Bareksa Insight: IHSG & Emas Naik, Harga Minyak Masih Tinggi, Cermati SBR015, Reksadana & Emas

Abdul Malik • 12 Oct 2026

an image
Ilustrasi investor memantau perkembangan pasar saham dan IHSG. (Shutterstock)

IHSG pulih 1,04% ke 6.093,76 pada Jumat (9/10) dan emas dunia naik 1,44%, tetapi harga minyak Brent masih 104,72 dolar AS per barel. Ini data, sinyal pasar, dan produk investasi yang dapat dicermati.

Bareksa - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 1,04% ke 6.093,76 pada Jumat (9/10/2026), pulih setelah turun 1,88% sehari sebelumnya, dan naik 0,94% dalam sepekan. Investor asing mencatat beli bersih Rp30,40 miliar pada hari itu (BEI). Emas dunia naik 1,44% ke 4.194,46 dolar AS per ons, sedangkan minyak Brent naik 0,42% ke 104,72 dolar AS per barel.

Ringkasan Penting untuk Investor

  • Yang terjadi: IHSG naik 1,04% ke 6.093,76, rupiah menguat tipis 0,08% ke Rp17.880 per dolar AS, emas dunia naik 1,44% ke 4.194,46 dolar AS per ons, dan imbal hasil SBN 10 tahun 7,237%.

  • Penyebab utama: tekanan global mereda. Menurut Kitco News, dolar AS melemah, imbal hasil obligasi AS turun dari level tinggi awal pekan, dan kekhawatiran serangan ke Iran berkurang; bursa AS dan Eropa ikut naik.

  • Yang perlu dicermati: data inflasi AS September (Rabu 14/10), data harga produsen AS (Kamis 15/10), rapat The Fed 28 Oktober (peluang naik bunga 18,3% menurut CME FedWatch), pemilu sela AS 3 November, keputusan MSCI November, dan Selat Hormuz.

  • Yang dapat dipertimbangkan: SBR015 (masa penawaran sampai 22 Oktober), reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap secara bertahap, reksadana campuran dicicil, dan emas, sesuai profil risiko.

Ringkasan Data Pasar

Indikator

Posisi 9 Okt 2026

Perubahan

IHSG

6.093,76

Naik 1,04% harian; naik 0,94% sepekan; turun 6,75% sejak 14/9

Rupiah (USD/IDR)

Rp17.880

Menguat 0,08% harian; melemah 0,04% sepekan; melemah 1,33% sejak 14/9

Emas dunia

US$4.194,46 per ons

Naik 1,44% harian; naik 1,24% sepekan; turun 2,43% sejak 14/9

Minyak Brent

US$104,72 per barel

Naik 0,42% harian; naik 2,42% sepekan; turun 0,91% sejak 14/9

Imbal hasil SBN 10 tahun

7,237%

Naik dari 7,236% (8/10); naik dari 7,159% (2/10); naik dari 7,156% (14/9)

Imbal hasil obligasi AS 10 tahun

5,244%

Naik dari 5,233% (8/10); turun dari 5,277% (2/10); naik dari 4,961% (14/9)

Peluang The Fed naikkan bunga (28 Okt)

18,3% (ditahan 81,7%), per 11/10

17,7% pada 9/10; 22,1% pada 2/10; 42,5% pada 11/9

Sumber: Investing.com, Financial Times, CME FedWatch (data per 11/10/2026), diolah Bareksa.

Sinyal Pasar Terkuat: Tekanan Global Mereda, Emas & IHSG Pulih

Emas mencatat kenaikan harian terbesar (1,44%), disusul IHSG (1,04%). Keduanya naik bersamaan dengan rupiah, saat dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi AS turun dari puncak awal pekan (5,311% pada 5/10). Artinya, tekanan dari bunga tinggi di AS sedang berkurang, meski baru sebagian.

Di dalam negeri, asing beli bersih Rp30,40 miliar (BEI), saham perbankan menjadi penopang IHSG. Di luar negeri, Kitco News mencatat indeks S&P 500 naik 0,6% dan indeks saham Eropa naik hampir 1%. Presiden Trump menyebut Washington belum akan menyerang Iran sebelum pemilu sela 3 November.

Namun pemulihan ini belum tentu bertahan. Brent tetap naik 0,42% karena ancaman pelayaran di Selat Hormuz dan badai yang menutup produksi minyak AS. Minyak mahal dapat mendorong inflasi, sehingga bunga bisa tinggi lebih lama. IHSG juga masih turun 6,75% sejak 14 September.

Pergerakan IHSG, USD/IDR, Emas, Yield SBN, Yield UST & Brent Sebulan

Grafik: perubahan sejak 14 September 2026 (%). Label di ujung garis menunjukkan posisi penutupan 9/10/2026. Sumber: Investing.com, Financial Times.

Apa Artinya bagi Investor?

SBN Ritel SBR015

Surat Berharga Negara (SBN) jenis Savings Bond Ritel SBR015 dapat dicermati investor yang menginginkan kupon dengan batas minimal. Masa penawaran 28 September-22 Oktober 2026; kupon SBR tertinggi sejak 2020.

Seri

Tenor

Kupon minimal per tahun

SBR015T2

2 tahun

6,75%

SBR015T4

4 tahun

6,85%

Sumber: DJPPR Kemenkeu.

Reksadana Pasar Uang

Reksadana pasar uang berinvestasi di instrumen jangka pendek yang relatif mudah dicairkan, sehingga dapat dicermati untuk dana jangka pendek.

Reksadana

Return 1 tahun

Setiabudi Dana Pasar Uang

5,23%

Avrist Ada Kas Mutiara

4,79%

Sumber: Bareksa, kinerja per 9/10/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana ini dapat dicermati secara bertahap. Nilainya dapat naik-turun mengikuti imbal hasil obligasi.

Reksadana

Return 1 tahun

Syailendra Sharia Fixed Income A

6,3%

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

5,92%

Sumber: Bareksa, kinerja per 9/10/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Reksadana Campuran

Reksadana campuran berisi saham, obligasi, dan pasar uang sehingga lebih fluktuatif. Kinerja dua reksadana campuran ini naik pada 9/10, tetapi masih turun sekitar 4,5-4,9% dalam sebulan, sehingga dapat dicermati dengan dicicil untuk tujuan 3 tahun ke atas.

Reksadana

Return 1 hari

Return 1 tahun

Syailendra Balanced Opportunity

1,04%

7,87%

Danapathi Balance Fund

0,34%

15%

Sumber: Bareksa, kinerja per 9/10/2026. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Emas

Emas dunia naik 1,44% pada 9/10, tetapi masih turun 2,43% sejak 14 September. Membeli sedikit demi sedikit secara rutin (dollar cost averaging/DCA) dapat dicermati untuk jangka panjang.

Platform

Harga beli per gram

Treasury

Rp2.473.246

Pegadaian

Rp2.461.000

Indogold

Rp2.406.624

Sumber: Bareksa Emas, 12/10/2026 pagi.

Faktor Risiko

  • Inflasi AS bisa lebih tinggi. Data inflasi 14/10 yang tinggi dapat memperbesar peluang bunga naik dan kembali menekan saham, rupiah, dan emas.

  • Harga minyak masih tinggi. Ketegangan di Selat Hormuz dapat mendorong inflasi dan menahan bunga tetap tinggi.

  • Nilai reksadana bisa naik-turun. Reksadana campuran mengikuti saham; reksadana pendapatan tetap dapat turun saat imbal hasil obligasi naik. Reksadana tidak dijamin LPS.

  • Agenda November menambah ketidakpastian. Pemilu sela AS dan keputusan MSCI dapat memicu gejolak.

Kesimpulan

IHSG dan emas pulih saat tekanan global mereda, tetapi minyak masih di atas US$104 dan peluang kenaikan bunga The Fed belum hilang. Produk yang dapat dicermati sesuai profil risiko: SBR015, reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan emas.

Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.

Investasi SBR015 di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

D​ISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Apa itu beli bersih (net buy) asing?

Kondisi saat investor asing membeli saham lebih banyak daripada menjual dalam satu hari.

Mengapa imbal hasil obligasi AS turun bisa membantu emas?

Emas tidak memberi bunga. Saat imbal hasil obligasi AS turun, emas relatif lebih menarik.

Mengapa data inflasi AS dipantau?

Inflasi tinggi dapat membuat The Fed menahan atau menaikkan bunga, yang menekan aset berisiko seperti saham.

Apakah emas yang naik hari ini pasti naik terus?

Tidak. Harga emas bisa naik-turun; strategi DCA membantu menyebar waktu pembelian.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.