
Bareksa - Pasar obligasi Indonesia menguat pada Rabu (30/9). Yield adalah imbal hasil obligasi, dan bergerak berlawanan dengan harga. Saat yield turun, harga obligasi naik. Perlu dicatat, yield baru turun satu hari setelah naik dari 7,008% (24/9) ke 7,219% (29/9), dan dalam sebulan masih naik dari 6,990%.
Apa yang terjadi: imbal hasil (yield) SBN 10 tahun turun ke 7,106% dari 7,219%, rupiah menguat 0,51% ke Rp17.855 per dolar AS, tetapi IHSG turun 0,83% ke 6.071,14 pada 30 September 2026.
Mengapa: ketegangan Timur Tengah mereda sehingga harga minyak turun, dan inflasi AS yang lebih rendah meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Apa artinya: yield turun berarti harga obligasi naik, sehingga reksadana pendapatan tetap bisa terdorong. Namun penurunan ini baru sehari.
Produk yang bisa dicermati: reksadana pendapatan tetap, SBR015 (kupon minimal 6,75%-6,85%), dan reksadana pasar uang untuk likuiditas. Semua tetap mengandung risiko.
Grafik garis: perubahan persentase sejak 31 Agustus 2026. Angka di ujung garis adalah data riil per 30 September 2026. Sumber: Investing.com, diolah Bareksa.
Indikator | 30 Sep 2026 | 31 Agu 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
IHSG | 6.071,14 | 6.525,48 | Turun 6,96% |
USD/IDR | Rp17.855 | Rp17.715 | Rupiah melemah 0,79% dalam sebulan, tetapi menguat 0,51% pada 30 Sep |
Emas spot (XAU/USD) | US$4.154,98 | US$4.448,92 | Turun 6,61% |
Yield SBN 10 tahun | 7,106% | 6,990% | Naik 11,6 bps |
Yield obligasi AS 10 tahun | 5,286% | 4,758% | Naik 52,8 bps |
Sumber: Investing.com, diolah Bareksa. bps = basis poin; 100 bps = 1 poin persen.
Mengutip CNBC Indonesia, ada tiga hal yang membuat sentimen pasar membaik:
Ketegangan Timur Tengah mereda. Gedung Putih dilaporkan terbuka meninjau kembali sanksi terhadap Iran.
Harga minyak turun. Pada penutupan Selasa (29/9), minyak Brent turun 1,99% ke USD 95,88 per barel dan WTI turun 3,95% ke USD 88,95.
Dolar AS melemah. Indeks dolar AS (DXY) turun 0,10%, sehingga rupiah ikut menguat.
Dari AS, Kitco News melaporkan inflasi yang lebih rendah meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
IHSG turun lima hari berturut-turut. Investor asing menjual bersih Rp1,61 triliun, dengan tekanan terbesar dari sektor konsumer primer (turun 2,34%). Presiden The Fed New York John Williams juga menyebut kemungkinan satu kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir 2026, dan yield obligasi AS 10 tahun masih naik ke 5,286%. Perbaikan di pasar obligasi dan rupiah belum menular ke pasar saham.
Reksadana ini berinvestasi terutama pada obligasi. Saat harga obligasi naik, nilai aktiva bersih (NAB, yaitu harga per unit reksadana) bisa terdorong. Namun yield bisa kembali naik dan NAB bisa turun dalam jangka pendek.
Reksadana | Return 1 Tahun |
|---|---|
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 6,50% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 6,01% |
Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang | 5,03% |
Insight Renewable Energy Fund | 4,61% |
Avrist Emerald Stable Fund | 3,63% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 30 September 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
SBR015 ditawarkan 28 September-22 Oktober 2026. Kupon minimal SBR015T2 (tenor 2 tahun) 6,75% per tahun dan SBR015T4 (tenor 4 tahun) 6,85% per tahun, tertinggi untuk seri SBR sejak 2020 (Bareksa). Kupon bersifat mengambang dengan batas bawah: bisa naik jika BI Rate (saat ini 5,75%) naik, tetapi tidak turun di bawah kupon minimal. SBN dijamin negara, tetapi harga jual sebelum jatuh tempo bisa naik atau turun.
Reksadana ini berinvestasi pada instrumen jangka pendek sehingga cenderung lebih stabil saat IHSG tertekan, dan cocok untuk menjaga likuiditas.
Reksadana | Return 1 Tahun |
|---|---|
Avrist Ada Kas Mutiara | 4,79% |
Syailendra Dana Kas | 4,63% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,15% |
Sucorinvest Money Market USD | 3,67% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 30 September 2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Emas spot turun 0,72% ke US$4.154,98 per ons setelah naik 1,70% sehari sebelumnya, tertekan kenaikan yield obligasi jangka panjang AS. Investor jangka panjang bisa mempertimbangkan pembelian bertahap (dollar cost averaging/DCA) saat harga turun, sesuai profil risiko.
Platform | Harga Beli/Gram |
|---|---|
Treasury | Rp2.434.883 |
Pegadaian | Rp2.457.000 |
Indogold | Rp2.391.660 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, per 1 Oktober 2026 pagi.
Yield obligasi AS yang naik dan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dapat menekan saham dan rupiah.
Redanya ketegangan Timur Tengah bisa berbalik, sehingga harga minyak dan kekhawatiran inflasi naik lagi.
Yield SBN bisa kembali naik, sehingga NAB reksadana pendapatan tetap naik-turun.
Reksadana bukan produk yang dijamin LPS. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
Siap-siap Investasi SBR015 di Sini
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Ketegangan Timur Tengah mereda, harga minyak turun, dan dolar AS melemah (CNBC Indonesia), sementara inflasi AS yang lebih rendah meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Harga obligasi naik, sehingga NAB bisa terdorong. Dalam jangka pendek, NAB tetap bisa naik-turun.
Minimal 6,75% (tenor 2 tahun) dan 6,85% (tenor 4 tahun) per tahun, ditawarkan sampai 22 Oktober 2026.