
Bareksa - PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) membukukan pertumbuhan laba signifikan pada kuartal I 2026. Informasi ini penting dicermati investor karena mencerminkan permintaan sektor unggas yang masih solid di tengah potensi kenaikan biaya bahan baku pakan. JPFA dan CPIN, merupakan dua emiten pemain utama sektor poultry dan pakan ternak nasional.
Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas (22/5), JPFA mencatat laba bersih Rp1,82 triliun atau naik 167% secara tahunan. Kinerja tersebut didorong kenaikan volume DOC dan broiler, harga jual pakan yang lebih baik, serta kontribusi bisnis makanan olahan. Margin laba juga meningkat dengan net profit margin mencapai 10,3% dari sebelumnya 4,7%.
Sementara itu, CPIN membukukan laba bersih Rp2,57 triliun atau tumbuh 67,7% YoY. Segmen makanan olahan dan DOC menjadi pendorong utama pertumbuhan, didukung ekspansi margin di hampir seluruh lini bisnis. Analis menilai permintaan protein hewani dan kondisi industri yang lebih seimbang masih menopang kinerja sektor unggas.
Harga ayam broiler tercatat berada di level Rp21.500 per kilogram per 20 Mei 2026, turun dari puncak kuartal I tetapi masih dinilai sehat bagi industri. Harga DOC juga turun menjadi Rp5.500 per ekor dari Rp6.400 pada Maret 2026. Stabilnya harga dinilai didukung permintaan Ramadan, program bantuan sosial, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di sisi lain, analis menyoroti kenaikan harga jagung domestik menjadi Rp6.200 per kilogram dari rata-rata Rp5.700 pada kuartal I 2026. Harga soybean meal (SBM) juga naik menjadi US$334 per ton atau sekitar 9% di atas rata-rata kuartal sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi menekan margin bisnis pakan ternak dalam beberapa kuartal ke depan.
Analis Ciptadana mempertahankan rekomendasi overweight sektor poultry dengan JPFA sebagai pilihan utama. JPFA dinilai menarik karena valuasi lebih rendah dibanding CPIN serta fokus ekspansi hilirisasi. Sementara itu, CPIN tetap positif ditopang peluang ekspansi feedmill dan penguatan distribusi produk olahan.
Ringkasan Valuasi Saham Poultry
Emiten | Harga Terakhir | Target Harga | Potensi Kenaikan | ROE 2026F | Yield 2026F |
|---|---|---|---|---|---|
CPIN | Rp4.170 | Rp6.000 | 43,9% | 15,9% | 4,3% |
JPFA | Rp2.640 | Rp3.000 | 13,6% | 18,2% | 7,2% |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Kinerja Kuartal I 2026
Indikator | JPFA | CPIN |
|---|---|---|
Laba Bersih | Rp1,82 triliun | Rp2,57 triliun |
Pertumbuhan Laba | 167% YoY | 67,7% YoY |
Pendapatan | Rp17,7 triliun | Rp19,9 triliun |
Net Profit Margin | 10,3% | 12,9% |
Pertumbuhan Pendapatan | 23,6% YoY | 12,7% YoY |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Harga jagung domestik naik menjadi Rp6.200/kg
Harga soybean meal naik menjadi US$334/ton
Risiko El Nino terhadap pasokan jagung domestik
Program MBG masih menopang konsumsi protein
Margin pakan ternak berpotensi tertekan.
Kinerja JPFA dan CPIN pada kuartal I 2026 menunjukkan sektor poultry masih didukung permintaan domestik yang solid dan perbaikan struktur industri. Pertumbuhan laba kedua emiten juga mencerminkan perbaikan margin dan kontribusi bisnis hilir.
Meski demikian, investor tetap mencermati kenaikan harga bahan baku pakan seperti jagung dan soybean meal. Risiko cuaca dan perubahan kebijakan impor bahan baku juga berpotensi memengaruhi profitabilitas sektor unggas ke depan.
1. Mengapa laba JPFA dan CPIN meningkat pada kuartal I 2026?
Karena permintaan unggas meningkat, harga jual membaik, dan margin operasional lebih kuat.
2. Berapa laba bersih JPFA pada kuartal I 2026?
JPFA membukukan laba bersih Rp1,82 triliun.
3. Apa risiko utama sektor poultry saat ini?
Kenaikan harga jagung dan soybean meal menjadi risiko utama margin pakan ternak.
4. Mengapa harga broiler penting bagi emiten poultry?
Karena harga broiler memengaruhi pendapatan dan profitabilitas bisnis peternakan ayam.
5. Apa pandangan analis Ciptadana terhadap sektor poultry?
Analis Ciptadana mempertahankan rating overweight untuk sektor poultry.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.