Yield SBN Turun Meski Konflik Iran-Kuwait Kerek Harga Emas & Minyak, Peluang RD Fixed Income & SR025

Hanum Kusuma Dewi • 04 Sep 2026

an image
Ilustrasi pergerakan harga saham dengan sentimen global harga minyak, emas dan nilai tukar dolar AS. (Shutterstock)

Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun ke 7,102% pada Kamis (3/9/2026), sementara eskalasi konflik Iran-Kuwait dan Uni Emirat Arab mendorong harga emas dan minyak dunia naik tajam

Bareksa — Eskalasi konflik antara Iran dan Kuwait serta Uni Emirat Arab mendorong harga minyak dan emas dunia naik tajam pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Brent melonjak ke US$96,20 per barel, naik lebih dari 7% dalam sepekan, setelah Iran mengklaim menyerang pangkalan Amerika Serikat di Kuwait dan UEA (Kompas.com). Emas dunia turut melompat 2,02% ke US$4.474,36 per ons troi, ditopang permintaan aset aman di tengah memanasnya risiko geopolitik (Investing.com).

Menariknya, pasar domestik justru bergerak berlawanan arah. Yield SBN tenor 10 tahun turun ke 7,102% pada Kamis (3/9), melandai dari 7,229% pada sesi sebelumnya, seiring meredanya tekanan dari pasar obligasi global — yield US Treasury 10 tahun yang sempat menyentuh 4,818% (tertinggi 52 minggu) ikut melandai ke 4,770% (Investing.com). Rupiah menguat ke Rp17.624 per dolar AS, level terkuat dalam sebulan terakhir, sementara IHSG naik 1,09% ke 6.667,89. Kombinasi ini mengindikasikan investor asing belum menunjukkan tanda keluar besar-besaran dari pasar SBN meski risiko geopolitik global meningkat.

Di tengah kondisi bulan Agustus, inflasi tahunan RI tercatat 3,19% YoY (BPS), relatif terkendali dan memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mencermati kebijakan suku bunga ke depan.

Ringkasan untuk Investor

  • Konflik Iran-Kuwait & UEA mendorong Brent naik ke US$96,20/barel Kamis (3/9), +7% sepekan
  • Emas dunia melompat 2,02% ke US$4.474,36/oz, ditopang permintaan aset aman
  • Yield SBN 10 tahun justru turun ke 7,102% dari 7,229% sehari sebelumnya
  • Rupiah menguat ke Rp17.624/US$, level terkuat sebulan terakhir; IHSG naik 1,09% ke 6.667,89
  • SR025 masih membuka peluang mengunci kupon tetap 6,80%-6,90% p.a. hingga 16 September 2026

Konflik Iran-Kuwait Kerek Emas & Minyak, Pasar Domestik Justru Menguat

Eskalasi konflik antara Iran dan Kuwait serta Uni Emirat Arab mendorong harga minyak dan emas dunia naik tajam pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Brent melonjak ke US$96,20 per barel, naik lebih dari 7% dalam sepekan, setelah Iran mengklaim menyerang pangkalan Amerika Serikat di Kuwait dan UEA (Kompas.com). Emas dunia turut melompat 2,02% ke US$4.474,36 per ons troi, ditopang permintaan aset aman di tengah memanasnya risiko geopolitik (Investing.com).

Menariknya, pasar domestik justru bergerak berlawanan arah. Yield SBN tenor 10 tahun turun ke 7,102% pada Kamis (3/9), melandai dari 7,229% pada sesi sebelumnya, seiring meredanya tekanan dari pasar obligasi global — yield US Treasury 10 tahun yang sempat menyentuh 4,818% (tertinggi 52 minggu) ikut melandai ke 4,770% (Investing.com). Rupiah menguat ke Rp17.624 per dolar AS, level terkuat dalam sebulan terakhir, sementara IHSG naik 1,09% ke 6.667,89. Kombinasi ini mengindikasikan investor asing belum menunjukkan tanda keluar besar-besaran dari pasar SBN meski risiko geopolitik global meningkat.

Di tengah kondisi bulan Agustus, inflasi tahunan RI tercatat 3,19% YoY (BPS), relatif terkendali dan memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mencermati kebijakan suku bunga ke depan.

Harga Komoditas

Indikator
Posisi 3 September
Perubahan
Brent
US$96,20 per barel
+7% (sepekan)
Emas (XAU/USD)
US$4.474,36/oz
+2,02%
Yield SBN 10 Tahun
7,102%
-12,7 bps
Yield UST 10 Tahun
4,770%
Turun dari puncak 52 minggu 4,818%

​​Sumber: Investing

Strategi Investasi Hari Ini

1. Reksadana Pasar Uang untuk Menjaga Likuiditas

Penurunan yield SBN belum tentu berlanjut mengingat sumber tekanan berasal dari eskalasi geopolitik yang masih dinamis. RD Pasar Uang tetap relevan sebagai instrumen likuiditas jangka pendek dengan risiko relatif rendah.

Reksadana Pasar Uang
Return 1 Tahun
Insight Money
5,17%
Syailendra Dana Kas
4,66%
BRI Seruni Likuid Dolar
3,17%
Mandiri Money Market USD
2,59%

Sumber: Bareksa, data per 3 September 2026

2. Akumulasi Reksadana Pendapatan Tetap secara Bertahap

Turunnya yield SBN membuka peluang capital gain bagi RD Pendapatan Tetap, meski investor tetap perlu mencermati durasi dan volatilitas global yang masih tinggi akibat konflik Timur Tengah.

Reksadana Pendapatan Tetap
Return 1 Bulan
Return 1 Tahun
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A
1,38%
7,15%
Danamas Stabil
0,43%
6,34%
Allianz USD Fixed Income Fund Kelas A
0,20%
1,75%
STAR Fixed Income NEO AI Dollar
0,55%
2,30% (6 bulan)

Sumber: Bareksa, data per 3 September 2026

3. SR025 untuk Mengunci Kupon Tetap

Penurunan yield domestik menjadi momentum bagi investor untuk mengunci kupon tetap SR025 sebelum masa penawaran berakhir.

Seri
Tenor
Kupon Tetap
Masa Penawaran
SR025-T3
3 tahun
6,80% per tahun
Hingga 16 September 2026
SR025-T5
5 tahun
6,90% per tahun
Hingga 16 September 2026

Sumber: DJPPR Kemenkeu

4. Emas sebagai Diversifikasi Bertahap

Lonjakan harga emas akibat eskalasi konflik Iran-Kuwait menegaskan perannya sebagai aset lindung nilai. Investor dengan horizon panjang dapat mempertimbangkan akumulasi bertahap, alih-alih mengejar harga di level tinggi.

Platform
Harga Beli per Gram
Treasury
Rp2.587.661
Pegadaian
Rp2.521.000
Indogold
Rp2.489.184

Sumber: Bareksa Emas, per 4 September 2026, 8:00 WIB

Kesimpulan

Eskalasi konflik Iran-Kuwait mendorong harga emas dan minyak dunia naik tajam, namun pasar domestik justru menguat dengan yield SBN turun dan Rupiah menguat ke level terkuat sebulan terakhir. Bagi investor, ini membuka peluang capital gain di RD Pendapatan Tetap serta momentum mengunci kupon tetap SR025 sebesar 6,80%-6,90% sebelum masa penawaran berakhir 16 September 2026. RD Pasar Uang tetap relevan sebagai instrumen likuiditas mengingat volatilitas global belum sepenuhnya reda, sementara emas dapat menjadi pelengkap diversifikasi portofolio di tengah tren safe haven yang masih berlanjut. Investor tetap perlu mencermati profil risiko dan horizon investasi masing-masing.

Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.

Investasi SR025 di Sini

(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)

Tentang Penulis

Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.

DISCLAIMER​​​​​​​​

Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

Profil Penulis

Hanum Kusuma Dewi

Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi termasuk reksa dana, saham, SBN hingga emas. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang mena