Bareksa Insight : Jurus Cuan Investasi Reksadana Saat Optimisme Window Dressing Memudar

Abdul Malik • 29 Dec 2022

an image
Ilustrasi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan yang memerah. (Shutterstock)

Pelaku pasar juga sedang menunggu rilis data klaim penggangguran AS yang akan menentukan arah inflasi Negara Paman Sam

Bareksa.com - Optimisme pelaku pasar atas hijaunya kinerja pasar saham Tanah Air pada Desember 2022 akibat aksi window dressing memudar. Sebab Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (28/12/2022) kembali ditutup melemah 1,06% di level 6.850,52 akibat aksi jual asing (net sell) Rp462,18 miliar. IHSG kembali terlempar dari level psikologisnya di 6.900-an ke level 6.800-an. 

Sebelumnya 2 hari beruntun, IHSG sempat ditutup menghijau sehingga optimisme atas window dressing meningkat setelah tiga pekan pertama Desember terus memerah. Namun kini perdagangan bursa tinggal 2 hari, hingga pergantian tahun 2023. Akibatnya harapan akan hijaunya IHSG pada Desember 2022 meredup. 

Sepekan terakhir, investor asing net sell Rp1,22 triliun. Sepanjang bulan berjalan hingga 28 Desember, aksi jual asing sekitar Rp18 triliun. Windows dressing adalah strategi manajemen perusahaan untuk mempercantik portofolio atau performa laporan keuangan sebelum dipublikasikan kepada para stakeholders. 

Baca juga : Bareksa Insight : Tanda Window Dressing Mulai Tampak, Cuan Reksadana Ini Bisa Melonjak

Rencanakan Investasimu di Reksadana, Klik di Sini

Menurut Tim Analis Bareksa, IHSG kembali ditutup melemah kemarin juga akibat banyaknya aksi ambil untung sementara oleh para investor. Ini seiring pelaku pasar masih wait and see (menanti) 2023 karena kinerja ekonomi global diramal suram akibat ancaman resesi. 

Pelaku pasar juga sedang menunggu rilis data klaim penggangguran Amerika Serikat (AS) yang akan menentukan arah inflasi Negara Paman Sam. Sebab, Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) terus agresif menaikkan suku bunga acuan (Fed Rate) untuk meredam tingginya inflasi. Tingginya suku bunga berpotensi menekan ekonomi AS dan bisa mengakibatkan resesi di 2023. 

Sepanjang 2022, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan 425 basis poin atau 4,25% jadi 4,25% - 4,5% saat ini untuk menekan inflasi, atau merupakan yang paling agresif dalam 41 tahun. The Fed mengisyaratkan kembali menaikkan suku bunga acuan di 2023 hingga di atas 5% dan baru mulai memangkasnya di awal 2024.

Berdasarkan data CNBC Indonesia, imbal hasil (yield) acuan Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun pada Rabu (28/12/2022) pukul 16.58 WIB di level 6,922.

Lihat juga : Bareksa Insight : Pasar Cermati Lonjakan Kasus Covid-19 China, Ini Cara Cuan Investasi Reksadana

Ingin Cuan dari Investasi di Reksadana, Klik di Sini

Apa yang bisa dilakukan Smart Investor?

Mempertimbangkan memudarnya optimisme atas window dressing Desember 2022 ini, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor menerapkan 2 jurus investasi ini agar cuannya tetap maksimal

1. Smart Investor direkomendasikan tetap kembali berinvestasi di reksadana saham dan reksadana indeks, di tengah penurunan sementara IHSG saat ini. Sebab kinerja IHSG ke depan diprediksi akan membaik. 

2. Smart Investor juga direkomendasikan tetap berinvestasi di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi, untuk menjaga stabilitas imbal hasil portofolionya. 

Simak juga : Bareksa Insight : Pekan Terakhir Window Dressing 2022, Ini Potensi Cuan Investasi Emas dan Reksadana

Siapkan Dana Darurat dengan Investasi di Reksadana, Klik di Sini

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan Smart Investor dengan profil risiko moderat dan agresif ialah sebagai berikut : 

Imbal Hasil Sepanjang Tahun Berjalan (YTD per 28 Desember 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 7,62%

Reksadana Saham

Schroders Dana Prestasi Plus : 11,87%

Reksadana Indeks

BNP Paribas Sri Kehati : 13,08%

Lihat juga : Bareksa Insight : PPKM Akan Berakhir, Reksadana Ini Bisa Kena Imbas Positif

Raih Financial Freedom dengan Investasi Reksadana, Klik di Sini

Untuk diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. 

Simak juga : Bareksa Insight : Jurus Cuan Investasi Reksadana Saat Optimisme Pasar Turun Jelang Akhir Tahun

Segera Investasi di Reksadana Sekarang, Klik di Sini

(Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.