
Bareksa - Bursa saham Indonesia melemah 1,2% ke level 6.299 pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, tertekan aksi jual investor asing senilai Rp1,5 triliun.
Sektor bahan baku, industri, dan properti menjadi pemberat utama, dengan saham BMRI, BBRI, dan BBCA menjadi penekan terbesar indeks. Rupiah ikut melemah ke Rp17.901 per dolar AS.
Dari luar negeri, bursa saham Amerika Serikat bergerak variatif di tengah kenaikan yield obligasi, harga minyak yang melonjak, dan ketidakpastian situasi di Timur Tengah. Bursa Asia juga bergerak beragam, dengan Jepang menguat ditopang saham semikonduktor, sementara Hong Kong dan China melemah.
Mengutip riset Ciptadana Sekuritas Asia, IHSG hari ini (25/9) diperkirakan bergerak di kisaran 6.254 hingga 6.425, dengan indeks berpotensi ditutup melemah kembali. Tekanan jual asing yang masih besar dan pelemahan rupiah menambah kehati-hatian pelaku pasar dalam negeri.
Strategi: Buy on Weakness
Harga Terakhir: Rp3.520
Target Harga: Rp3.560
Batas Rugi (Stop Loss): Rp3.400
Harga Beli Disarankan: Rp3.450
Strategi: Buy on Weakness (beli saat harga tertekan)
Analisis: Harga BBNI turun 1,95% ke Rp3.520 pada 24 September, melanjutkan tren melemah setelah harga jatuh di bawah garis tren naik dan rata-rata pergerakannya. Struktur harga masih menunjukkan pelemahan, sehingga peluang beli baru terbuka di area Rp3.450 dengan tetap mewaspadai potensi tekanan jual lanjutan.
Harga Terakhir: Rp6.950
Target Harga: Rp7.100
Batas Rugi (Stop Loss): Rp6.800
Harga Beli Disarankan: Rp6.900
Strategi: Buy on Weakness (beli saat harga tertekan)
Analisis: Harga INDF naik tipis 0,36% ke Rp6.950 pada 24 September, berada dalam fase konsolidasi mendatar setelah sebelumnya turun dari level tertinggi Rp7.600. Tekanan jual jangka pendek mulai terlihat jenuh, membuka peluang rebound teknikal jika area support Rp6.850-6.575 dapat bertahan. Dari keempat saham, INDF menunjukkan sinyal paling stabil.
Harga Terakhir: Rp2.730
Target Harga: Rp2.820
Batas Rugi (Stop Loss): Rp2.590
Harga Beli Disarankan: Rp2.660
Strategi: Buy on Weakness (beli saat harga tertekan)
Analisis: Harga JSMR turun tajam 2,50% ke Rp2.730 pada 24 September, masih dalam tren melemah dengan tekanan jual yang dominan. Namun, indikator jenuh jual mulai terbentuk, membuka peluang beli di area Rp2.660. Jika level ini tertembus, risiko pelemahan lanjutan ke Rp2.530-2.450 perlu diwaspadai.
Harga Terakhir: Rp2.410
Target Harga: Rp2.440
Batas Rugi (Stop Loss): Rp2.300
Harga Beli Disarankan: Rp2.350
Strategi: Buy on Weakness (beli saat harga tertekan)
Analisis: Harga TLKM turun 1,23% ke Rp2.410 pada 24 September, melanjutkan tren melemah dengan tekanan jual yang masih dominan. Indikator jenuh jual mulai terlihat, membuka peluang rebound teknikal di area Rp2.350 jika berhasil bertahan dan pulih ke atas Rp2.540-2.600.
Tabel Rekomendasi Saham 25 September 2026
Kode Saham | Strategi | Harga Terakhir | Target Harga | Batas Rugi (Stop Loss) |
|---|---|---|---|---|
BBNI | Buy on Weakness | Rp3.520 | Rp3.560 | Rp3.400 |
INDF | Buy on Weakness | Rp6.950 | Rp7.100 | Rp6.800 |
JSMR | Buy on Weakness | Rp2.730 | Rp2.820 | Rp2.590 |
TLKM | Buy on Weakness | Rp2.410 | Rp2.440 | Rp2.300 |
Sumber: Tim Analis Bareksa, harga terakhir per 24/9/2026
Di sisi makro, Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 5,2% tahun ini dan tahun depan, meski memperingatkan ekspor bersih berpotensi melemah di tengah eskalasi geopolitik dan harga minyak yang lebih tinggi. Sementara itu, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sudah mencapai 71% dari target tahun ini, lebih cepat dibanding periode sama tahun lalu.
Di sisi emiten, BTPS mencatat kinerja laba yang sesuai ekspektasi dengan margin bunga bersih yang terus membaik selama tiga bulan berturut-turut, sementara JSMR mengumumkan rencana ekspansi lewat akuisisi sejumlah ruas jalan tol yang dinilai positif bagi pertumbuhan pendapatan, meski turut menambah beban utang perusahaan.
BBNI, JSMR, dan TLKM Masih dalam Tren Turun: Ketiga saham ini masih tertekan dan diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan harganya, sehingga investor perlu bersabar menunggu tanda pembalikan arah yang lebih meyakinkan sebelum menambah posisi.
Tekanan Jual Asing yang Signifikan Berpotensi Berlanjut: Net sell asing Rp1,5 triliun kemarin mengindikasikan sentimen negatif yang cukup besar terhadap pasar domestik, yang dapat memengaruhi pergerakan saham-saham lain di luar sektor yang menjadi fokus jual.
Kenaikan Leverage JSMR dari Rencana Akuisisi: Rencana ekspansi JSMR lewat akuisisi jalan tol berpotensi menambah beban utang perusahaan, yang menjadi risiko jika eksekusinya dilakukan lebih agresif dari rencana awal.
Empat saham pilihan hari ini - BBNI, INDF, JSMR, dan TLKM - seluruhnya cocok dibeli saat harga tertekan (Buy on Weakness), karena masing-masing masih dalam fase koreksi maupun konsolidasi. Sebagai panduan, harga beli yang disarankan adalah Rp3.450 untuk BBNI, Rp6.900 untuk INDF, Rp2.660 untuk JSMR, dan Rp2.350 untuk TLKM. Tetap disiplin menjaga batas rugi, mengingat IHSG secara keseluruhan masih berpotensi melemah di tengah tekanan jual asing yang besar.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
JSMR adalah perusahaan BUMN yang mengoperasikan dan mengembangkan jalan tol di Indonesia, dengan pendapatan utama berasal dari tarif tol yang dibayarkan pengguna jalan.
TLKM adalah perusahaan telekomunikasi dan digital terbesar di Indonesia, menyediakan layanan telepon, data, internet, serta infrastruktur digital lain melalui berbagai anak usahanya.
Aset brownfield adalah aset yang sudah beroperasi dan menghasilkan pendapatan, berbeda dengan aset greenfield yang masih dalam tahap pembangunan. Akuisisi aset brownfield umumnya memberikan kontribusi pendapatan dan laba lebih cepat karena tidak perlu menunggu masa konstruksi, meski harga akuisisinya biasanya lebih mahal dibanding membangun dari awal.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi dari lembaga seperti ADB memberikan gambaran independen tentang prospek suatu negara, yang dapat memengaruhi kepercayaan investor asing. Proyeksi yang stabil atau membaik cenderung mendukung sentimen positif terhadap pasar saham, meski faktor risiko seperti pelemahan ekspor tetap perlu dicermati.
Penyaluran KUR yang lebih cepat dari target mengindikasikan permintaan kredit mikro yang menguat, yang berpotensi mendukung pertumbuhan bisnis bank-bank penyalur kredit mikro. Hal ini juga bisa menjadi sinyal bahwa kualitas aset kredit mikro mulai membaik setelah periode tekanan sebelumnya.