Bareksa Insight: Suku Bunga AS Naik, Apa Dampaknya bagi Investasi Reksadana & Emas?

Abdul Malik • 21 Sep 2026

an image
Ilustrasi kebijakan suku Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve yang mengakibatkan gejolak pasar modal global. (Shutterstock)

The Fed menaikkan suku bunga ke 3,75-4%. Simak dampaknya terhadap yield obligasi, reksa dana pendapatan tetap, pasar uang, emas, dan alokasi portofolio.

Bareksa - Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75-4% pada pertemuan FOMC 16 September 2026. Ini merupakan kenaikan pertama sejak Juli 2023. Pasar obligasi langsung bergerak cukup tajam: yield UST 10 tahun sempat menyentuh 5,01% secara intraday, level tertinggi sejak 2007, sebelum ditutup sekitar 4,964%.

Di Indonesia, yield SBN 10 tahun tercatat 7,141% dan IHSG berada di 6.436 pada 16 September. Rupiah berada di Rp17.730 per dolar AS, sedangkan emas spot sekitar US$4.267 per ons. Artinya, tekanan dari pasar global masih terasa, tetapi dampaknya pada setiap aset di Indonesia tidak sama besarnya.

Kenaikan suku bunga AS dinilai sudah diperkirakan pasar. Sehingga investor bisa mempertimbangkan strategi investasi untuk menjaga likuiditas, mencermati reksadana berbasis obligasi durasi pendek, dan tetap melakukan diversifikasi sesuai profil risiko.

Ringkasan untuk Investor

  • Suku bunga The Fed naik 25 basis poin menjadi 3,75-4%; bank sentral memberi sinyal masih ada ruang satu kenaikan lagi pada 2026.

  • Yield UST 10 tahun sempat menembus 5,01%, sementara yield SBN 10 tahun berada di 7,141%. Ketika yield naik, harga obligasi cenderung turun sehingga NAB reksa dana pendapatan tetap juga dapat tertekan.

  • Reksa dana pendapatan tetap yang berisi obligasi berjangka lebih pendek dapat dicermati secara selektif. Sementara itu, reksa dana pasar uang dapat membantu menjaga likuiditas saat arah pasar masih belum pasti.

  • Emas terkoreksi ke sekitar US$4.267 per ons. Untuk tujuan jangka panjang, pembelian bertahap dapat dipertimbangkan saat harga terkoreksi, dengan tetap menyesuaikan profil risiko.

Yield UST 10 Tahun Mendekati 5%

Yield UST naik karena investor meminta imbal hasil lebih tinggi di tengah inflasi yang masih tinggi dan perkiraan bahwa suku bunga akan tetap ketat. Grafik berikut menunjukkan pergerakan yield UST sejak 2007 hingga 16 September 2026. Angka 5,01% adalah level tertinggi secara intraday, bukan posisi saat penutupan pasar.

Grafik 1. Yield obligasi AS 10 tahun, 2007-16 September 2026. Sumber: Investing.com, diolah Tim Analis Bareksa. *Level intraday.

Mengapa The Fed Menaikkan Suku Bunga?

The Fed menaikkan suku bunga karena inflasi masih berada di atas target, sementara ekonomi dan pasar kerja AS masih cukup kuat. Dalam materi FOMC, inflasi PCE 2026 diproyeksikan 3,7%, masih lebih tinggi dari target 2%. Kondisi ini memberi ruang bagi The Fed untuk tetap menjaga suku bunga tinggi guna menekan inflasi, tanpa menjadikan resesi sebagai skenario utama.

Grafik 2. Fed Funds Rate, Juli 2023-September 2026. Sumber: Federal Reserve, Forbes, diolah Bareksa.

Sinyal bahwa suku bunga AS masih akan bertahan tinggi dapat menekan obligasi berjangka panjang. Emas juga dapat tertekan karena tidak memberikan bunga atau kupon, sehingga investor membandingkannya dengan aset yang menawarkan imbal hasil. 

Namun, karena kenaikan suku bunga sudah banyak diperkirakan sebelumnya, keputusan The Fed tidak otomatis membuat pasar terus turun.

Alokasi Investasi Berdasarkan Profil Risiko

Komposisi di bawah ini merupakan contoh kerangka alokasi investasi dari Tim Analis Bareksa, bukan rekomendasi untuk setiap investor. Porsi investasi perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, kebutuhan dana tunai, dan kemampuan masing-masing investor dalam menghadapi risiko.

Aset

Konservatif

Moderat

Agresif

Pasar uang

30-40%

10-20%

0-10%

SBN

20-30%

10-20%

0-10%

Pendapatan tetap

15-25%

20-30%

10-20%

Saham

0-10%

25-35%

50-70%

Emas

10-15%

10-15%

5-15%

Sumber: Tim Analis Bareksa.

Instrumen yang Dapat Dicermati

Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap yang banyak berinvestasi pada obligasi korporasi berjangka pendek, misalnya kurang dari tiga tahun, umumnya tidak terlalu sensitif terhadap perubahan yield dibanding obligasi berjangka panjang. Sederhananya, ketika yield naik, penurunan harga obligasi berjangka pendek biasanya lebih terbatas. 

Namun, investor tetap perlu memperhatikan kualitas penerbit obligasi, kemudahan pencairan, jangka waktu portofolio, dan perubahan NAB. Return di bawah merupakan kinerja historis per 17 September 2026, bukan proyeksi.

Reksadana

Return 1 bulan

Return 1 tahun

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1,21%

7,09%

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

0,80%

6,00%

Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang

0,64%

5,21%

Insight Renewable Energy Fund

0,59%

4,98%

Avrist Emerald Stable Fund

0,64%

4,04%

Sumber: data kinerja reksa dana Bareksa, per 17 September 2026.

Reksadana Pasar Uang

Reksadana pasar uang dapat digunakan untuk menempatkan dana jangka pendek ketika investor masih menunggu arah pasar obligasi dan saham. Namun, reksa dana pasar uang berbeda dari deposito dan tidak dijamin LPS. Nilai investasi dan return tetap dapat berubah mengikuti kondisi aset di dalam portofolionya.

Reksadana

Return 1 bulan

Return 1 tahun

Avrist Ada Kas Mutiara

0,48%

4,79%

Insight Money

0,51%

5,15%

Recapital Money Market Liquid

0,50%

5,02%

Syailendra Sharia Money Market Fund Kelas A

0,54%

4,40%

TRIM Kas 2 Kelas A

0,47%

4,36%

Sumber: Bareksa, per 17 September 2026.

Emas untuk Diversifikasi

Harga emas spot naik sekitar 0,85% ke US$4.378 per ons pada Jumat (18/9) dan tetap mampu menguat meskipun yield UST kembali mendekati 5%. Secara teori, kenaikan suku bunga dan yield obligasi biasanya menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan kupon. Namun kali ini, permintaan aset aman akibat risiko geopolitik, kekhawatiran fiskal dan diversifikasi cadangan bank sentral membantu menopang harga.

Société Générale seperti dilansir Kitco News bahkan mempertahankan pandangan bullish terhadap emas menjelang kuartal IV. Bank tersebut memperkirakan emas mencapai US$4.750 per ons pada Q4 2026, kemudian US$5.000 pada kuartal II 2027. 

SocGen menilai pembelian bank sentral, potensi penurunan suku bunga riil pada fase berikutnya dan diversifikasi dari aset cadangan tradisional menjadi penopang struktural emas. Bagi investor jangka panjang bisa mempertimbangkan strategi pembelian bertahap ketika terjadi koreksi (DCA).

Harga Beli Emas Digital Bareksa

Platform

Harga Beli/Gram

Treasury

Rp2.2.542.612

Pegadaian

Rp2.506.000

Indogold

Rp2.476.284

Sumber: fitur Bareksa Emas, per 21/9/2026

Risiko yang Perlu Diperhatikan

  • Yield UST atau SBN dapat kembali naik dan menekan harga obligasi serta NAB RDPT.

  • Perubahan tingkat risiko penerbit obligasi dan kondisi likuiditas pasar dapat membuat kinerja setiap RDPT berbeda.

  • Pelemahan rupiah dapat memperbesar tekanan inflasi dan volatilitas aset domestik.

  • Harga emas memiliki risiko koreksi dan spread beli-jual yang berbeda antarpenyedia.

  • Return historis tidak menjamin kinerja pada periode berikutnya.

Kesimpulan

Kenaikan suku bunga The Fed ke 3,75-4% menunjukkan inflasi AS masih menjadi perhatian. Yield UST sempat menembus 5%, sementara kenaikan yield SBN 10 tahun lebih terbatas hingga berada di 7,141%. Dalam kondisi ini, investor dapat menjaga dana yang perlu tetap likuid melalui reksa dana pasar uang, mencermati RDPT berjangka lebih pendek secara selektif, serta menggunakan emas sebagai bagian dari diversifikasi. Pilihan dan porsinya tetap perlu disesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko.

Investasi di Aplikasi Reksadana Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.

Investasi Reksadana di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/AM)

Tentang Penulis

* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

DISCLAIMER​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Pertanyaan Umum

Apakah kenaikan Fed Rate otomatis membuat semua reksadana pendapatan tetap turun?

Tidak. Dampaknya berbeda pada setiap produk, tergantung jangka waktu obligasi dalam portofolio, kualitas penerbit, komposisi aset, serta seberapa jauh kenaikan suku bunga sudah diperkirakan oleh pasar.

Mengapa durasi pendek lebih tahan terhadap kenaikan yield?

Obligasi dengan jangka waktu lebih pendek biasanya mengalami perubahan harga yang lebih kecil ketika yield naik atau turun. Karena itu, reksadana pendapatan tetap yang berisi obligasi berjangka lebih pendek umumnya lebih tahan terhadap gejolak yield, meskipun tetap memiliki risiko kredit dan likuiditas.

Apakah reksadana pasar uang bebas risiko?

Tidak. Reksadana pasar uang tetap memiliki risiko pasar dan risiko pengelolaan. Namun, pergerakan nilainya umumnya lebih stabil dibanding reksa dana saham.

Mengapa emas tetap digunakan sebagai diversifikasi?

Emas dapat bergerak berbeda dari saham dan obligasi karena dipengaruhi antara lain oleh dolar AS, suku bunga, kondisi geopolitik, dan kekhawatiran fiskal. Karena karakter tersebut, emas dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk membantu menyebarkan risiko portofolio.

Profil Penulis

Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.