Bareksa Insight : Pasar Modal Desember Abnormal? Ini Jurus Agar Investasi Cuan Terus

Abdul Malik • 12 Dec 2022

an image
Ilustrasi dua orang investor sedang memantau pergerakan pasar saham atau IHSG jelang rilis suku bunga acuan AS. Kinerja pasar modal pada Desember yang abnormal, sehingga Smart Investor perlu menerapkan strategi jitu agar investasinya di reksadana, emas dan SBN tetap cuan maksimal. (Shutterstock)

Penurunan IHSG ke level 6.600 - 6.800, justru bisa jadi peluang menarik untuk melakukan akumulasi investasi

Bareksa.com - Pasar saham Tanah Air dalam dua pekan pertama Desember 2022 turun signifikan akibat berbagai sentimen dari dalam dan luar negeri. Sepanjang bulan berjalan (MTD) hingga Jumat (9/12), Indeks Harga Saham Gabungan anjlok 4,35% ditutup di level 6.715.

Menurut Tim Analis Bareksa, dari dalam negeri, penurunan IHSG salah satunya akibat anjloknya saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang memiliki bobot cukup besar di IHSG. Tak hanya itu, emiten lain yang punya investasi di GOTO, seperti PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), juga turun cukup dalam.

Karena itu, Smart Investor perlu melihat bahwa tekanan tersebut berpeluang tidak akan berlangsung lama. Selain itu, penurunan IHSG ke level 6.600 - 6.800, justru bisa jadi peluang menarik untuk melakukan akumulasi investasi. Sebab, dalam 10 tahun terakhir IHSG tidak pernah mencatatkan penurunan pada bulan Desember. 

Sehingga Jika IHSG ditutup negatif pada Desember 2022 ini, maka akan jadi yang pertama kali dalam 10 tahun terakhir. 

Rencanakan Investasi di Reksadana, Klik di Sini

Proyeksi Kenaikan Suku Bunga AS Desember 2022

Target Rate (basis poin)

Probability

Current*

1 Day - 6 Dec 22

1 Week - 30 Nov 22

1 Month - 7 Nov 22

425-450

74.70%

78.20%

75.80%

52.00%

450-475

25.30%

21.80%

24.20%

48.00%

*As of 8 December 2022

Sumber : CME Group

Dari luar negeri, pekan lalu rilis neraca perdagangan Amerika Serikat (AS) dan China pada Oktober 2022 mencatatkan penurunan cukup dalam, sehingga membuat pelaku pasar semakin khawatir atas potensi resesi di 2023.

Pekan ini, pelaku pasar juga menanti rilis suku bunga acuan Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) atau Fed Rate yang diprediksi masih akan naik 0,5%. Menurut Tim Analis Bareksa, apabila kenaikan Fed Rate melebihi 0,5%, maka berpotensi menekan pasar saham dan obligasi global sehingga bisa melemah signifikan.

China sebagai negara berperan penting dalam rantai pasokan global cukup besar. Maka kinerja ekonomi Negara Panda berkontribusi besar terhadap potensi inflasi global tahun depan. Tim Analis Bareksa memprediksi kenaikan suku bunga acuan masih akan terus berlanjut hingga semester I tahun depan. 

Ingin Cuan dari Investasi di Reksadana, Klik di Sini

Apa yang harus dilakukan Smart Investor?

Mempertimbangkan beberapa sentimen tersebut, Tim Analis Bareksa menyarankan Smart Investor menerapkan 3 jurus berikut agar kinerja investasinya tetap cuan maksimal : 

1. Smart Investor dengan profil risiko agresif dapat mengakumulasi investasi secara bertahap di reksadana indeks dan reksadana saham berbasis sektor keuangan, konsumer, ritel dan energi dengan target investasi jangka pendek, ketika IHSG mengalami koreksi di level 6.600-6.800.

2. Sementara itu, Smart Investor dengan profil risiko moderat bisa mempertimbangkan akumulasi investasi secara bertahap di reksadana pendapatan tetap basis Surat Berharga Negara (SBN), jika yield (imbal hasil) acuan Obligasi Negara berada di level 7,2% - 7,3%. Untuk saat ini, Smart Investor bisa tetap berinvestasi di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi.

3. Untuk semua jenis profil risiko, Smart Investor dapat melakukan diversifikasi investasi di reksadana pasar uang dan instrumen emas digital untuk meningkatkan kinerja investasi. 

Raih Financial Freedom dengan Investasi di Reksadana, Klik Disini

Beberapa produk reksadana saham, reksadana indeks, reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang yang bisa dipertimbangkan Smart Investor ialah sebagai berikut : 

Mutual Fund Performance

Daftar Reksadana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Syailendra Dana Kas

3,76%

14,61%

TRIM Kas 2

3,55%

12,91%

Sucorinvest Sharia Money Market Fund

4,00%

16,36%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

Syailendra Pendapatan Tetap Premium

7,51%

29,93%

Sucorinvest Sharia Sukuk Fund

6,57%

-

Eastspring Syariah Fixed Income Amanah Kelas A

0,87%

17,80%

Reksa Dana Saham & Indeks

YtD

1 Tahun

Avrist Ada Saham Blue Safir

8,74%

6,40%

Sucorinvest Equity Fund

10,38%

9,83%

BNP Paribas Sri Kehati

13,85%

10,33%

Sumber : Tim Analis Bareksa, Return per NAV 7 Desember 2022

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga Smart Investor juga perlu membekali diri mengenai pengetahuan tentang peluang keuntungan maupun potensi risiko yang ada di pasar keuangan.

Tim analis Bareksa beranggotakan Christian Halim CFA (Head of Investment), Sigma Kinasih (Market & Funds Analyst) dan Ariyanto Dipo Sucahyo (Investment Analyst). 

(AM)


Segera Investasi di Reksadana Sekarang, Klik di Sini 

​***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​

Laporan ini dibuat oleh PT Bareksa Portal Investasi (“Bareksa”) semata-mata hanya untuk informasi. Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana. Bareksa tidak menerima tanggung jawab untuk kerugian yang ditimbulkan dari penggunaan materi yang disajikan dalam laporan ini.