil mendorong kinerja ekonomi," jelasnya.

Menurutnya beberapa indikator seperti indeks mobilitas dan realisasi pendapatan negara terus melanjutkan tren pertumbuhan positif. Maka, jika target vaksinasi 70 persem populasi sasaran dapat tercapai pada akhir tahun 2021. Hal ini dapat menjadi katalis positif bagi pemulihan ekonomi yang lebih kuat di 2022.

Di sisi lain ia menyampaikan kuatnya kinerja ekspor Indonesia yang mencatatkan surplus berturut-turut selama 17 bulan terakhir - dengan posisi surplus tahun berjalan 2021 sampai bulan Oktober, juga tercatat sebagai yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir – membuat tekanan pada nilai tukar rupiah pun tidak setinggi pada periode tapering tahun 2013 lalu.

"Kondisi ini akan menjadi pondasi Indonesia mengarungi periode tapering yang akan datang," imbuhnya.

Meski begitu, ia mengingatkan, kita juga harus tetap mencermati potensi risiko yang ada. Memburuknya kembali kondisi pandemi di Eropa, disrupsi rantai pasokan global yang dapat meningkatkan inflasi, potensi miskomunikasi perubahan kebijakan moneter dan fiskal yang berpotensi menciptakan volatilitas pada suku bunga dan nilai tukar, semuanya itu akan dapat menjadi gangguan pada momentum pemulihan ekonomi.

"Untuk itulah menjelang akhir tahun ini, sebaiknya kita mengkaji kembali seluruh portofolio investasi kita, seraya menimbang-nimbang potensi dan risiko yang ada ke depannya," kata Freddy.

Lakukan Evaluasi

Freddy menyampaikan hal pertama yang harus dilakukan oleh investor adalah mengevaluasi seluruh aset pada portofolio investasinya saat ini.

"Arah pasar yang bergerak positif saat ini bisa dimanfaatkan oleh para investor untuk mencari peluang investasi terbaik yang sesuai dengan profil risiko masing-masing investor," kata dia.

Freddy menyampaikan evaluasi portofolio investasi sangat penting dilakukan, minimal sekali dalam setahun, untuk melihat apakah imbal hasil investasinya sudah on track dengan tujuan keuangan yang hendak dicapai.

"Pada masa awal pandemi, pasar cenderung bergerak volatil dan terkoreksi. Sedangkan saat ini, kondisi sudah membaik," kata dia.

Peluang di Pasar Obligasi dan Saham

Menurut Freddy, setelah dimulainya tapering, investor dapat memanfaatkan peluang investasi di pasar obligasi dan pasar saham yang menunjukkan tren pemulihan.

Sebagai gambaran, ia menyampaikan reksadana Manulife Saham Andalan (MSA) berhasil mencatatkan kinerja satu tahun terakhir naik 63,07 persen per akhir Oktober 2021, jauh melampaui tolok ukurnya (Indeks IDX80) yang naik 18,89 persen.

Pada periode yang sama, reksadana Manulife Obligasi Unggulan (MOU) mencatatkan kinerja satu tahun terakhir naik 8 persen, dua kali lipat dari tolok ukurnya (rata-rata bunga deposito 3 bulan di bank lokal +2 persen, net setelah pajak) yang sebesar 3,94 persen.

Setiap investor harus menentukan instrumen investasi yang paling sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasinya. Selalu lakukan diversifikasi untuk meminimalisir risiko dan memaksimalkan imbal hasil investasi Anda.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.