
Bareksa – Mengutip riset Ciptadana Sekuritas Asia (9/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,88% ke 6.031 pada Kamis (8/10/2026), diiringi jual bersih (net sell) investor asing Rp867 miliar.
Pelemahan terjadi di hampir semua sektor, dipimpin industri (–2,86%), energi (–2,77%), dan infrastruktur (–2,54%). Hanya sektor kesehatan (0,7%) serta transportasi dan logistik (0,61%) yang menguat. BBRI, AMMN, dan BMRI menjadi penekan utama indeks, sementara rupiah melemah 16 poin ke Rp17.898/US$.
Dari global, indeks S&P 500 turun 0,5% dan Nasdaq melemah 1,2% di tengah kekhawatiran inflasi dan ketegangan geopolitik. Bursa Asia mayoritas melemah, sementara harga minyak Brent melonjak 4,1% ke US$104 per barel. Untuk Jumat (9/10/2026), IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 5.973–6.120 dengan peluang rebound.
Rekomendasi Saham Hari Ini, 9 Oktober 2026
Harga Terakhir: Rp326 (8/10/2026)
Rekomendasi: Speculative Buy
Harga Masuk: Rp326
Target Harga: Rp340
Batas Rugi (Stop Loss): Rp320
Analisis: Saham ACES naik 1,23% setelah turun mendekati area support Rp310–320. Harga masih di bawah MA55 (rata-rata harga 55 hari), sehingga tren besar perlu diwaspadai. Namun, indikator stochastic berbalik naik dari area jenuh jual (oversold), menandakan momentum jangka pendek membaik. Resistance berada di Rp340–350 dan Rp360.
Harga Terakhir: Rp2.340 (8/10/2026)
Rekomendasi: Buy if Breakout
Harga Masuk: Di atas Rp2.390
Target Harga: Rp2.600
Batas Rugi (Stop Loss): Rp2.310
Analisis: Saham EXCL stabil di dekat level terendah terakhir Rp2.310 dengan stochastic yang pulih dari area jenuh jual. Harga masih di bawah area MA55 Rp2.520–2.620, sehingga tren besar masih lemah. Bertahan di atas Rp2.310 berpotensi mendukung pemulihan jangka pendek ke Rp2.530.
Harga Terakhir: Rp775 (8/10/2026)
Rekomendasi: Speculative Buy
Harga Masuk: Rp770
Target Harga: Rp835
Batas Rugi (Stop Loss): Rp700
Analisis: Saham KLBF naik 2,65% setelah bertahan di area support Rp705–730. Stochastic naik tajam hingga masuk area jenuh beli (overbought), menandakan momentum kuat namun rawan aksi ambil untung. Penembusan Rp780–800 berpotensi membuka ruang ke Rp830–850.
Harga Terakhir: Rp1.440 (8/10/2026)
Rekomendasi: Speculative Buy
Harga Masuk: Rp1.440
Target Harga: Rp1.535
Batas Rugi (Stop Loss): Rp1.400
Analisis: Saham PGAS naik 1,41% setelah bertahan di area support Rp1.425–1.440. Stochastic berbalik naik tajam dari area jenuh jual, meski harga masih di bawah MA55. Penembusan Rp1.470 berpotensi memperkuat rebound ke Rp1.520–1.565.
Ringkasan Rekomendasi Saham Ciptadana 9/10/2026
Kode Saham | Rekomendasi | Harga Masuk | Target Harga | Batas Rugi (Stop Loss) |
|---|---|---|---|---|
ACES | Speculative Buy | Rp326 | Rp340 | Rp320 |
EXCL | Buy if Breakout | Di atas Rp2.390 | Rp2.600 | Rp2.310 |
KLBF | Speculative Buy | Rp770 | Rp835 | Rp700 |
PGAS | Speculative Buy | Rp1.440 | Rp1.535 | Rp1.400 |
Sumber: Riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia, harga terakhir per 8/10/2026
Secara teknikal, IHSG masih dalam fase koreksi setelah gagal bertahan di area 6.400–6.450 dan berada di bawah MA55. Namun, stochastic mulai berbalik naik dari area jenuh jual. Selama support 5.973 bertahan, IHSG berpeluang rebound ke 6.150–6.300, sedangkan penembusan di bawahnya membuka risiko koreksi ke 5.800–5.600. Untuk 9/10/2026, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 5.973–6.120 dengan peluang ditutup lebih tinggi.
Dari kebijakan, dividen BPI Danantara sekitar Rp120 triliun tidak akan dicatat sebagai pendapatan negara dalam APBN 2026–2027 dan akan diputar kembali untuk investasi. Ciptadana menilai hal ini membuat peran penerimaan pajak makin penting.
Dari sektor properti, S&P Global Ratings memperkirakan penjualan rumah turun 3–5% pada 2026. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen September turun tipis ke 118,1 namun masih optimistis. Ciptadana selektif di sektor konsumer, dengan preferensi pada ICBP, ERAA, dan ERAL, serta cenderung defensif terhadap PWON di sektor properti.
IHSG masih dalam fase koreksi. Asing mencatat jual bersih Rp867 miliar. Jika support 5.973 tertembus, risiko koreksi ke 5.800–5.600 terbuka.
Tren besar sebagian saham masih lemah. ACES, EXCL, dan PGAS masih di bawah MA55, sehingga peluang rebound bersifat jangka pendek.
Rasio untung-rugi KLBF terbatas. Jarak ke target (Rp65) lebih kecil dari jarak ke batas rugi (Rp70), dan stochastic sudah di area jenuh beli, sehingga disiplin batas rugi penting.
Riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia menyoroti ACES, KLBF, dan PGAS dengan strategi speculative buy, serta EXCL dengan buy if breakout pada 9 Oktober 2026. Dengan IHSG yang masih dalam fase koreksi meski berpeluang rebound, disiplin menerapkan batas rugi menjadi kunci pengelolaan risiko.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Pembelian dengan risiko lebih tinggi untuk memanfaatkan peluang rebound jangka pendek, sehingga perlu disertai batas rugi yang disiplin.
Ciptadana menilai stochastic IHSG mulai berbalik naik dari area jenuh jual, sehingga terbuka peluang rebound teknikal selama support 5.973 bertahan.
Indikator yang mengukur posisi harga penutupan terhadap rentang harga dalam periode tertentu. Angka rendah menandakan jenuh jual, angka tinggi menandakan jenuh beli.
Pembelian baru dipertimbangkan jika harga berhasil menembus Rp2.390, sebagai konfirmasi bahwa rebound mulai terbentuk.
Dividen sekitar Rp120 triliun tersebut akan diputar kembali untuk investasi melalui Danantara Investment Management dan Danantara Asset Management, bukan disetorkan langsung ke kas negara.