
Bareksa - MSCI (Morgan Stanley Capital International) melakukan rebalancing indeks MSCI Value periode Mei 2026 dengan mengurangi jumlah konstituen dari 10 saham menjadi 7 saham. Informasi ini penting dicermati investor karena berpotensi memengaruhi arus dana pasif, persepsi valuasi, dan rotasi sektor di pasar saham. Berdasarkan riset Syailendra Research dan data MSCI (20/5), perubahan efektif berlaku mulai 2 Juni 2026.
Dalam rebalancing kali ini, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dikeluarkan dari MSCI Value. Sementara itu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) kembali masuk menjadi konstituen baru.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kini menjadi konstituen dengan bobot terbesar yakni 27,3%, menggantikan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang turun menjadi 16,4%. Selain BMRI, kenaikan bobot juga terjadi pada PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
Syailendra Research mencatat empat saham mengalami peningkatan bobot terbesar, yakni BMRI (+9,7%), TLKM (+6,9%), ASII (+3,3%), dan BBNI (+2,3%). Sebaliknya, bobot UNTR turun 0,8% dan BBRI turun 7,4%. Pergeseran bobot ini mencerminkan perubahan preferensi indeks terhadap saham berkapitalisasi besar dengan valuasi relatif rendah dan fundamental stabil.
Menariknya, enam dari tujuh konstituen MSCI Value disebut konsisten membagikan dividen dalam 18 tahun terakhir. Berdasarkan pembagian dividen terakhir, rata-rata dividend yield keenam emiten tersebut mencapai sekitar 8,7%. Faktor ini berpotensi menjadi perhatian investor yang mencermati saham dengan profil dividen stabil.
Selain faktor dividen, Syailendra Research juga menyoroti empat dari tujuh konstituen MSCI Value saat ini berada di level valuasi terendah dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut mencerminkan sejumlah saham big caps masih diperdagangkan pada valuasi relatif murah di tengah volatilitas pasar domestik.
Ringkasan Rebalancing MSCI Value Mei 2026
Keterangan | Perubahan |
|---|---|
Saham keluar | BBCA, CPIN, TPIA |
Saham masuk | BRPT |
Jumlah konstituen | Dari 10 menjadi 7 saham |
Bobot terbesar baru | BMRI (27,3%) |
Dominasi sektor bank | 53% total bobot |
Efektif berlaku | 2 Juni 2026 |
Sumber: riset Syailendra Capital
Perubahan Bobot Saham
Saham | Perubahan Bobot |
|---|---|
BMRI | +9,7% |
TLKM | +6,9% |
ASII | +3,3% |
BBNI | +2,3% |
UNTR | -0,8% |
BBRI | -7,4% |
Sumber: riset Syailendra Capital
Rebalancing MSCI Value Mei 2026 menunjukkan indeks semakin terkonsentrasi pada saham perbankan dan emiten dengan histori dividen stabil. Pergeseran bobot BMRI menjadi yang terbesar juga mencerminkan perubahan komposisi saham value berkapitalisasi besar di Indonesia.
Di sisi lain, keluarnya BBCA, CPIN, dan TPIA berpotensi menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi aliran dana berbasis indeks. Investor juga mencermati valuasi sejumlah konstituen yang disebut berada di level terendah dalam lima tahun terakhir.
1. Kapan rebalancing MSCI Value berlaku efektif?
Mulai efektif pada 2 Juni 2026.
2. Saham apa saja yang keluar dari MSCI Value?
BBCA, CPIN, dan TPIA.
3. Saham apa yang masuk MSCI Value Mei 2026?
BRPT menjadi satu-satunya saham tambahan baru.
4. Saham dengan bobot terbesar di MSCI Value saat ini apa?
BMRI dengan bobot 27,3%.
5. Mengapa rebalancing MSCI penting dicermati pasar?
Karena berpotensi memengaruhi arus dana pasif, likuiditas saham, dan persepsi valuasi investor institusi.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.