
Bareksa - Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan LPG pada April 2026 memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi. Hal ini penting bagi investor karena berpotensi menekan daya beli dan memengaruhi strategi pengelolaan aset.
Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Harga minyak mentah global menjadi faktor utama yang memengaruhi harga energi domestik.
Harga minyak mentah WTI tercatat berada di kisaran US$89 per barel pada 20 April 2026. Pada Kamis pagi (23 April), harga minyak WTI di US$96,53 per barel.
Sejak akhir Februari 2026, sejak perang AS, Israeel vs Iran pecah, harga minyak sempat naik sekitar 33% dari kisaran US$67 ke level tertinggi sekitar US$114 per barel.
Sumber: Investing
Kenaikan harga minyak mendorong penyesuaian harga BBM nonsubsidi di Indonesia. Harga BBM nonsubsidi naik sekitar 48%–65% per 18 April 2026.
Selain itu, harga gas LPG 12 kilogram juga mengalami kenaikan sekitar 18,7%.
Grafik Kenaikan Harga BBM Non Subsidi 18 April 2026
Sumber: MyPertamina
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan logistik. Dampaknya bisa merambat ke harga barang kebutuhan sehari-hari, termasuk pangan.
Namun, karena yang naik adalah BBM nonsubsidi, dampaknya diperkirakan lebih terbatas dibanding periode sebelumnya. Dalam sejarah, kenaikan harga BBM sering diikuti lonjakan inflasi. Pada 2005, inflasi mencapai 17,1% saat BBM naik tajam.
Sementara pada 2008 dan 2013–2014, inflasi juga meningkat ke kisaran 8%–11%.
Tabel Historis Kenaikan BBM & Inflasi
Tahun | Kenaikan BBM | Inflasi |
|---|---|---|
2005 | 87,5% | 17,1% |
2008 | 33,3% | 11,1% |
2013 | 44,4% | 8,4% |
2014 | 30,8% | 8,4% |
Sumber: BPS, Kementerian ESDM (diolah)
Kenaikan biaya hidup membuat investor perlu menjaga nilai aset dari erosi inflasi. Target inflasi Indonesia 2026 berada di kisaran 2,5% ±1%. Artinya, instrumen investasi dengan potensi imbal hasil di atas inflasi menjadi relevan untuk dipertimbangkan.
Diversifikasi juga penting untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar.Reksadana pendapatan tetap dan reksa dana USD bisa menjadi opsi diversifikasi sesuai profil risiko.
Jika reksadana pendapatan tetap cocok bagi yang mencari potensi stabilitas, sedangkan reksadana USD dapat dipertimbangkan untuk diversifikasi saat dolar menguat. Investasi bertahap dan disiplin membantu menghadapi ketidakpastian pasar.
Tabel Kinerja Reksadana Pendapatan Tetap Top 5 Bareksa Barometer
Produk | Kinerja 1 Tahun |
|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara | 8,69% |
KIM Fixed Income Fund Plus | 10,11% |
Avrist Emerald Stable Fund | 8,25% |
STAR Stable Income Fund Kelas Utama | 7,74% |
STAR Stable Amanah Sukuk | 8,01% |
Sumber: Bareksa, kinerja per 20 April 2026
Tabel Reksadana USD Pilihan
Produk | Jenis | 1 Bulan | 1 Tahun |
|---|---|---|---|
Eastspring Syariah Greater China Saham | Saham | 8,13% | 52,55% |
STAR Fixed Income Dollar | Pendapatan Tetap | 0,32% | 4,23% |
Mandiri Money Market USD | Pasar Uang | 0,23% | 2,84% |
STAR Fixed Income NEO AI Dollar | Pendapatan Tetap | 1,86% | - |
Sumber: Bareksa, kinerja per 20 April 2026
Kenaikan harga BBM dan LPG berpotensi mendorong inflasi meski dampaknya diperkirakan moderat. Dalam kondisi ini, menjaga nilai aset melalui diversifikasi dan instrumen dengan potensi imbal hasil di atas inflasi menjadi semakin relevan.
1. Mengapa harga BBM naik?
Karena kenaikan harga minyak dunia akibat faktor geopolitik.
2. Apakah inflasi pasti naik?
Berpotensi naik, namun diperkirakan lebih moderat karena bukan BBM subsidi.
3. Apa dampaknya ke investor?
Daya beli bisa tertekan dan nilai uang berpotensi tergerus inflasi.
4. Instrumen apa yang bisa dipertimbangkan?
Instrumen dengan potensi imbal hasil di atas inflasi dan portofolio terdiversifikasi.
5. Apakah dolar AS ikut berpengaruh?
Ya, penguatan dolar dapat meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Sigma Kinasih CTA, CFP/AM)
Tentang Penulis
* Sigma Kinasih adalah Investment Strategist di PT Bareksa Marketplace Indonesia dengan pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi, strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN. Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.