
Bareksa - PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatat kinerja kuartal I 2026 dengan pertumbuhan pendapatan terbatas dan tekanan margin. Informasi ini penting karena mencerminkan dampak kenaikan biaya di tengah siklus kenaikan harga CPO.
Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas (4/5), analis mempertahankan rekomendasi buy dengan menaikkan target harga saham LSIP menjadi Rp2.190 per saham dari sebelumnya Rp1.820. Penyesuaian ini mencerminkan rerating sektor seiring siklus kenaikan CPO. Namun, tekanan margin tetap menjadi perhatian dalam jangka pendek.
Pendapatan LSIP naik 2,9% YoY menjadi Rp1,33 triliun, sementara laba bersih naik tipis 0,7% YoY menjadi Rp394 miliar. Kinerja laba terbantu oleh kenaikan pendapatan lain-lain dan bunga, meski laba operasional turun 20% YoY. Margin kotor turun ke 32% akibat kenaikan biaya sebesar 14,4% YoY. LSIP merupakan emiten sektor perkebunan kelapa sawit.
Analis menilai tekanan margin bersifat sementara di tengah siklus naik harga CPO. Asumsi harga CPO global dipertahankan di RM4.500/ton untuk 2026, mencerminkan potensi kenaikan 4,7% YoY. Hal ini menjadi dasar optimisme terhadap prospek sektor perkebunan.
Produksi CPO LSIP relatif stabil di 65 ribu ton, sementara produksi TBS dan PK mengalami penurunan. Namun, peningkatan oil extraction rate (OER) menjadi 22,4% membantu menjaga produksi. Normalisasi produksi berpotensi terjadi seiring kondisi cuaca yang lebih mendukung.
Kebijakan B50 dan pemulihan ekspor Malaysia juga dinilai dapat menopang harga CPO global. Hal ini berpotensi menjadi katalis bagi kinerja LSIP ke depan. Namun, risiko seperti cuaca ekstrem dan biaya pupuk tetap perlu dicermati.
Margin operasional turun menjadi 25,5% seiring kenaikan beban operasional, termasuk G&A dan pemasaran. Hal ini mencerminkan tekanan biaya yang masih berlangsung. Analis menurunkan estimasi laba 2026–2027 untuk mengakomodasi kondisi tersebut.
Meski demikian, valuasi LSIP dinilai menarik dengan penerapan PE 8,7x atau di atas rata-rata historis. Ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap siklus naik sektor perkebunan. Kinerja ke depan akan sangat dipengaruhi oleh harga CPO dan efisiensi biaya.
Tabel Ringkasan Kinerja LSIP 1Q26
Indikator | Q1 2026 | Perubahan |
|---|---|---|
Pendapatan | Rp1,33 triliun | 2,9% YoY |
Laba Bersih | Rp394 miliar | 0,7% YoY |
Laba Operasional | Rp338 miliar | -20% YoY |
Margin Kotor | 32,0% | Turun 6,8 ppt |
Margin Operasi | 25,5% | Turun 7,3 ppt |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Tabel Operasional & Harga
Indikator | Q1 2026 | Perubahan |
|---|---|---|
Produksi CPO | 65 ribu ton | Stabil |
Produksi PK | 17 ribu ton | -5,6% YoY |
OER | 22,4% | Naik |
ASP CPO | Rp14.347/kg | -0,5% YoY |
ASP PK | Rp12.071/kg | 9,1% YoY |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Katalis
Siklus kenaikan harga CPO global
Implementasi mandatori B50
Rerating valuasi sektor perkebunan
Risiko
Kenaikan biaya pupuk dan operasional
Cuaca ekstrem (drought)
Volatilitas harga CPO global
Kinerja LSIP pada 1Q26 mencerminkan tekanan margin di tengah kenaikan biaya, meski laba tetap relatif stabil. Hal ini menunjukkan daya tahan kinerja di fase awal siklus. Dengan dukungan harga CPO dan rerating sektor, prospek LSIP berpotensi membaik. Namun, efisiensi biaya dan kondisi cuaca menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor.
1. Apakah rekomendasi analis berubah?
Tidak, tetap dipertahankan dengan target harga dinaikkan ke Rp2.190.
2. Mengapa margin LSIP turun?
Karena kenaikan biaya produksi dan operasional.
3. Apa katalis utama LSIP?
Kenaikan harga CPO, kebijakan B50, dan rerating sektor.
4. Bagaimana prospek produksi?
Berpotensi pulih seiring kondisi cuaca yang lebih normal.
5. Apa risiko utama LSIP?
Biaya pupuk, cuaca ekstrem, dan fluktuasi harga CPO.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.