
Bareksa - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba bersih US$43,899 juta (setara Rp760,6 miliar dengan asumsi kurs tengah BI 30 April Rp17.324 per dolar AS) pada kuartal I 2026. Angka itu melonjak 40% secara tahunan (YoY), dibandingkan US$31,352 juta (setara Rp543,2 miliar) pada periode yang sama tahun lalu. Capaian ini mencerminkan profitabilitas yang menguat di tengah tren transisi energi global.
Berdasarkan siaran pers 29 April 2026, pendapatan perseroan tercatat US$116,555 juta (setara Rp2,02 triliun), tumbuh 14,8% YoY dari US$101,507 juta (setara Rp1,76 triliun) pada Q1 2025. Pertumbuhan pendapatan ini berjalan seiring efisiensi liabilitas, di mana total kewajiban turun 2,44% menjadi US$964,737 juta (setara Rp16,71 triliun) dibandingkan posisi 31 Desember 2025.
Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hutabarat menyatakan perseroan berhasil menjaga kas operasional yang kuat sepanjang kuartal ini. Kas dan setara kas tercatat US$745,213 juta (setara Rp12,91 triliun), tumbuh 3,72% dibandingkan akhir 2025. PGEO merupakan emiten sektor energi panas bumi, unit saha PT Pertamina yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani menegaskan perseroan menjalankan tiga strategi utama: optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru. PGEO saat ini mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang 727 MW yang dioperasikan langsung, plus 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.
Kontribusi PGEO mencakup sekitar 70% dari total kapasitas panas bumi nasional, menjadikannya pemain dominan di segmen ini. Perseroan menargetkan kapasitas terpasang 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034, selaras dengan target RUPTL PLN 2025–2034.
Tabel Laporan Laba Rugi PGEO
Indikator | Q1 2026 | Q1 2025 | Perubahan YoY |
|---|---|---|---|
Pendapatan | US$116.555 ribu | US$101.507 ribu | 14,8% |
Beban Pokok Pendapatan | US$48.985 ribu | US$42.824 ribu | 14,4% |
Laba Bruto | US$67.570 ribu | US$58.683 ribu | 15,2% |
Laba Usaha | US$62.005 ribu | US$55.339 ribu | 12,0% |
Laba Sebelum Pajak | US$63.720 ribu | US$45.163 ribu | 41,1% |
Beban Pajak | US$19.821 ribu | US$13.811 ribu | 43,5% |
Laba Bersih | US$43.899 ribu | US$31.352 ribu | 40% |
Sumber: PGEO, diolah
Tabel Neraca Keuangan PGEO
Indikator | 31 Mar 2026 | 31 Des 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
Kas & Setara Kas | US$745.213 ribu | US$718.499 ribu | 3,72% |
Total Aset Lancar | US$928.830 ribu | US$880.973 ribu | 5,43% |
Total Aset Tidak Lancar | US$2.127.170 ribu | US$2.153.478 ribu | −1,22% |
Total Aset | US$3.056.000 ribu | US$3.034.451 ribu | 0,71% |
Total Liabilitas Jangka Pendek | US$194.813 ribu | US$214.299 ribu | −9,09% |
Total Liabilitas Jangka Panjang | US$769.924 ribu | US$774.589 ribu | −0,60% |
Total Liabilitas | US$964.737 ribu | US$988.888 ribu | −2,44% |
Total Ekuitas | US$2.091.263 ribu | US$2.045.563 ribu | 2,23 |
Sumber: PGEO, diolah
Laba bersih tumbuh 40% YoY
Margin laba bersih sekitar 37,7%
Liabilitas turun, struktur keuangan lebih sehat
Kas kuat untuk mendukung ekspansi
Target kapasitas 1 GW (2028) dan 1,8 GW (2034)
Menguasai sekitar 70% kapasitas panas bumi nasional
Kinerja PGEO pada Q1 2026 menunjukkan fundamental bisnis yang solid, ditopang pertumbuhan laba, kas besar, dan ekspansi berkelanjutan. Dengan fokus pada energi bersih dan target kapasitas yang agresif, PGEO tetap menjadi emiten yang relevan dalam tema transisi energi nasional.
1. Berapa laba bersih PGEO di Q1 2026?
US$43,899 juta (setara Rp760,6 miliar).
2. Berapa pendapatan PGEO?
US$116,555 juta (setara Rp2,02 triliun).
3. Apa bisnis utama PGEO?
Eksplorasi dan produksi energi panas bumi.
4. Berapa target kapasitas PGEO?
1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034.
5. Apakah ada dividen dari hasil Q1 2026?
Belum ada pengumuman dividen dalam siaran pers terbaru.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.