
Bareksa – Ketika konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Meski Selat Hormuz jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia masih ditutup dan risiko geopolitik meningkat, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun menjadi 7,236%, rupiah bergerak relatif stabil, dan spread imbal hasil terhadap US Treasury tetap lebar sekitar 269 basis poin.
Kondisi tersebut menunjukkan investor belum melakukan aksi jual terhadap obligasi pemerintah Indonesia. Sebaliknya, kombinasi turunnya yield US Treasury, stabilnya rupiah, serta kupon tetap ORI030 membuat instrumen pendapatan tetap kembali menarik untuk dicermati di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Snapshot Pasar
Indikator | Kondisi Terbaru | Implikasi |
Selat Hormuz | Masih ditutup | Risiko pasokan minyak meningkat |
Yield SUN 10 Tahun | 7,236% | Obligasi RI tetap diminati |
Yield US Treasury | 4,549% | Ekspektasi The Fed menahan suku bunga |
Spread SUN vs UST | 269 bps | Premi yield Indonesia tetap menarik |
Rupiah | Rp18.045–18.143/US$ | Relatif stabil |
Harga Emas | US$4.058,11/ons | Safe haven tetap diminati |
Sumber: Investing, diolah Tim Analis Bareksa, data per 16/7.2026 pagi
Iran menutup Selat Hormuz sejak 12 Juli 2026 setelah insiden penembakan kapal yang melintas tanpa izin. Jalur ini menjadi salah satu titik paling strategis bagi perdagangan energi dunia karena sekitar 20% distribusi minyak global melewati kawasan tersebut.
Ketegangan meningkat ketika Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran pada 14 Juli 2026. Iran kemudian merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania serta fasilitas di Bahrain dan Kuwait sehari kemudian.
Perkembangan tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dan kenaikan harga minyak dunia.
Biasanya eskalasi geopolitik mendorong investor mengurangi aset berisiko. Namun kondisi kali ini berbeda. Yield SUN tenor 10 tahun justru turun menjadi 7,236% pada 15 Juli 2026 dari 7,259% sehari sebelumnya. Penurunan yield mencerminkan harga obligasi yang naik, sehingga mengindikasikan permintaan investor terhadap SUN masih cukup kuat.
Salah satu faktor pendukung datang dari Amerika Serikat. Data Producer Price Index (PPI) Juni 2026 tercatat 5,5% (YoY), lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar 6,2%. Inflasi yang lebih rendah mendorong yield US Treasury tenor 10 tahun turun menjadi 4,549%, sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve belum memiliki urgensi menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli.
Perbandingan Yield
Instrumen | Yield |
SUN RI 10 Tahun | 7,236% |
US Treasury 10 Tahun | 4,549% |
Spread | 269 bps |
Sumber: Investing, diolah
Spread yang tetap lebar menunjukkan obligasi pemerintah Indonesia masih menawarkan premi imbal hasil yang kompetitif dibandingkan obligasi pemerintah AS.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, rupiah belum mengalami tekanan signifikan. Setelah menguat sekitar 0,22% menjadi Rp18.045,3 per dolar AS pada Rabu (15/7), rupiah bergerak di kisaran Rp18.045–18.143 pada perdagangan Kamis pagi (16/7).
Pergerakan tersebut menunjukkan sentimen domestik masih cukup kuat menahan tekanan eksternal, meski investor tetap perlu mewaspadai perkembangan konflik di Timur Tengah.
Meningkatnya risiko geopolitik kembali mendorong permintaan aset safe haven. Harga emas dunia ditutup di US$4.058,11 per troy ons, naik 0,06% dibandingkan sehari sebelumnya.
Meningkatnya permintaan aset safe haven juga tercermin pada harga emas digital di Bareksa. Seiring kenaikan harga emas dunia yang bertahan di atas US$4.000 per troy ons, harga beli emas digital dari seluruh mitra Bareksa turut bergerak naik pada perdagangan 16 Juli 2026.
Mitra Bareksa Emas | Harga Beli per Gram |
Treasury | Rp2.417.558 |
Pegadaian | Rp2.520.683 |
Indogold | Rp2.396.394 |
Sumber: fitur Bareksa Emas, data per 16 Juli 2026 pagi
ORI030 masih berada dalam masa penawaran hingga 30 Juli 2026.
Seri | Tenor | Kupon Tetap |
ORI030-T3 | 3 Tahun | 6,9% |
ORI030-T6 | 6 Tahun | 7% |
Sumber: Kemenkeu
Selain memberikan kupon tetap setiap bulan, ORI030 juga dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah masa minimum holding periode (MHP) atau memasuki masa tradable sehingga memberi fleksibilitas bagi investor.
Di tengah volatilitas pasar, reksa dana pasar uang dapat menjadi alternatif untuk menjaga likuiditas.
Produk | Return 1 Tahun |
STAR Money Market Kelas Utama | 4,6% |
Insight Money | 5,25% |
Sucorinvest Money Market USD | 3,57% |
Bahana Liquid USD | 2,76% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 15/7/2026
Instrumen berbasis dolar AS dapat menjadi salah satu alternatif diversifikasi.
Produk | Return 3 Bulan |
STAR Fixed Income Neo AI Dollar | 1,5% |
BNP Paribas Prima USD Kelas R | 1,55% (1 tahun) |
Sumber: Bareksa, kinerja per 15/7/2026
Situasi geopolitik yang memanas belum tentu mengubah strategi investasi jangka panjang. Yang lebih penting adalah menjaga komposisi portofolio tetap seimbang sesuai tujuan investasi dan profil risiko.
Dalam kondisi saat ini, investor dapat mempertimbangkan beberapa langkah:
Memanfaatkan ORI030 untuk memperoleh kupon tetap hingga jatuh tempo, sekaligus peluang capital gain ketika diperdagangkan di pasar sekunder.
Menempatkan dana jangka pendek pada reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas di tengah volatilitas.
Menambah diversifikasi melalui reksadana pendapatan tetap USD bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap aset berbasis dolar AS.
Mempertahankan alokasi pada aset lindung nilai seperti emas sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.
Selat Hormuz masih ditutup sehingga risiko geopolitik tetap tinggi.
Yield SUN 10 tahun turun menjadi 7,236%, menandakan permintaan obligasi pemerintah Indonesia tetap kuat.
Spread yield terhadap US Treasury sekitar 269 bps masih relatif menarik.
Rupiah bertahan stabil meski konflik meningkat.
ORI030, reksa dana pasar uang, dan reksa dana pendapatan tetap USD dapat menjadi pilihan untuk menjaga keseimbangan portofolio.
Eskalasi konflik AS-Iran kembali meningkatkan ketidakpastian global, tetapi pasar keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Turunnya yield SUN, stabilnya rupiah, serta tetap lebarnya spread terhadap US Treasury menjadi sinyal bahwa minat investor terhadap obligasi pemerintah Indonesia masih terjaga.
Di tengah kondisi tersebut, ORI030, reksadana pasar uang, dan reksadana pendapatan tetap USD dapat menjadi alternatif yang layak dicermati sebagai bagian dari strategi diversifikasi sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Ni Putu Kurniasari/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.
Selat Hormuz merupakan jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini dapat memicu kenaikan harga energi dan meningkatkan volatilitas pasar global.
Yield SUN tenor 10 tahun turun ke 7,236% karena permintaan terhadap obligasi pemerintah Indonesia tetap terjaga. Penurunan yield US Treasury setelah data inflasi produsen AS melandai juga turut mendukung.
ORI030 menawarkan kupon tetap 6,9% (T3) dan 7% (T6) serta dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah memasuki masa tradable.
Ketidakpastian geopolitik meningkatkan permintaan aset safe haven sehingga harga emas dunia bertahan di atas US$4.000 per troy ons.
Investor dapat mempertimbangkan ORI030 untuk pendapatan tetap, reksa dana pasar uang untuk menjaga likuiditas, serta reksa dana pendapatan tetap USD sebagai bagian dari diversifikasi sesuai tujuan investasi dan profil risiko.