
Bareksa - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK) memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga meski yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,375% pada 3 Agustus 2026. Apalagi investor asing masih mencatatkan net buy di pasar Surat Berharga Negara (SBN) Rp13,35 triliun secara year to date (YTD).
Di saat bersamaan, harga minyak Brent anjlok sekitar 7% ke US$83,7 per barel setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan ke Iran.
Kondisi ini membuat reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, reksadana pasar uang, serta emas layak dicermati investor.
KSSK menyatakan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Yield SBN tenor 10 tahun memang naik ke level 7,375%, namun minat investor asing terhadap pasar obligasi domestik masih kuat, tercermin dari net buy Rp13,35 triliun secara YTD hingga 30 Juli 2026.
Di sisi lain, pasar juga mencermati transisi kepemimpinan Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dan posisi Gubernur BI sementara dijabat Senior Deputi Gubernur Destry Damayanti.
Sementara itu, sentimen global membaik setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan ke Iran sehingga harga minyak Brent turun sekitar 7% menjadi US$83,7 per barel. Meredanya tensi geopolitik juga membuat harga emas dunia bergerak melemah tipis ke kisaran US$4.048-4.053 per troy ounce.
Reksadana Pendapatan Tetap
Kenaikan yield SBN membuat reksadana pendapatan tetap masih menarik sebagai strategi carry play, terutama bagi investor yang ingin memanfaatkan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi sambil tetap mengandalkan stabilitas pasar obligasi domestik.
Investor dapat mencermati antara lain:
Produk | Return |
Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A | +1,82% (1 tahun) |
Mandiri Investa Dana Syariah Kelas A | +1,80% (1 tahun) |
BNP Paribas Prima USD Kelas RK1 | +0,66% (1 tahun) |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | +1,75% (6 bulan) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 3/8/2026
Reksadana Campuran
Meski IHSG masih bergerak fluktuatif, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) tetap layak dipertimbangkan untuk memanfaatkan valuasi saham yang masih menarik, sementara porsi obligasi dalam portofolio membantu menjaga fleksibilitas.
Beberapa produk yang dapat dicermati:
Produk | Return |
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | +1,25% (1 bulan) |
Sucorinvest Anak Pintar | +4,67% (1 bulan) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 3/8/2026
Bagi investor yang mengutamakan likuiditas, reksadana pasar uang tetap relevan sebagai pilihan defensif di tengah dinamika pasar dan transisi kepemimpinan Bank Indonesia.
Beberapa pilihan antara lain:
Produk | Return |
Insight Money Syariah | +5,27% (1 tahun) |
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia | +4,55% (1 tahun) |
Mandiri Money Market USD | +2,65% (1 tahun) |
BRI Seruni Likuid Dolar | +3,40% (1 tahun) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 3/8/2026
Harga emas spot turun tipis ke kisaran US$4.048-4.053 per troy ounce setelah meredanya ketegangan AS-Iran. Meski demikian, emas tetap layak dipertimbangkan sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.
Harga beli emas digital:
Platform | Harga |
Treasury | Rp2.410.538/gram |
Pegadaian | Rp2.485.770/gram |
Indogold | Rp2.404.560/gram |
Sumber: fitur Bareksa Emas, per 4/8/2026 pagi
Stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga menurut KSSK, arus dana asing yang masih masuk ke pasar SBN, serta meredanya tensi geopolitik menjadi kombinasi sentimen yang mendukung pasar keuangan domestik. Dalam kondisi tersebut, investor dapat mencermati reksadana pendapatan tetap untuk memanfaatkan yield obligasi yang tinggi, reksadana campuran melalui strategi DCA, reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas, serta emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Yield SBN tenor 10 tahun naik ke 7,375% seiring tingginya ketidakpastian pasar global dan penyesuaian ekspektasi suku bunga. Meski demikian, KSSK menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga dan investor asing masih mencatatkan net buy di pasar SBN.
Yield obligasi yang lebih tinggi berpotensi menciptakan peluang bagi investor jangka menengah hingga panjang. Reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi dapat menjadi pilihan untuk memanfaatkan potensi imbal hasil tersebut, meski tetap memiliki risiko fluktuasi NAB dalam jangka pendek.
Reksadana campuran menawarkan diversifikasi antara saham, obligasi, dan pasar uang. Di tengah IHSG yang masih berfluktuasi, strategi investasi bertahap (Dollar Cost Averaging/DCA) dapat membantu investor memanfaatkan peluang pemulihan pasar.
Reksadana pasar uang cocok bagi investor yang mengutamakan likuiditas, memiliki tujuan investasi jangka pendek, atau masih menunggu kepastian arah pasar sebelum menambah porsi investasi di aset yang lebih berisiko.
Harga emas turun tipis setelah meredanya tensi geopolitik menyusul kabar AS membatalkan rencana serangan ke Iran sehingga permintaan aset safe haven sedikit berkurang. Namun emas tetap dapat berperan sebagai instrumen diversifikasi portofolio.