
Bareksa - Pasar domestik masih berada dalam tekanan pada Selasa (29/9/2026). IHSG turun 0,43% ke 6.121,70, menandai koreksi empat hari berturut-turut, sementara yield SBN 10 tahun naik ke 7,219%. Tekanan global juga belum sepenuhnya reda karena ekspektasi imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun masih berada di sekitar 5,25%. Rupiah relatif stabil.
Namun sentimen mulai sedikit berubah dari Amerika Serikat setelah data tenaga kerja dan kepercayaan konsumen yang lebih lemah menurunkan ekspektasi kenaikan Fed Rate pada Oktober. Kondisi ini membantu emas spot rebound 1,7% ke sekitar US$4.185 per ons setelah koreksi tajam sehari sebelumnya.
Tekanan di saham dan obligasi masih tinggi karena yield global bertahan tinggi.
Data ekonomi AS yang lebih lemah mulai meredakan ekspektasi kenaikan Fed Rate pada Oktober.
SBR015 dapat dicermati untuk kupon minimal 6,75%-6,85% selama masa penawaran.
Reksa dana pasar uang dapat digunakan untuk menjaga likuiditas, sedangkan reksa dana pendapatan tetap dapat dicermati bertahap sesuai profil risiko.
Emas tetap dapat digunakan sebagai diversifikasi dengan strategi pembelian bertahap saat koreksi.
Sumber: Investing.com, diolah Bareksa. Seluruh seri dinormalisasi ke indeks 100 pada 31 Agustus 2026 agar aset dengan satuan berbeda dapat dibandingkan.
Indikator | 29/9/2026 | 31/8/2026 | Keterangan |
IHSG | 6.121,70 | 6.525,48 | Turun 0,43% harian; sekitar 6,2% sebulan |
USD/IDR | Rp17.946,5 | Rp17.715 | Relatif flat harian |
Emas spot | US$4.185,25 | US$4.448,92 | Naik 1,7% harian |
Yield SBN 10Y | 7,219% | 6,990% | Naik sekitar 2,3 bps harian |
Yield UST 10Y | 5,255% | 4,758% | Masih dekat level tertinggi multi-dekade |
Sumber: Investing.com, diolah Bareksa.
Fokus pasar masih tertuju pada tingginya yield obligasi AS. Ketika US Treasury menawarkan imbal hasil lebih tinggi, investor cenderung lebih selektif terhadap aset berisiko, termasuk saham dan obligasi negara berkembang.
Dampaknya terlihat di Indonesia. Harga SBN kembali tertekan ketika yield 10 tahun naik, sementara IHSG belum mampu keluar dari tren koreksi.
Namun sentimen terhadap kebijakan The Fed mulai sedikit berubah. Menurut Kitco News, JOLTS job openings Agustus turun menjadi 7,079 juta, sementara indeks kepercayaan konsumen September turun ke 81,9. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kemudian turun menjadi sekitar 51,5% dari 70,9% sehari sebelumnya.
Di tengah volatilitas pasar, investor dapat mencermati Savings Bond Ritel SBR015 yang sedang ditawarkan hingga 22 Oktober 2026.
Seri | Tenor | Kupon Minimal | Formula |
SBR015T2 | 2 tahun | 6,75% | BI Rate + 1% |
SBR015T4 | 4 tahun | 6,85% | BI Rate + 1,1% |
Sumber: DJPPR Kemenkeu
Kupon awal tersebut merupakan yang tertinggi untuk penerbitan SBR sejak 2020. SBR015 memakai skema floating with floor, sehingga kupon dapat naik mengikuti BI Rate pada periode penyesuaian berikutnya, tetapi tidak turun di bawah batas minimal awal.
Setelah pajak kupon 10%, tingkat bersih minimalnya sekitar 6,08% per tahun untuk SBR015T2 dan 6,17% untuk SBR015T4.
Untuk investor yang mengutamakan likuiditas ketika pasar masih fluktuatif, reksa dana pasar uang dapat dicermati.
Reksadana | Return 1 Tahun |
Avrist Ada Kas Mutiara | 4,81% |
Syailendra Dana Kas | 4,64% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,17% |
Mandiri Money Market USD | 2,49% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 29/9/2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Kenaikan yield berarti harga obligasi sedang tertekan. Kondisi tersebut dapat membuat nilai reksa dana pendapatan tetap berfluktuasi dalam jangka pendek. Di sisi lain, tingkat yield yang lebih tinggi juga dapat menjadi area yang dicermati investor berjangka lebih panjang melalui strategi pembelian bertahap.
Reksadana | Return 1 Tahun |
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 6,69% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 6,09% |
Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang | 5,06% |
Insight Renewable Energy Fund | 4,66% |
Avrist Emerald Stable Fund | 3,69% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 29/9/2026. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Emas rebound setelah data ekonomi AS yang lebih lemah menurunkan ekspektasi kenaikan Fed Rate. Secara teknikal, area resistance terdekat berada di US$4.190 dan US$4.222 per ons. Jika kedua level tersebut ditembus secara berkelanjutan, ruang penguatan berikutnya terbuka menuju US$4.238–US$4.254 per ons.
Sementara itu, area support terdekat berada di US$4.166 dan US$4.112 per ons. Bagi investor jangka panjang, emas dapat digunakan sebagai bagian dari diversifikasi dengan strategi dollar cost averaging (DCA) saat terjadi koreksi.
Platform | Harga Beli/Gram |
Treasury | Rp2.458.649 |
Pegadaian | Rp2.436.000 |
Indogold | Rp2.381.340 |
Sumber: Bareksa Emas, per 30/9/2026 pagi.
- Yield US Treasury tetap tinggi, sehingga berpotensi menekan pasar saham dan obligasi.
- Arah suku bunga The Fed masih menjadi sumber volatilitas pasar global.
- Pergerakan rupiah perlu dicermati di tengah tingginya yield aset dolar AS.
- Pasar saham, obligasi dan emas masih berpotensi mengalami volatilitas lanjutan.
- Reksadana pendapatan tetap dapat tertekan dalam jangka pendek jika yield obligasi kembali naik.
Kondisi pasar saat ini masih mendukung pendekatan diversifikasi dan pengelolaan likuiditas, bukan mengejar satu kelas aset. SBR015 dapat dicermati untuk mengunci kupon minimal 6,75%-6,85%, reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas, reksadana pendapatan tetap secara bertahap ketika yield tinggi, dan emas sebagai diversifikasi melalui strategi DCA. Pilihan tetap perlu disesuaikan dengan jangka waktu investasi dan profil risiko masing-masing investor.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Karena harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah. Ketika yield naik, harga obligasi cenderung turun sehingga nilai portofolio reksa dana berbasis obligasi dapat berfluktuasi.
Data tenaga kerja dan kepercayaan konsumen AS yang lebih lemah membuat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
SBR015T2 menawarkan kupon minimal 6,75% per tahun dan SBR015T4 sebesar 6,85% per tahun.
Investor dapat menjaga sebagian likuiditas melalui reksadana pasar uang, mencermati reksadana pendapatan tetap secara bertahap, menggunakan SBR015 untuk eksposur SBN Ritel, dan mempertahankan emas sebagai diversifikasi sesuai profil risiko.