
Bareksa - Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20 Mei 2026. Kebijakan ini penting dicermati investor karena berpotensi memengaruhi pasar saham, obligasi, rupiah, hingga instrumen investasi berbasis suku bunga seperti Sukuk Tabungan ST016. Kenaikan suku bunga dilakukan di tengah meningkatnya tekanan global seiring sikap hawkish Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Kenaikan BI Rate menjadi level tertinggi sejak Juli 2025 muncul ketika pasar global mulai memperhitungkan peluang kenaikan Fed Rate. Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan AS mencapai sekitar 40% pada Januari 2027, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 4,6% per 20 Mei 2026. Harga minyak WTI juga bertahan tinggi di sekitar US$102 per barel sehingga menjadi perhatian pasar terhadap risiko inflasi global.
Di pasar domestik, kenaikan BI Rate berpotensi memberi tekanan jangka pendek pada IHSG dan obligasi karena biaya pendanaan dan yield pasar meningkat. Namun di sisi lain, kebijakan ini dapat menopang stabilitas rupiah di tengah penguatan dolar AS. Investor juga mulai mencermati instrumen berbasis floating rate seperti ST016 yang kuponnya berpotensi ikut naik mengikuti perubahan BI Rate.
Kenaikan BI Rate menjadi 5,25% membuat kupon Sukuk Tabungan seri ST016 berpotensi naik pada periode penyesuaian berikutnya. ST016-T2 memiliki spread 1,3% dan ST016-T4 sebesar 1,5% di atas BI Rate, dengan mekanisme floating with floor sehingga kupon tidak akan turun di bawah batas minimal. Penyesuaian kupon berikutnya mengacu pada BI Rate tiga hari kerja sebelum tanggal penetapan kupon 11 Agustus 2026.
Jika mengacu BI Rate terbaru 5,25%, maka kupon ST016-T2 berpotensi naik menjadi 6,55% dan ST016-T4 menjadi 6,75%. Setelah pajak 10%, imbal hasil neto ST016-T2 diperkirakan sekitar 5,895% dan ST016-T4 sekitar 6,075%, lebih tinggi dibanding rata-rata bunga bersih deposito sekitar 2,8% berdasarkan suku bunga penjaminan LPS. Kondisi ini membuat ST016 menjadi salah satu instrumen menarik yang bisa dicermati investor.
Selain ST016, reksadana pasar uang juga berpotensi mendapat sentimen positif karena kenaikan suku bunga dapat meningkatkan imbal hasil instrumen pasar uang dan deposito. Sementara untuk reksadana pendapatan tetap, investor cenderung lebih selektif terutama pada produk berdurasi panjang karena kenaikan yield obligasi dapat memicu fluktuasi harga dalam jangka pendek.
Ringkasan Dampak BI Rate 5,25%
Instrumen | Dampak Utama | Status |
|---|---|---|
Obligasi/SBN | Yield naik, harga obligasi berpotensi turun | Selektif |
Rupiah | Berpotensi menopang nilai tukar | Pantau |
Emas | Suku bunga tinggi dapat menekan harga emas | Pantau |
ST016 | Kupon berpotensi naik | Dicermati |
RD Pasar Uang | Potensi imbal hasil meningkat | Stabil |
Sumber: Tim Analis Bareksa
Simulasi Kupon ST016 Setelah BI Rate 5,25%
Keterangan | ST016-T2 | ST016-T4 |
|---|---|---|
BI Rate | 5,25% | 5,25% |
Spread | 1,3% | 1,5% |
Kupon Potensial | 6,55% | 6,75% |
Imbal Hasil Neto | 5,895% | 6,075% |
Deposito After Tax | 2,8% | 2,8% |
Sumber: Kemenkeu, BI, LPS, diolah dari data per Mei 2026.
Pilihan Reksadana Pasar Uang
Produk Reksadana | Imbal Hasil |
|---|---|
Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia | 4,9% |
KIM Money Market Fund | 5,04% |
Insight Money Syariah | 5,68% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 19 Mei 2026
Pilihan Reksadana Pendapatan Tetap
Produk Reksadana | Imbal Hasil |
|---|---|
KIM Fixed Income Fund Plus | 9,47% |
STAR Stable Amanah Sukuk | 7,51% |
STAR Stable Income Fund Kelas Utama | 7,43% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 19 Mei 2026
Pilihan Reksadana USD
Produk Reksadana | Imbal Hasil |
|---|---|
STAR Fixed Income Dollar | 4,2% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | 1,5% |
Mandiri Money Market USD | 2,76% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 19 Mei 2026.
*Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan.
Kenaikan BI Rate menjadi 5,25% menunjukkan bank sentral Indonesia masih fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan mengantisipasi tekanan global. Kondisi ini membuat investor mulai menyesuaikan strategi investasi di tengah tren suku bunga yang lebih tinggi.
Instrumen berbasis suku bunga seperti ST016 dan reksa dana pasar uang berpotensi lebih dicermati pasar, sementara obligasi dan saham berpotensi menghadapi volatilitas jangka pendek. Diversifikasi dan penyesuaian profil risiko tetap menjadi faktor penting dalam pengelolaan portofolio investasi.
1. Berapa BI Rate terbaru?
BI Rate naik menjadi 5,25% pada RDG Bank Indonesia 20 Mei 2026.
2. Apa dampak BI Rate naik ke IHSG?
Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya pendanaan dan berpotensi menekan sentimen pasar saham.
3. Apakah kupon ST016 ikut naik?
Ya, kupon ST016 berpotensi naik mengikuti mekanisme floating with floor pada periode penyesuaian berikutnya.
4. Kapan penyesuaian kupon ST016 berikutnya?
Penyesuaian kupon berikutnya dijadwalkan pada 11 Agustus 2026.
5. Mengapa reksadana pasar uang dicermati saat BI Rate naik?
Karena kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan imbal hasil instrumen pasar uang dan deposito yang menjadi portofolio utama RDPU.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/Rahmat Hidayat/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.