
Bareksa - Riset Ciptadana Sekuritas (15/7) menilai PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berada dalam posisi yang kuat untuk memasuki siklus pertumbuhan berikutnya.
Optimisme tersebut didukung portofolio aset migas yang didominasi gas, umur cadangan hampir 29 tahun, strategi akuisisi aset, penurunan biaya pendanaan, serta rencana rights issue hingga Rp4,12 triliun untuk mempercepat pengembangan hulu migas.
Meski demikian, analis Ciptadana belum memberikan peringkat (not rated) terhadap saham ENRG.
Menurut analis, ENRG memiliki salah satu portofolio gas yang kuat di Indonesia dengan total 431 juta barel setara minyak (mmboe) cadangan dan sumber daya, terdiri dari:
Komponen | Volume |
Cadangan 2P | 229 mmboe |
Sumber daya 2C | 202 mmboe |
Total | 431 mmboe |
Reserve life | 28,7 tahun |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Perusahaan mengelola 13 wilayah kerja migas di Indonesia dan Mozambik, dengan produksi berasal dari sembilan blok migas. Produksi ENRG juga didominasi gas bumi yang menyumbang sekitar 82% dari total produksi 41.022 boepd pada kuartal I 2026.
Blok penyumbang produksi terbesar antara lain:
Bentu : 10.596 boepd
Kangean : 8.363 boepd
Sengkang : 8.026 boepd
Pendapatan perusahaan dinilai relatif stabil karena sebagian besar gas dipasarkan melalui kontrak jangka panjang kepada pelanggan seperti Pertamina, PLN, Petrokimia Gresik, dan APRIL, dengan sekitar 79% pelanggan berasal dari BUMN.
Analis menilai langkah ENRG mengakuisisi sisa 25% kepemilikan Kangean sekaligus melepas 50% kepemilikan Gebang kepada JAPEX merupakan strategi optimalisasi portofolio.
Melalui transaksi tersebut:
ENRG kini memiliki 100% Kangean, salah satu aset pertumbuhan utama perusahaan.
Belanja modal (capex) proyek Gebang berkurang sekitar US$280 juta pada periode 2025-2030.
ENRG tetap mempertahankan eksposur terhadap sumber daya gas Gebang sebesar 874 BCF, sekitar sembilan kali lebih besar dibanding cadangan Kangean saat ini.
Proyek Gebang ditargetkan mulai berproduksi pada 2027 sebesar 40 MMSCFD, kemudian meningkat menjadi 99 MMSCFD pada 2030, sehingga berpotensi menyumbang hampir separuh produksi gas grup pada akhir dekade ini.
Sementara itu, proyek West Kangean diproyeksikan meningkatkan produksi menjadi 324 MMSCFD pada 2031 dengan dukungan 15 sumur baru.
Analis juga menyoroti keberhasilan ENRG menurunkan biaya pendanaan. Sejak 2018, perusahaan secara bertahap melakukan refinancing sehingga blended cost of debt turun menjadi sekitar 6,1%, dari 12,4% pada 2020.
Sebagian besar pembiayaan kini berasal dari fasilitas PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) senilai sekitar US$231 juta, atau sekitar 54,5% dari total utang berbunga.
Dengan biaya pendanaan yang lebih rendah, manajemen menargetkan melakukan sekitar dua akuisisi aset produktif setiap tahun untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan.
ENRG juga berencana menghimpun dana melalui rights issue dengan menerbitkan 13,28 miliar saham baru, setara 33,3% modal setelah aksi korporasi, pada harga pelaksanaan Rp310 per saham.
Dana yang dapat dihimpun mencapai sekitar Rp4,12 triliun, dengan penggunaan:
Penggunaan Dana | Porsi |
Pengembangan aset hulu melalui anak usaha | 96,6% |
Modal kerja | 3,4% |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Rights issue tersebut telah memperoleh dukungan penuh (fully underwritten). Jika digabungkan dengan private placement sebelumnya senilai Rp338 miliar, total dana yang dapat diperoleh ENRG mencapai sekitar Rp4,45 triliun, sehingga memperkuat likuiditas sekaligus mendukung aktivitas pengeboran, monetisasi aset hulu, dan ekspansi perusahaan.
Menurut analis Ciptadana, saham ENRG diperdagangkan pada valuasi sekitar 6,0x EV/EBITDA 2026F, lebih tinggi dibanding rata-rata perusahaan migas regional sekitar 3,5x.
Premi valuasi tersebut dinilai didukung oleh:
cadangan gas besar dengan umur cadangan panjang,
target pertumbuhan produksi sekitar 10% per tahun,
strategi akuisisi aset secara aktif,
biaya pendanaan yang semakin rendah sehingga meningkatkan fleksibilitas ekspansi.
Namun investor tetap perlu mencermati beberapa risiko, antara lain:
penurunan harga minyak dan gas,
keterlambatan proyek,
risiko integrasi hasil akuisisi,
kenaikan suku bunga yang dapat meningkatkan biaya pendanaan.
Riset Ciptadana Sekuritas menunjukkan ENRG memiliki sejumlah katalis pertumbuhan jangka menengah, terutama dari dominasi aset gas, proyek pengembangan baru, dan aksi korporasi untuk memperkuat struktur permodalan.
Meski demikian, laporan ini berstatus Not Rated, sehingga belum memuat rekomendasi investasi ataupun target harga saham. Investor tetap perlu mencermati perkembangan realisasi rights issue, pertumbuhan produksi gas, penyelesaian proyek Gebang dan West Kangean, serta dinamika harga energi global.
Energi Mega Persada dinilai memasuki fase pertumbuhan baru berkat kombinasi cadangan gas yang besar, proyek pengembangan jangka panjang, strategi akuisisi aset, dan struktur pendanaan yang semakin sehat. Rights issue hingga Rp4,12 triliun juga diharapkan memperkuat kapasitas perusahaan dalam mempercepat pengembangan aset migas dan mendukung pertumbuhan produksi pada tahun-tahun mendatang.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Sebesar 431 mmboe, terdiri dari 229 mmboe cadangan 2P dan 202 mmboe sumber daya 2C.
Sekitar 82% produksi ENRG berasal dari gas bumi sehingga perusahaan memiliki eksposur besar terhadap pertumbuhan permintaan gas domestik.
Maksimal sekitar Rp4,12 triliun melalui penerbitan 13,28 miliar saham baru.
Sekitar 96,6% digunakan untuk pengembangan aset hulu migas melalui anak usaha, sedangkan 3,4% untuk modal kerja.
Belum. Laporan ini berstatus Not Rated, sehingga tidak disertai rekomendasi BUY, HOLD, SELL maupun target harga saham.