
Bareksa - Pasar saham Indonesia sedang berada dalam tekanan valuasi yang melampaui kedalaman pandemi COVID-19. Berdasarkan data World PE Ratio per 26 Juni 2026, price-to-earnings (P/E) IHSG tercatat 9,69 kali, lebih rendah dari titik terendah COVID-19 pada April 2020 yang tercatat 12,9 kali, dan mendekati level Krisis Keuangan Global 2008.
IHSG ditutup di 5.896 pada 26 Juni 2026, turun 31,8% year-to-date (YTD) dari posisi awal tahun 8.647. Dengan rata-rata historis 20 tahun di 13,66 kali, valuasi saat ini diperdagangkan 29% di bawah rata-rata jangka panjangnya.
Di tengah kondisi ini, pemerintah akan menerbitkan Obligasi Negara Ritel seri ORI030 dengan masa penawaran 6–30 Juli 2026 — instrumen yang secara historis memberikan kepastian imbal hasil bahkan saat pasar berada dalam tekanan paling dalam.
Kedalaman koreksi valuasi saat ini melampaui apa yang terjadi di puncak kepanikan pandemi. Pada April 2020 saat IHSG menyentuh titik terendahnya di 3.937, P/E IHSG berada di 12,9 kali menurut data Samuel Sekuritas. P/E 9,69 kali yang tercatat saat ini mencerminkan diskon valuasi yang lebih dalam, bahkan tanpa resesi ekonomi sedalam COVID-19.
Riset strategi UOB Kay Hian yang diterbitkan 26 Juni 2026 menyebut kondisi ini sebagai "crisis-level valuations" dan mencatat IHSG diperdagangkan di bawah hampir semua pasar saham kawasan Asia Tenggara. Sebagai perbandingan berdasarkan data UOB Kay Hian, Malaysia diperdagangkan di 14,9 kali, Singapura 15,9 kali, dan Thailand 16,1 kali terhadap rata-rata historis 15 tahun P/E masing-masing.
Pasar | P/E Saat Ini | Keterangan |
|---|---|---|
Indonesia | 9,69x | Trailing P/E, rata-rata 20 tahun 13,66x (World PE Ratio) |
Malaysia | 14,9x | Forward P/E, rata-rata 15 tahun 15,3x (UOB Kay Hian) |
Thailand | 16,1x | Forward P/E, rata-rata 15 tahun 15,7x (UOB Kay Hian) |
Singapura | 15,9x | Forward P/E, rata-rata 15 tahun 13,3x (UOB Kay Hian) |
Sumber: World PE Ratio (Indonesia, 26 Juni 2026); Bloomberg, UOB Kay Hian (regional, 26 Juni 2026)
Di kondisi seperti ini, investor menghadapi dilema: masuk saham risikonya nyata, namun diam di deposito imbal hasilnya terbatas. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) baru menaikkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) deposito rupiah bank umum menjadi 3,75% berlaku 1 Juli 2026. Setelah PPh final 20%, imbal hasil bersih deposito hanya sekitar 3% per tahun.
Sumber: World PE Ratio
Sejarah membuktikan bahwa ketika IHSG tertekan, pemegang SBN yang memilih strategi hold to maturity tidak merasakan dampaknya.
Ketika IHSG anjlok 37% YTD dan menyentuh titik terendahnya di 3.937 pada 24 Maret 2020, kondisi pasar masih sangat bergejolak saat ORI017 terbit pada Juni 2020. Meski demikian, pemegang ORI017 tetap menerima kupon 6,4% per tahun setiap bulan tanpa perubahan, bahkan saat BI Rate kemudian dipangkas bertahap hingga 3,5%. Kupon yang sudah dikunci di hari pertama beli tidak ikut turun.
Perbedaan mendasarnya ada pada sifat imbal hasil. Saham memberikan return yang bergantung pada kinerja perusahaan dan sentimen pasar. Kupon SBN ORI bersifat tetap (fixed rate), dikunci sejak hari pertama beli dan tidak berubah hingga jatuh tempo, terlepas dari naik-turunnya IHSG atau pergerakan suku bunga setelah tanggal pembelian.
Dari ORI001 yang terbit pada 2006 hingga ORI029 pada Januari 2026, pemerintah telah menerbitkan 29 seri ORI. Tidak satu pun yang pernah gagal membayar kupon atau pokok kepada investor, karena pembayarannya dijamin penuh berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara dan dianggarkan setiap tahun dalam APBN.
Sumber: diolah Bareksa dari data Investing.com dan DJPPR Kemenkeu
ORI030 akan terbit dalam konteks yang secara historis menghasilkan kupon lebih kompetitif. BI Rate kini berada di 5,75% per 18 Juni 2026, naik 100 basis poin hanya dalam dua bulan dari 4,75% di April 2026, level tertinggi dalam lebih dari setahun.
Dari analisis 29 seri ORI sejak 2006, kupon ORI selalu ditetapkan di atas BI Rate saat masa penawaran, dengan rata-rata spread sekitar 133 basis poin. Tiga seri terakhir memberikan gambaran pola yang berlaku:
Seri | Terbit | BI Rate | Kupon T3 | Spread T3 | Kupon T6 | Spread T6 |
|---|---|---|---|---|---|---|
ORI027 | Feb 2025 | 5,75% | 6,65% | +90 bps | 6,75% | +100 bps |
ORI028 | Okt 2025 | 4,75% | 5,35% | +60 bps | 5,65% | +90 bps |
ORI029 | Jan 2026 | 4,75% | 5,45% | +70 bps | 5,8% | +105 bps |
Sumber: Kemenkeu RI, BI, diolah Bareksa
Investor yang membeli ORI030 berpotensi mengunci kupon di saat BI Rate berada di level tertinggi dalam lebih dari setahun. Jika ke depan BI Rate turun, kupon ORI030 yang sudah dipegang tidak akan ikut turun, berbeda dengan deposito yang bunganya mengikuti tren suku bunga. Ditambah, kupon SBN hanya dikenakan PPh final 10%, separuh dari pajak deposito 20%.
Bareksa adalah salah satu mitra distribusi resmi yang ditunjuk DJPPR Kemenkeu untuk penjualan ORI030. Pembelian dapat dilakukan secara daring melalui aplikasi Bareksa selama masa penawaran 6–30 Juli 2026, mulai dari Rp1 juta. Kupon resmi ORI030 ditetapkan pada 3 Juli 2026 — investor disarankan memastikan akun SBN di Bareksa sudah aktif sebelum masa penawaran dibuka.
Valuasi IHSG di P/E 9,69 kali kini melampaui kedalaman bottom COVID-19 (12,9 kali) dan mendekati level GFC 2008, mencerminkan ketidakpastian yang nyata. Di saat bersamaan, BI Rate berada di level tertinggi dalam lebih dari setahun setelah naik 100 basis poin dalam dua bulan, momen yang secara historis menghasilkan kupon ORI lebih kompetitif.
SBN memiliki rekam jejak terdokumentasi: 29 seri ORI sejak 2006, nol gagal bayar, dan kupon tetap mengalir setiap bulan bahkan saat IHSG anjlok 37% di COVID-19. ORI030 yang terbit 6 Juli 2026 menghadirkan potensi kepastian imbal hasil fixed rate di tengah kondisi pasar yang bergejolak dan suku bunga yang sedang tinggi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya.
Siap-siap Investasi ORI030 di Sini
(Rahmat Hidayat/AM)
Tentang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
***
DISCLAIMER
Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Bagi investor yang hold to maturity, pergerakan IHSG tidak memengaruhi kupon atau pokok ORI030. Kupon tetap dibayar setiap bulan pada tingkat yang dikunci sejak pembelian, dan pokok dikembalikan 100% pada jatuh tempo — dijamin penuh oleh undang-undang. Risiko capital loss hanya terjadi jika dijual di pasar sekunder sebelum jatuh tempo.
Secara historis, kupon ORI selalu ditetapkan di atas BI Rate saat penawaran, dengan rata-rata spread 133 basis poin. Dengan BI Rate di 5,75%, tertinggi dalam lebih dari setahun, maka investor yang masuk di pasar perdana berpotensi mengunci kupon di level tinggi. Jika BI Rate kemudian turun, kupon yang sudah dikunci tidak ikut turun, berbeda dengan deposito.
LPS menaikkan TBP deposito ke 3,75% berlaku 1 Juli 2026. Setelah PPh final 20%, imbal hasil bersih deposito hanya sekitar 3% per tahun. Kupon ORI hanya dikenakan PPh final 10%, separuh deposito. Selain itu, kupon ORI dikunci hingga jatuh tempo sementara bunga deposito dapat berubah setiap periode.
Bisa. ORI bersifat tradable di pasar sekunder antar investor domestik setelah melewati minimum holding period (MHP) satu kali pembayaran kupon, untuk ORI030 berlaku mulai 16 September 2026. Harga jual mengikuti kondisi pasar: ada potensi capital gain jika yield pasar turun, atau capital loss jika yield pasar naik.
Minimum pemesanan Rp1 juta dengan kelipatan Rp1 juta. Maksimum Rp5 miliar untuk ORI030-T3 (jatuh tempo 15 Juli 2029) dan Rp10 miliar untuk ORI030-T6 (jatuh tempo 15 Juli 2032, berstatus SDG Bond Ritel).