Tiga Pelajaran Penting dari Warren Buffett Soal Investasi di Masa Resesi

Abdul Malik • 25 Sep 2020

an image
Investor legendaris dan pemilik Berkshire Hathaway, Warren Buffett. (Twitter)

Kesediaan untuk membeli secara agresif selama terjadi aksi jual, menjadi faktor kunci kesuksesan Buffett

Bareksa.com - Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan ekonomi negara-negara di dunia porak poranda dan sebagian di antaranya sudah masuk jurang resesi. Tak luput ekonomi Indonesia juga diprediksi mengalami kontraksi tahun ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan ekonomi Indonesia di 2020 minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen. Prediksi minus itu lebih dalam dari proyeksi sebelumnya di kisaran minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen. Dia juga memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III minus 2,9 persen hingga minus 1,1 persen. Angka itu lebih dalam dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya, yang minus 2,1 persen hingga 0 persen.

Dengan prediksi tersebut, Indonesia dinilai akan masuk jurang resesi. Minusnya ekonomi Indonesia akibat pandemi Covid-19 tidak sendirian, sebab tercatat 45 negara di dunia sudah melaporkan kontraksi ekonomi mereka. Beberapa di antaranya sudah mengumumkan resesi sejak kuartal II 2020.

Di masa ekonomi sulit akibat pandemi ini, apa yang seharusnya dilakukan investor? Investor legendaris dunia dan CEO perusahaan investasi Berkshire Hathaway memiliki resep jitu bagi investor dalam menghadapi resesi.

Menurut Buffett ada tiga pelajaran penting dari resesi ekonomi. Berikut ulasannya sebagaimana dilansir The Motley Fool (3/9/2020) :

1. Beli Perusahaan Bagus di Harga Murah

"Sangat jauh lebih baik membeli perusahaan bagus di harga murah, dibandingkan perusahaan biasa di harga mahal," ungkap Buffett. Pernyataan Buffett ini adalah salah satu yang paling terkenal dan menjadi salah satu kebijaksaan investasi. Buffett menyarankan agar investor selalu melihat fundamental perusahaan yang bagus sebelum membeli sahamnya. Ini sangat penting dilakukan selama masa resesi. Artinya berinvestasilah di saham sebuah perusahaan yang memiliki dukungan bisnis yang kuat dan manfaat berkelanjutan.

Memang sangat mudah untuk melihat valuasi sebuah perusahaan dengan sejumlah indikator seperti dari sisi pendapatan, keuntungan, dan penjualannya. Namun hal ini bisa misleading, jika yang mendasari bisnisnya sedang berada dalam tren menurun dan tidak dapat diubah. Artinya pilihlah bisnis yang berkualitas. Karena itu pastikan untuk fokus mencari perusahaan yang bagus.

2. Masa Sulit Bisa Jadi Waktu Terbaik untuk Membeli

Kesediaan untuk membeli secara agresif selama terjadi aksi jual, menjadi faktor kunci kesuksesan Buffett dan Berkshire dalam menghadapi kehancuran pasar. "Berita buruk adalah teman terbaik investor. Itu memungkinkan mereka membeli sepotong masa depan Amerika saat harga sedang murah," ungkap Buffett.

Investor tidaklah salah jika meneliti lebih lanjut tentang resesi saat ini, tekanan pasar akibat Covid-19 dan pemberitaan-pemberitaan lainn yang mengakibatkan tekanan, juga mencari katalis penyebab volatilitas. Tentu saja investor memang harus mencari tahu apa saja faktor penyebab resesi kali ini. Namun dibandingkan resesi sebelumnya, kali ini pasar tampak lebih memiliki ketahanan terhadap resesi.

Covid-19 telah membuat pasar saham anjlok akibat aksi jual dramatis pada Maret lalu. Dengan situasi resesi saat ini, investor bisa terus melanjutkan mencari perusahaan yang bagus untuk berinvestasi jangka panjang di perusahaan yang kuat. Ada peluang bagus di mana perdagangan pasar tahun ini akan terus bergejolak, sehingga memberikan peluang bagi investor untuk mengambil posisi pada perusahaan yang memiliki prospek kuat namun kurang mendapatkan perhatian.

3. Lakukan Pendekatan Jangka Panjang untuk Investasi

Pernyataan Buffett ini sudah sangat terkenal, yakni waktu favoritnya untuk terus mempertahankan kepemilikan di saham sebuah perusahaan adalah selamanya. Karena itu fokuslah pada saham perusahaan yang akan sukses secara jangka panjang. Hal itu akan mendorong investor akan menetapkan kriteria yang lebih ketat pada investasinya dan mempertimbangkan potensi hasil yang beragam. Pendekatan beli untuk ditahan juga bisa mencegah investor kehilangan momen terbaik dari saham tersebut untuk memberikan keuntungan pasar yang lebih luas.

Buffett terkenal karena mampu mengalahkan kinerja indeks saham S&P 500, dan juga dikenal sebagai penggemar reksadana indeks karena keyakinannya bahwa pasar bisa menjadi kendaraan untuk meraih kekayaan jangka panjang. Misalkan kita berinvestasi pada exchange traded fund (ETF) SPDR S&P 500 ETF dalam 10 tahun terakhir ini, maka kita bisa meraup keuntungan 300 persen.

Jika sudah berinvestasi di ETF ini selama 30 tahun terakhir, maka imbal hasilnya sudah lebih dari 1.150 persen. Sementara saham kelas A Berkshire telah memberikan keuntungan lebih dari 2.400 persen untuk jangka waktu yang sama. Bahkan dengan pendekatan investasi yang konservatif pun, bisa memberikan keuntungan besar jika kita bersedia sabar.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.