
Bareksa - Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026, dengan ekonom memperkirakan BI Rate tetap di 5,75%. BI telah lebih dulu menaikkan suku bunga kumulatif 100 bps sejak Mei–Juni, sementara The Fed baru menaikkan Fed Funds Rate 25 bps menjadi 3,75–4% pada September.
Meski demikian, tekanan global masih tinggi. Yield US Treasury 10 tahun kembali mendekati 5%, yield SBN 10 tahun berada di 7,157%, IHSG terkoreksi ke 6.441 dan rupiah berada di sekitar Rp17.758 per dolar AS.
Dalam kondisi tersebut, Tim Analis Bareksa melihat reksadana pasar uang masih relevan untuk menjaga likuiditas, reksa dana pendapatan tetap lebih selektif dengan fokus durasi pendek, sementara emas tetap dapat digunakan sebagai diversifikasi melalui pembelian bertahap saat koreksi.
BI Rate: konsensus memperkirakan tetap 5,75% pada RDG 22–23 September.
Obligasi: UST 10 tahun mendekati 5% dan SBN 10 tahun berada di 7,157%, sehingga tekanan terhadap obligasi berdurasi panjang belum sepenuhnya hilang.
IHSG: ditutup turun 0,33% ke 6.441, dengan jual bersih asing sekitar Rp1,8 triliun. Ciptadana melihat bias pasar masih negatif dengan support 6.371 dan resistance 6.550.
Reksadana pasar uang: tetap menjadi instrumen yang dapat dicermati untuk likuiditas jangka pendek.
Reksadana pendapatan tetap: lebih selektif; fokus pada portofolio obligasi korporasi berdurasi pendek untuk mengurangi sensitivitas terhadap kenaikan yield.
Emas: momentum membaik setelah kenaikan bunga The Fed. Strategi tetap diversifikasi dan DCA saat koreksi, bukan mengejar kenaikan harga.
BI telah melakukan pengetatan agresif lebih awal. Sejak April hingga Juni, BI Rate naik dari 4,75% menjadi 5,75%, terdiri dari kenaikan 50 bps pada Mei, 25 bps pada 9 Juni, dan 25 bps lagi pada RDG 17–18 Juni. BI menyebut langkah tersebut sebagai kebijakan pre-emptive untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Pada Juli dan Agustus, BI kemudian mempertahankan bunga 5,75%. Keputusan Agustus tetap diarahkan pada stabilitas rupiah, menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1%, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Untuk September, konsensus memperkirakan bunga tetap 5,75%. Pasar kemungkinan justru akan lebih mencermati panduan BI mengenai rupiah, inflasi, arus modal dan arah kebijakan berikutnya.
Salah satu sinyal penting berasal dari pasar obligasi global. Ekspektasi imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun kembali mendekati 5% setelah The Fed menaikkan suku bunga. Sementara itu, yield SBN Indonesia 10 tahun berada di 7,157%, sehingga selisih yield SBN dan UST 10 tahun sekitar 216 bps.
Yield yang tetap tinggi membuat harga obligasi berdurasi panjang lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Karena itu, strategi investasi reksadana pendapatan tetap kali ini tidak diarahkan pada seluruh kategori pendapatan tetap, tetapi lebih selektif di produk yang memiliki durasi relatif pendek dan eksposur obligasi korporasi berkualitas.
Investor tetap perlu mengecek fund fact sheet terbaru karena durasi dan komposisi obligasi setiap produk dapat berubah.
Reksadana Pendapatan Tetap yang Dapat Dicermati
Reksadana | Return 1 Tahun |
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 7,07% |
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 5,84% |
Recapital Pendapatan Tetap Dana Gemilang | 5% |
Insight Renewable Energy Fund | 4,71% |
Avrist Emerald Stable Fund | 3,74% |
Sumber: Bareksa, Kinerja per 18/9/2026. Kinerja historis tidak menjamin hasil di masa depan.
Ketidakpastian mengenai suku bunga global, pergerakan rupiah dan tekanan jual asing membuat kebutuhan likuiditas tetap penting. HSG turun 0,33% ke 6.441 pada Jumat, dengan jual bersih investor asing sekitar Rp1,8 triliun. Sektor industri, properti dan kesehatan menjadi penekan utama.
Analis Ciptadana Sekuritas memperkirakan indeks bergerak 6.371–6.550 dengan kecenderungan negatif. Secara teknikal, IHSG juga masih dalam fase konsolidasi dengan momentum yang melemah.
Dalam situasi tersebut, reksadana pasar uang dapat digunakan untuk menempatkan dana jangka pendek sembari menunggu arah pasar lebih jelas.
Reksadana Pasar Uang
Reksadana | Return 1 Tahun |
Avrist Ada Kas Mutiara | 4,76% |
Syailendra Dana Kas | 4,61% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,15% |
Mandiri Money Market USD | 2,54% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 18/9/2026, Kinerja historis tidak menjamin hasil di masa depan.
Reksadana pasar uang dolar lebih relevan bagi investor yang memang memiliki kebutuhan atau tujuan investasi dalam dolar AS. Bagi investor berbasis rupiah, perubahan kurs tetap dapat memengaruhi hasil investasi setelah dikonversi kembali ke rupiah.
Sinyal emas menjadi salah satu yang paling menarik pekan ini. Harga emas spot naik sekitar 0,85% ke US$4.378 per ons pada Jumat dan tetap mampu menguat meskipun yield UST kembali mendekati 5%.
Secara teori, kenaikan suku bunga dan yield obligasi biasanya menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan kupon. Namun kali ini, permintaan aset aman akibat risiko geopolitik, kekhawatiran fiskal dan diversifikasi cadangan bank sentral membantu menopang harga.
Société Générale seperti dilansir Kitco News, bahkan mempertahankan pandangan bullish terhadap emas menjelang kuartal IV. Bank tersebut memperkirakan emas mencapai US$4.750 per ons pada Q4 2026, kemudian US$5.000 pada kuartal II 2027. SocGen menilai pembelian bank sentral, potensi penurunan suku bunga riil pada fase berikutnya dan diversifikasi dari aset cadangan tradisional menjadi penopang struktural emas.
Momentum jangka pendek juga membaik. Dalam proses rebound pasca-FOMC, emas telah menembus resistance US$4.354 dan sempat melewati US$4.381 per ons. Harga kemudian bertahan di sekitar US$4.378–4.382.
Dua resistance berikutnya yang perlu dicermati ialah: US$4.396 per ons dan US$4.406 per ons. Jika kedua level tersebut ditembus secara berkelanjutan, ruang penguatan dapat terbuka menuju area sekitar US$4.466. Sebaliknya, support terdekat berada sekitar US$4.331 dan US$4.282.
Karena harga sudah kembali mendekati resistance, strategi yang lebih terukur bagi investor jangka panjang ialah DCA atau pembelian bertahap ketika terjadi koreksi, bukan menambah posisi sekaligus setelah kenaikan tajam.
Harga Beli Emas Digital Bareksa
Platform | Harga Beli/Gram |
Treasury | Rp2.555.360 |
Pegadaian | Rp2.512.000 |
Indogold | Rp2.470.092 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, per 21/9/2026 pagi
Harga minyak memang terkoreksi pada akhir pekan, tetapi WTI dan Brent masih berada di atas US$100 per barel. Kondisi tersebut membuat risiko inflasi global belum sepenuhnya surut.
Yield obligasi AS tetap tinggi. UST 10 tahun yang mendekati 5% dapat kembali menekan obligasi berdurasi panjang dan aset berisiko.
Foreign selling belum berhenti. Investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp1,8 triliun pada perdagangan Jumat.
IHSG masih berisiko koreksi. Ciptadana menilai momentum melemah; penurunan di bawah area 6.300 dapat meningkatkan risiko koreksi lebih dalam.
Harga minyak masih di atas US$100. Risiko gangguan pasokan Timur Tengah dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi.
Rupiah masih sensitif terhadap arus modal. Suku bunga global yang tinggi dapat memengaruhi permintaan dolar dan aliran dana asing.
Emas mendekati resistance. Meski tren membaik, kegagalan menembus US$4.396–4.406 dapat memicu konsolidasi kembali ke area support.
Menjelang keputusan BI pada 23 September, skenario dasar pasar adalah BI Rate tetap 5,75%. Namun keputusan suku bunga bukan satu-satunya faktor yang perlu dicermati. Yield UST yang hampir 5%, harga minyak di atas US$100, arus jual asing dan pergerakan rupiah tetap menjadi penentu sentimen.
Karena itu, komposisi strategi dapat dibuat lebih defensif: RD pasar uang untuk menjaga likuiditas, RD pendapatan tetap berdurasi pendek secara selektif, serta emas sebagai diversifikasi dengan pembelian bertahap saat koreksi. Untuk emas, tren jangka pendek mulai membaik, tetapi level US$4.396–4.406 menjadi konfirmasi berikutnya sebelum reli dapat dikatakan memperoleh momentum yang lebih kuat.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Belum. Angka tersebut merupakan konsensus pasar menjelang RDG. Keputusan resmi diumumkan BI pada 23 September.
Karena volatilitas saham dan obligasi masih tinggi, sehingga RDPU dapat berfungsi sebagai tempat menjaga likuiditas jangka pendek.
Obligasi berdurasi lebih pendek umumnya lebih sedikit terpengaruh perubahan harga ketika yield bergerak naik.
Secara umum iya karena menaikkan biaya peluang memegang emas. Namun saat ini permintaan aset aman dan risiko fiskal/geopolitik ikut menopang harga.
Resistance terdekat sekitar US$4.396 dan US$4.406, sedangkan support sekitar US$4.331 dan US$4.282.