
Bareksa - Setelah reli 10,5% sepanjang Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai melandai di akhir bulan.
Di saat yang sama, spread imbal hasil SBN terhadap US Treasury menyempit dan harga minyak terkoreksi dari puncaknya.
Kombinasi ini memberi sinyal pasar memasuki fase konsolidasi, sehingga strategi investasi berimbang melalui reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, reksadana pasar uang, serta emas layak dicermati.
Tim Analis Bareksa mencermati pasar memasuki Agustus dengan karakter yang berbeda dibanding Juli. Sepanjang Juli 2026, IHSG melonjak 10,51%, namun pada pekan terakhir penguatannya melambat menjadi hanya 0,64% hingga ditutup di level 6.236,13 pada 31 Juli.
Perlambatan tersebut juga tercermin dari aktivitas perdagangan. Meski IHSG masih mencatat kenaikan mingguan, rata-rata nilai transaksi harian, volume transaksi, dan frekuensi transaksi di BEI justru menurun dibanding pekan sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan tenaga reli mulai berkurang setelah kenaikan tajam sepanjang Juli, sehingga pasar berpotensi memasuki fase konsolidasi dan rotasi aset. Di sisi lain, investor asing masih mencatat net buy Rp1,61 triliun sepanjang Juli 2026, menandakan minat terhadap aset Indonesia belum sepenuhnya surut meski momentum kenaikan mulai melambat.
Di pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun bertahan di kisaran 7,337% pada akhir Juli, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun naik hingga 4,745%. Kenaikan yield Treasury yang lebih cepat membuat spread SBN terhadap US Treasury menyempit. Artinya, premi imbal hasil obligasi Indonesia dibanding obligasi pemerintah AS mulai mengecil.
Meski demikian, level yield SBN domestik masih relatif tinggi sehingga strategi carry play tetap menarik, terutama bagi investor yang mengincar pendapatan kupon dibanding mengejar capital gain jangka pendek.
Sentimen positif lain datang dari pasar energi. Harga minyak Brent turun 4,65% menjadi US$83,84 per barel pada 2 Agustus, atau telah terkoreksi sekitar 9% dibanding puncaknya di kisaran US$91-93 per barel pada akhir Juli. Koreksi ini menunjukkan risk premium akibat konflik Amerika Serikat-Iran mulai mereda.
Namun, risiko belum sepenuhnya hilang. Jalur pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar sehingga setiap eskalasi baru berpotensi kembali mendorong harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Rupiah melemah sekitar 0,45% sepekan ke Rp18.020 per dolar AS pada 2 Agustus. Selain kenaikan yield US Treasury yang menjaga daya tarik dolar AS, pasar juga mencermati transisi kepemimpinan Bank Indonesia. Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, kini menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri secara sukarela karena alasan pribadi pada 25 Juli 2026.
Transisi ini penting bagi pasar karena investor akan mencermati siapa Gubernur BI definitif berikutnya dan apakah arah kebijakan moneter akan tetap konsisten, terutama dalam menjaga stabilitas rupiah, inflasi, dan suku bunga di tengah yield AS yang tinggi. Untuk sementara, kepemimpinan Destry memberi kontinuitas karena ia merupakan Deputi Gubernur Senior dan bagian dari Dewan Gubernur BI yang menjalankan kebijakan moneter selama ini.
Melihat kombinasi melambatnya momentum IHSG, spread obligasi yang menyempit, serta risiko geopolitik yang belum sepenuhnya reda, Tim Analis Bareksa menilai strategi investasi berimbang lebih relevan pada awal Agustus.
Yield SBN yang masih tinggi membuat reksadana pendapatan tetap tetap menarik sebagai sumber pendapatan relatif stabil.
Pilihan IDR (Return 1 Tahun):
Produk | Return |
Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A | 1,79% |
Mandiri Investa Dana Syariah Kelas A | 1,78% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 31/7/2026
Pilihan USD (Return 6 Bulan):
Produk | Return |
BNP Paribas Prima USD Kelas R | 1,67% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 1,78% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 31/7/2026
Momentum penguatan IHSG yang mulai melandai dapat dimanfaatkan investor jangka panjang melalui strategi dollar cost averaging (DCA) pada reksadana campuran yang memiliki fleksibilitas mengelola alokasi saham dan obligasi.
Produk | Return |
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A (1 Bulan) | 1,44% |
Sucorinvest Anak Pintar (1 Bulan) | 7,49% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 31/7/2026
Bagi investor yang masih menunggu arah pasar setelah suksesi Gubernur BI, reksadana pasar uang dapat menjadi pilihan defensif.
IDR (Return 1 Tahun):
Produk | Return |
Insight Money Syariah | 5,25% |
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia | 4,52% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 31/7/2026
USD (Return 1 Tahun):
Produk | Return |
Mandiri Money Market USD | 2,64% |
BRI Seruni Likuid Dolar | 3,38% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 31/7/2026
Harga emas spot masih bertahan di atas US$4.000 per ons meski harga minyak Brent telah terkoreksi sekitar 9% dari puncaknya. Ketahanan emas di level psikologis tersebut menunjukkan permintaan terhadap aset safe haven belum sepenuhnya mereda. Di satu sisi, turunnya harga minyak membantu meredakan risiko inflasi global. Namun di sisi lain, ketidakpastian geopolitik masih membayangi karena jalur pelayaran Selat Hormuz belum sepenuhnya aman, sementara kenaikan yield US Treasury ke 4,745% juga membatasi ruang kenaikan harga emas.
Secara teknikal, kemampuan emas bertahan di atas US$4.000/oz menjadi sinyal bahwa tren jangka menengah masih relatif konstruktif. Selama level tersebut mampu dipertahankan, emas masih layak dicermati sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan hedge apabila konflik Timur Tengah kembali meningkat, volatilitas pasar keuangan naik, atau terjadi pelemahan lebih lanjut pada rupiah.
Harga beli emas digital (3 Agustus 2026):
Platform | Harga/gram |
Treasury | Rp2.435.615 |
Pegadaian | Rp2.485.770 |
Indogold | Rp2.425.200 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, harga per 3/8/2026 pagi
Tim Analis Bareksa melihat sinyal utama pasar pada awal Agustus bukan lagi fase reli seperti Juli, melainkan fase konsolidasi. IHSG masih bertahan di level tinggi, namun momentumnya mulai melambat, spread SBN-AS menyempit, dan harga minyak terkoreksi meski risiko geopolitik belum hilang.
Dalam kondisi seperti ini, investor dapat mempertimbangkan pendekatan yang lebih seimbang: memanfaatkan carry melalui reksadana pendapatan tetap, melakukan DCA pada reksadana campuran, menjaga likuiditas lewat reksadana pasar uang, serta mempertahankan eksposur emas sebagai lindung nilai apabila risiko geopolitik kembali meningkat.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Karena setelah naik 10,51% sepanjang Juli, penguatan mingguan hanya 0,64% disertai penurunan aktivitas transaksi, yang mengindikasikan pasar mulai memasuki fase konsolidasi.
Artinya selisih imbal hasil SBN Indonesia terhadap US Treasury mengecil karena kenaikan yield Treasury lebih cepat dibanding SBN Indonesia.
Karena yield SBN domestik masih relatif tinggi sehingga strategi memperoleh pendapatan (carry) masih menarik.
Karena manajer investasi memiliki fleksibilitas mengatur porsi saham dan obligasi ketika pasar memasuki fase konsolidasi.
Emas tetap dapat dipertimbangkan sebagai aset lindung nilai apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat dan mendorong kenaikan harga minyak.