
Bareksa – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 1,37% ke level 6.319,61 pada Selasa (4/8/2026), melanjutkan rebound setelah menguat 10,51% sepanjang Juli.
Penguatan tersebut terjadi di tengah membaiknya sentimen domestik maupun global, mulai dari meningkatnya likuiditas pasar modal, turunnya imbal hasil obligasi, hingga meredanya kekhawatiran inflasi akibat anjloknya harga minyak dunia.
Bagi investor, kondisi tersebut membuka peluang untuk mulai mencermati aset berisiko secara lebih selektif. Meski demikian, disiplin diversifikasi tetap diperlukan mengingat ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda.
Salah satu sinyal positif datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyampaikan likuiditas perdagangan di pasar modal Indonesia terus menunjukkan perbaikan.
Salah satu indikatornya ialah bid-ask spread yang semakin menyempit sehingga transaksi menjadi lebih efisien dan mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pasar.
Perbaikan tersebut juga diikuti meningkatnya aktivitas investor asing dibanding bulan sebelumnya, sehingga mendukung pemulihan IHSG setelah sempat mengalami tekanan pada kuartal II 2026.
Dari sisi makroekonomi, beberapa indikator juga bergerak lebih kondusif. Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.969 per dolar AS pada perdagangan 5 Agustus, setelah sebelumnya sempat berada di sekitar Rp18.020 per dolar AS.
Di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun dari 7,375% menjadi 7,36%, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun juga turun ke 4,618% setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%-3,75%.
Penurunan yield tersebut umumnya menjadi sentimen positif bagi aset berisiko karena biaya pendanaan cenderung lebih rendah dan minat investor terhadap saham berpotensi meningkat.
Sentimen global juga membaik setelah harga minyak mentah turun tajam. Harga Brent turun lebih dari 5% menjadi sekitar US$79,36 per barel menyusul optimisme tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz. Pelemahan harga energi tersebut berpotensi mengurangi tekanan inflasi impor sehingga memberikan ruang bagi stabilitas ekonomi domestik.
Di sisi lain, harga emas spot bergerak volatil di kisaran US$4.069-4.081 per troy ounce. Meski sempat terkoreksi, emas masih bertahan di atas level psikologis US$4.000 sehingga tetap relevan sebagai instrumen diversifikasi.
Reksadana Saham
Momentum rebound IHSG membuat reksadana saham layak dicermati oleh investor dengan profil risiko agresif yang ingin memperoleh eksposur terhadap potensi lanjutan pemulihan pasar.
Produk | Return |
Sucorinvest Maxi Fund | 8,11% (1 Bulan) • 52,62% (1 Tahun) |
Manulife Saham Andalan | 6,76% (1 Bulan) • 7,95% (1 Tahun) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 4 Agustus 2026.
Reksadana Campuran
Reksadana campuran menawarkan fleksibilitas melalui kombinasi saham dan obligasi sehingga dapat menjadi pilihan bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang pemulihan pasar dengan tingkat risiko yang lebih terdiversifikasi.
Produk | Return |
Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A | 6,12% (1 Bulan) • 26,18% (1 Tahun) |
Sucorinvest Anak Pintar | 6,12% (1 Bulan) • 23,71% (1 Tahun) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 4 Agustus 2026.
Reksadana Pasar Uang
Bagi investor yang masih mengutamakan likuiditas, reksadana pasar uang tetap layak dicermati sebagai instrumen defensif sambil menunggu arah pasar semakin jelas.
Produk | Return |
Insight Money Syariah | 5,23% (1 Tahun) |
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia | 4,52% (1 Tahun) |
Mandiri Money Market USD | 2,63% (1 Tahun) |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,36% (1 Tahun) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 4 Agustus 2026
Harga emas masih bergerak volatil, namun tetap bertahan di atas US$4.000 per troy ounce.
Sejumlah lembaga global masih mempertahankan prospek positif. JPMorgan memperkirakan harga emas dapat mencapai US$4.500 per troy ounce pada akhir 2026. Sementara konsensus analis Reuters memproyeksikan rata-rata harga emas US$4.509 per troy ounce pada 2026 dan US$4.610 per troy ounce pada 2027.
Dengan asumsi kurs rupiah dan premium emas digital relatif tetap, harga emas digital secara ilustratif berpotensi mendekati Rp2,7 juta per gram. Estimasi tersebut bukan target harga maupun jaminan hasil investasi.
Mitra | Harga Beli |
Treasury | Rp2.427.649 |
Pegadaian | Rp2.478.788 |
Indogold | Rp2.408.172 |
Sumber: Bareksa Emas, 5/8/2026 pagi
Penguatan IHSG, membaiknya likuiditas pasar menurut OJK, turunnya yield obligasi, stabilnya rupiah, serta meredanya tekanan harga minyak menjadi kombinasi sentimen yang mendukung pasar keuangan domestik.
Dalam kondisi tersebut, investor dapat mencermati reksadana saham untuk memanfaatkan momentum rebound, reksadana campuran melalui strategi investasi bertahap (DCA), reksadana pasar uang sebagai instrumen defensif, serta emas sebagai pelengkap diversifikasi sesuai profil risiko dan tujuan investasi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
IHSG didorong oleh membaiknya likuiditas pasar, stabilnya rupiah, turunnya yield obligasi, serta sentimen global yang lebih kondusif.
Bid-ask spread yang semakin sempit menunjukkan likuiditas pasar membaik sehingga transaksi menjadi lebih efisien dan mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor.
Momentum rebound IHSG dapat membuka peluang bagi reksa dana saham untuk mengikuti potensi penguatan pasar. Namun investor tetap perlu menyesuaikan dengan profil risikonya.
Reksadana campuran cocok bagi investor yang ingin memperoleh potensi pertumbuhan dari saham sekaligus menjaga diversifikasi melalui obligasi.
Meski pasar mulai membaik, ketidakpastian global masih ada sehingga reksa dana pasar uang dapat membantu menjaga likuiditas dan mengelola risiko.