
Bareksa - Pasar obligasi Indonesia kembali mendapatkan momentum setelah yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 7,151% pada Kamis (13/8/2026) dari 7,226% sehari sebelumnya. Penurunan sekitar 7,5 basis poin (bps) ini menjadi katalis positif bagi reksadana pendapatan tetap karena harga obligasi umumnya bergerak berlawanan dengan yield.
Namun ada satu hal penting yang perlu dicermati investor. Turunnya yield belum diikuti lonjakan kepemilikan asing yang besar. Berdasarkan data yang dihimpun Bareksa, kepemilikan investor asing di SBN mencapai Rp891,21 triliun, dari sekitar Rp879,93 triliun pada awal tahun.
Artinya, secara nominal kenaikannya baru sekitar Rp11,28 triliun sejak awal 2026, dengan porsi asing sekitar 13% dari SBN tradable. Karena itu, tren penguatan obligasi saat ini lebih tepat dibaca sebagai membaiknya kondisi pasar, tetapi belum sebagai gelombang besar arus modal asing.
Yield SBN 10 tahun 7,151% juga masih jauh di atas yield US Treasury 10 tahun yang berada sekitar 4,63%. Dengan angka tersebut, spread keduanya sekitar 252 bps.
Spread ini menjadi salah satu faktor yang membuat obligasi pemerintah Indonesia tetap menawarkan kompensasi yield relatif menarik. Analis menilai spread INDOGB–UST masih mendukung SBN, meski kenaikan harga obligasi berikutnya semakin bergantung pada keberlanjutan inflow asing serta arah yield AS.
Bank Indonesia sebelumnya mencatat arus portofolio asing pada kuartal II 2026 mencapai net inflow US$8,5 miliar, terutama didukung SBN dan SRBI. Namun pada awal kuartal III hingga 20 Juli, net inflow ke SBN baru sekitar US$0,1 miliar. Artinya yield sudah turun, tetapi penguatan yang lebih berkelanjutan masih membutuhkan konfirmasi arus modal asing.
Rupiah juga memberikan dukungan. Mata uang Garuda sempat menguat hingga sekitar Rp17.853 per dolar AS pada Kamis, sebelum bergerak sedikit melemah ke sekitar Rp17.869 per dolar AS pada Jumat pagi (14/8).
Stabilitas rupiah penting bagi investor asing karena keuntungan dari obligasi berdenominasi rupiah dapat tergerus apabila nilai tukar melemah tajam. Stabilitas rupiah merupakan salah satu pertimbangan utama investor asing untuk kembali masuk ke SBN.
Penurunan yield umumnya berpotensi meningkatkan harga obligasi yang sudah beredar. Kondisi ini dapat memberi dukungan terhadap NAB reksadana pendapatan tetap yang memiliki eksposur besar pada SBN.
Beberapa produk yang dapat dicermati:
Reksadana Pendapatan Tetap | Mata Uang | Periode | Return |
Allianz Fixed Income Fund 2 Kelas A | Rupiah | 1 tahun | 0,67% |
BNP Paribas Prima II Kelas RK1 | Rupiah | 1 tahun | 0,59% |
Allianz USD Fixed Income Fund Kelas A | USD | 1 tahun | 1,91% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | USD | 6 bulan | 2,79% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 13/8/2026
Investor perlu mengingat, turunnya yield dalam satu atau beberapa hari belum menjamin tren tersebut terus berlanjut. Pergerakan yield masih sensitif terhadap arah UST, kebijakan fiskal, rupiah dan arus investor asing.
Di pasar saham, IHSG ditutup turun 1,13% ke 6.301,77 pada Kamis (13/8) setelah sehari sebelumnya melonjak 1,69%. Pola naik-turun dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas pasar saham masih cukup tinggi.
Dalam situasi seperti ini, reksadana pasar uang dapat digunakan untuk menjaga sebagian likuiditas sambil menunggu peluang investasi berikutnya.
Reksadana Pasar Uang | Mata Uang | Return 1 Tahun |
Insight Money | Rupiah | 5,20% |
STAR Money Market Kelas Utama | Rupiah | 4,54% |
Sucorinvest Money Market USD | USD | 3,57% |
BRI Seruni Likuid Dolar | USD | 3,3% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 13/8/2026
Reksadana pasar uang bukan instrumen tanpa risiko, tetapi fluktuasinya umumnya lebih rendah dibanding reksadana berbasis obligasi jangka panjang maupun saham.
Harga emas spot turun 1,18% menjadi sekitar US$4.357 per troy ounce pada Kamis (13/8) setelah sebelumnya mencatat kenaikan beberapa hari.
Kitco News mencatat koreksi terjadi ketika penurunan inflasi produsen AS dan yield Treasury mengurangi kebutuhan investor terhadap emas sebagai lindung nilai inflasi jangka pendek.
Namun risiko geopolitik dan arah kebijakan moneter AS masih memberikan dua sisi bagi pergerakan emas. Area teknikal terdekat berada di sekitar US$4.332 sebagai support dan US$4.448 sebagai resistance.
Ekspektasi pasar juga masih condong pada The Fed menahan suku bunga dalam pertemuan berikutnya setelah data inflasi produsen AS lebih rendah dari perkiraan.
Untuk jangka lebih panjang, UBS masih melihat faktor penurunan real yield, potensi pelemahan dolar AS dan pembelian bank sentral sebagai pendukung emas, dengan proyeksi harga dapat mendekati US$5.000 per ounce pada semester I 2027. Namun proyeksi tersebut bukan jaminan kinerja.
Harga Beli Emas Digital
Platform | Harga Beli/Gram |
Treasury | Rp2.554.176 |
Pegadaian | Rp2.603.000 |
Indogold | Rp2.552.652 |
Sumber: fitur Bareksa Emas per 14/8/2026 pagi
Bagi investor, koreksi harga emas dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kembali porsi diversifikasi, bukan sebagai sinyal bahwa harga pasti segera naik.
Kondisi pasar 14 Agustus memberikan tiga sinyal berbeda. Reksadana pendapatan tetap bisa dicermati untuk memanfaatkan momentum penurunan yield SBN, dengan tetap memperhatikan arah UST dan arus dana asing.
Reksadana pasar uang dapat menjadi tempat menjaga likuiditas ketika pasar saham masih fluktuatif. Sementara emas tetap relevan sebagai diversifikasi portofolio, khususnya bagi investor yang ingin mengurangi ketergantungan pada satu kelas aset, tetapi koreksi jangka pendek menunjukkan akumulasi sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai profil risiko.
Penurunan yield SBN 10 tahun ke 7,15% menjadi sinyal positif bagi pasar obligasi dan reksadana pendapatan tetap. Namun peningkatan kepemilikan asing sejak awal tahun baru sekitar Rp11,28 triliun, sehingga konfirmasi inflow asing tetap perlu dipantau. Dengan IHSG yang masih fluktuatif dan emas mengalami koreksi teknikal, investor dapat mempertimbangkan kombinasi reksadana pendapatan tetap untuk menangkap peluang di pasar obligasi, reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas, dan emas sebagai diversifikasi, sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Harga obligasi umumnya bergerak berlawanan dengan yield. Saat yield turun, harga obligasi yang telah beredar berpotensi naik sehingga dapat mendukung NAB RDPT.
Yield SBN 10 tahun berada di sekitar 7,151% pada 13 Agustus 2026, turun dari 7,226% sehari sebelumnya.
Kepemilikan asing meningkat menjadi sekitar Rp891,21 triliun, naik sekitar Rp11,28 triliun dibanding awal tahun berdasarkan data yang dihimpun Bareksa. Kenaikannya ada, tetapi belum cukup tepat disebut sebagai lonjakan besar.
Stabilitas rupiah memengaruhi risiko kurs yang dihadapi investor asing ketika memegang obligasi berdenominasi rupiah.
Koreksi dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi akumulasi bertahap, tetapi harga masih dapat berfluktuasi. Emas lebih tepat ditempatkan sebagai bagian diversifikasi sesuai profil risiko.