Marketing Sales SMRA Q1 2026 Naik 36%, Rekomendasi Buy, Target Harga Turun Jadi Segini

Abdul Malik • 08 May 2026

an image
Summarecon Bekasi adalah salah satu ikon kota modern yang dikelola oleh PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). (Shutterstock)

SMRA mencatat marketing sales naik 36,7% pada Q1 2026. Ciptadana mempertahankan rekomendasi BUY meski laba bersih turun.

Bareksa - PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatat kinerja kuartal I 2026 yang dinilai masih solid di tengah tekanan biaya bunga dan beban operasional. Informasi ini penting bagi investor karena menunjukkan daya tahan bisnis properti dan prospek recurring income perseroan. 

Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia tanggal 8 Mei 2026, pendapatan SMRA naik 6,1% secara tahunan menjadi Rp2,23 triliun pada Q1 2026. Segmen penjualan properti tumbuh 6,2% YoY menjadi Rp1,41 triliun, sementara pendapatan berulang dari mal dan properti investasi naik 6,6% YoY. Namun laba bersih turun 20,3% YoY menjadi Rp190 miliar akibat kenaikan beban bunga dan pajak.

Analis Ciptadana mencatat marketing sales SMRA melonjak 36,7% YoY menjadi Rp1,2 triliun pada Q1 2026 atau setara 23% dari target tahunan Rp5,2 triliun. Penjualan terutama ditopang permintaan rumah tapak di Summarecon Serpong dan Bandung. Momentum ini dinilai menjadi perhatian pasar karena mencerminkan permintaan properti residensial masih terjaga. SMRA merupakan emiten sektor properti dan township development.

Recurring Income dan Sentimen Properti Jadi Sorotan

Pendapatan berulang SMRA dinilai tetap resilien di tengah perlambatan ekonomi. Tingkat okupansi pusat perbelanjaan meningkat menjadi 93% dengan trafik pengunjung mencapai 95 juta orang sepanjang 2025. Kelapa Gading Mall masih menjadi kontributor utama dengan porsi 44% dari total pendapatan mal.

Analis Ciptadana mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham SMRA meski menurunkan target harga menjadi Rp520 per saham dari sebelumnya Rp680. Penurunan target harga dilakukan setelah revisi proyeksi laba bersih 2026–2027 masing-masing sebesar 26,2% dan 24,0%. Meski demikian, SMRA dinilai masih ditopang presales yang kuat dan arus kas berulang yang stabil.

Selain itu, sentimen sektor properti dinilai berpotensi membaik seiring ekspektasi suku bunga stabil dan berlanjutnya insentif PPN properti dari pemerintah. Faktor tersebut dapat mendukung permintaan rumah tapak dan menjaga visibilitas pendapatan SMRA ke depan. Investor juga mencermati valuasi SMRA yang masih diperdagangkan pada diskon terhadap NAV historisnya.

Ringkasan Kinerja SMRA Q1 2026

Indikator
Q1 2026
YoY

Pendapatan

Rp2,23 triliun

6,1%

Laba Bersih

Rp190 miliar

-20,3%

Marketing Sales

Rp1,2 triliun

36,7%

Pendapatan Properti

Rp1,41 triliun

6,2%

Pendapatan Berulang

Rp589 miliar

6,6%

Operating Margin

30,6%

Naik

Okupansi Mal

93%

Naik dari 92%

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Ringkasan Rekomendasi dan Valuasi

Indikator
Nilai

Harga Saham Terakhir

Rp328

Target Harga Ciptadana

Rp520

Potensi Upside Teoritis

58,5%

Rekomendasi

BUY

PER 2026F

6,1x

PBV 2026F

0,4x

Sumber: riset Ciptadana Sekuritas

Faktor yang Dicermati Investor

  • Presales Q1 2026 mencapai 23% dari target tahunan

  • Permintaan rumah tapak masih kuat di Serpong dan Bandung

  • Pendapatan berulang membantu stabilitas arus kas

  • Beban bunga dan biaya operasional masih menjadi tekanan laba

  • Sentimen suku bunga dan insentif PPN properti berpotensi menopang sektor

Kesimpulan

Kinerja SMRA pada Q1 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan marketing sales masih terjaga meski laba bersih tertekan kenaikan biaya bunga. Hal ini mencerminkan fundamental operasional perseroan masih cukup resilien di tengah tantangan sektor properti.

Rekomendasi BUY dari Ciptadana menjadi perhatian pasar karena didukung momentum presales dan recurring income yang stabil. Investor tetap dicermati perlu memperhatikan risiko biaya pendanaan dan perkembangan suku bunga ke depan.

FAQ

1. Apa yang menopang kinerja SMRA pada Q1 2026?
Pertumbuhan marketing sales dan pendapatan berulang dari pusat perbelanjaan menjadi penopang utama.

2. Mengapa laba bersih SMRA turun?
Laba bersih tertekan akibat kenaikan beban bunga dan pajak meski pendapatan tumbuh.

3. Berapa target harga saham SMRA dari Ciptadana?
Ciptadana menetapkan target harga Rp520 per saham.

4. Apa bisnis utama SMRA?
SMRA bergerak di sektor properti, township development, pusat perbelanjaan, dan recurring income.

5. Apa yang menjadi perhatian investor ke depan?
Investor mencermati pertumbuhan presales, stabilitas suku bunga, serta kemampuan SMRA menjaga margin dan arus kas.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap. 

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.