
Bareksa - Riset Ciptadana Sekuritas Asia (13/7) mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham PT Timah Tbk (TINS) dan menaikkan target harga menjadi Rp4.200 per saham dari sebelumnya Rp3.400.
Optimisme tersebut didorong oleh harga timah dunia yang diperkirakan tetap tinggi akibat defisit pasokan global, kenaikan produksi perusahaan, serta potensi tambahan kapasitas dari aset smelter sitaan yang belum masuk dalam proyeksi laba.
Analis menaikkan target harga saham TINS menjadi Rp4.200, sekitar 25% di atas harga pasar Rp3.360 saat laporan diterbitkan.
Rekomendasi BUY tetap dipertahankan karena prospek fundamental perusahaan dinilai semakin kuat di tengah siklus kenaikan harga timah global.
Analis juga menaikkan proyeksi laba bersih TINS masing-masing sebesar:
FY2026: +63%
FY2027: +63%
FY2028: +44%
Kenaikan estimasi tersebut sepenuhnya berasal dari asumsi harga timah yang lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya.
Menurut analis, pasar timah global masih mengalami structural supply deficit, yakni kondisi ketika pertumbuhan produksi tambang tidak mampu mengejar kenaikan permintaan.
Beberapa faktor utama yang menopang harga timah antara lain:
Konsumsi timah global diperkirakan tumbuh sekitar 3,5% per tahun.
Indonesia dan Myanmar menyumbang sekitar 28% produksi bijih timah dunia pada 2025.
Tambang Man Maw Mine di Myanmar yang berhenti beroperasi sejak Agustus 2023 belum diperkirakan pulih secara penuh meski proses dewatering telah dimulai pada awal 2026.
Gangguan tersebut menghilangkan sekitar 7-8% pasokan timah global.
Akibat keterbatasan pasokan tersebut, harga timah di London Metal Exchange (LME) bertahan di atas US$50.000 per ton, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata harga sepanjang 2025 sebesar US$34.120 per ton.
Selain pasokan yang ketat, permintaan timah juga mendapat dukungan dari tren pertumbuhan industri teknologi.
Sekitar 48% konsumsi timah dunia digunakan sebagai bahan solder elektronik. Permintaan diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya:
Artificial Intelligence (AI)
Semikonduktor
Data center
Kendaraan listrik
Energi terbarukan
Dengan demikian, permintaan timah dinilai memiliki karakter yang lebih struktural dibanding siklus komoditas biasa. Grafik dalam laporan juga menunjukkan aplikasi solder masih menjadi penggunaan terbesar timah secara global.
Manajemen PT Timah menargetkan produksi bijih timah mencapai 30.000 ton pada 2026 atau naik sekitar 61% dibanding realisasi 2025. Namun analis menggunakan asumsi yang lebih konservatif sebesar 28.000 ton.
Dengan asumsi tersebut, pendapatan TINS diperkirakan melonjak menjadi:
Indikator | FY2025 | FY2026F |
Pendapatan | Rp11,55 triliun | Rp24,94 triliun |
Pertumbuhan | - | 116% |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Laba bersih diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp2,81 triliun pada 2026 dibanding Rp1,31 triliun pada 2025.
Salah satu potensi tambahan (upside) berasal dari enam smelter timah sitaan yang telah diserahkan kepada PT Timah pada 2026. Nilai aset tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp7 triliun, termasuk fasilitas pengolahan dan persediaan.
Namun seluruh aset tersebut:
belum tercatat dalam neraca,
belum memberikan kontribusi terhadap laba,
masih menunggu penyelesaian proses hukum dan akuntansi.
Jika nantinya dapat dioperasikan, kapasitas produksi maupun profitabilitas TINS berpotensi meningkat lebih lanjut.
Analis menilai risiko regulasi mulai mereda setelah pemerintah menunda:
kenaikan tarif royalti mineral,
skema mining gross split.
Namun demikian, revisi royalti tetap menjadi risiko utama. Menurut simulasi analis, apabila usulan kenaikan royalti diberlakukan selama enam bulan saja, estimasi laba perusahaan dapat turun sekitar 16%.
Indikator | FY2025 | FY2026F | FY2027F |
Pendapatan | Rp11,55 triliun | Rp24,94 triliun | Rp26,43 triliun |
Laba Bersih | Rp1,31 triliun | Rp2,81 triliun | Rp3,42 triliun |
EPS | Rp176,4 | Rp377,3 | Rp458,5 |
PER | 19,0x | 8,9x | 7,3x |
ROE | 15,6% | 26,6% | 27,2% |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Prospek TINS masih didukung kombinasi faktor fundamental dan siklus komoditas, terutama apabila harga timah bertahan tinggi akibat defisit pasokan global.
Namun investor juga tetap perlu mencermati sejumlah risiko, antara lain:
perubahan kebijakan royalti mineral,
realisasi target produksi perusahaan,
perkembangan operasi tambang Myanmar yang dapat menambah pasokan global,
fluktuasi harga komoditas dunia.
Bagi investor, laporan ini menunjukkan bahwa prospek TINS dinilai semakin menarik apabila kenaikan harga timah dapat bertahan dalam jangka menengah, meski keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko masing-masing.
Analis Ciptadana melihat PT Timah memasuki fase pertumbuhan laba yang lebih kuat berkat kombinasi harga timah global yang tinggi, kenaikan produksi, serta potensi tambahan kapasitas dari aset sitaan. Meski demikian, faktor regulasi terutama terkait royalti tetap menjadi risiko yang perlu dipantau.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Karena prospek harga timah dunia dinilai akan tetap tinggi akibat defisit pasokan global dan kenaikan produksi perusahaan.
Analis Ciptadana menaikkan target harga menjadi Rp4.200 per saham dari sebelumnya Rp3.400.
Gangguan pasokan dari Myanmar serta meningkatnya permintaan industri elektronik, AI, semikonduktor, dan data center.
Karena enam smelter sitaan senilai sekitar Rp7 triliun belum diperhitungkan dalam proyeksi laba sehingga masih menyimpan potensi tambahan apabila telah beroperasi.
Perubahan kebijakan royalti mineral yang berpotensi mengurangi profitabilitas perusahaan.