Pasar Tunggu Keputusan The Fed, Reksadana Berkinerja Moncer Ini Bisa Dipilih

Abdul Malik • 11 Jan 2022

an image
Ilustrasi pasar saham dan obligasi bergejolak menanti kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed). Kondisi itu berpengaruh terhadap kinerja reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Pergerakan bursa saham Indonesia diprediksi akan bergerak terbatas karena pelaku pasar menunggu keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) hari ini soal peluang percepatan pengetatan kebijakan moneternya

Bareksa.com - Pergerakan bursa saham Indonesia diprediksi akan bergerak terbatas karena pelaku pasar menunggu keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) hari ini soal peluang percepatan pengetatan kebijakan moneternya, utamanya soal rencana penaikan suku bunga acuan (Fed Fund Rate). 

Potensi terbatasnya pergerakan pasar saham Tanah Air juga menyusul bursa saham regional Asia dibuka melemah pada sesi perdagangan pagi ini (11/1/2022).

Analisis Bareksa menilai investor masih bisa mempertimbangkan untuk kembali masuk ke reksadana berbasis saham apabila Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun menyentuh angka 6,500 - 6,600. Reksadana berbasis saham di antaranya reksadana saham, reksadana campuran dan reksadana indeks atau index fund. IHSG pada 10 Januari 2022 turun 0,15 persen ke level 6.691,12. 

Di sisi lain, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS pada perdagangan kemarin menurun di level 1,759 persen setelah sebelumnya sempat menyentuh 1,8 persen. Adapun yield obligasi Pemerintah Indonesia masih mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin menjadi 6,463 persen.

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 10/01/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 6,4 persen, pada 10 Januari 2022.

Analisis Bareksa melihat pelaku pasar yang masih menunggu testimoni dari Gubernur The Fed pada hari ini dan inflasi di AS yang diprediksi mencapai 7,1 persen, semakin menjadi pertanda bahwa Bank Sentral Negeri Paman Sam perlu mempercepat kenaikan suku bunga acuannya. 

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Di tengah pasar saham dan obligasi yang dibayangi sentimen keputusan The Fed tersebut, investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana campuran dengan kinerja moncer berikut ini :

Imbal Hasil 3 Tahun (per 10 Januari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 32,63 persen
Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A : 30,45 persen

Imbal Hasil 1 Tahun (per 10 Januari 2022)

Reksadana Saham

Manulife Saham Andalan : 17,33 persen
TRIM Syariah Saham : 7,73 persen

Reksadana Campuran

Jarvis Balance Fund : 49,85 persen
Sucorinvest Flexi Fund : 19,33 persen

Baca juga : Investasi Reksadana di Bareksa dapat OVO Poin dan Voucher GrabFood

***

Bareksa's Investor Navigator

Menurut analisis Bareksa, pada perdagangan hari ini kinerja reksadana berbasis pendapatan tetap berpotensi kembali menguat karena tekanan jual investor di SBN mulai mereda, serta kembali melemahnya yield obligasi AS.

Dari dalam negeri sendiri sentimen datang dari indeks keyakinan konsumen yang turun tipis menjadi 118,5 pada bulan Desember 2021. Analisis Bareksa melihat keyakinan konsumen penting untuk dijaga mengingat saat ini kasus Covid-19 di Indonesia saat ini sedang meningkat.

Pemerintah juga akan menjaga stabilitas kebijakan moneter dan fiskalnya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi pada tahun ini bisa mencapai 5 persen.

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.