INCO Catat Laba Q1 2026 Melonjak 100%, Ditopang Harga Nikel dan Efisiensi Operasional

Abdul Malik • 30 Apr 2026

an image
Seorang pekerja sedang mengolah nikel di pabrik PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di Sorowako, Sulawesi Selatan. (Shutterstock)

Vale Indonesia (INCO) membukukan laba US$43,6 juta pada Q1 2026, naik 100% YoY, setara sekitar Rp751,9 miliar.

Bareksa - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat laba periode berjalan US$43,6 juta pada triwulan I 2026. Dengan kurs tengah BI 29 April 2026 sebesar Rp17.245 per dolar AS, maka laba tersebut setara sekitar Rp751,9 miliar. Informasi ini penting bagi investor karena menunjukkan peningkatan profitabilitas di tengah produksi yang lebih rendah. 

Berdasarkan siaran pers 29 April 2026, kinerja laba tersebut melonjak 100% dibanding periode sama tahun lalu US$21,8 juta atau sekitar Rp376 miliar. Pendapatan perseroan naik 22% menjadi US$252,7 juta, setara sekitar Rp4,36 triliun, dari sebelumnya US$206,5 juta atau sekitar Rp3,56 triliun. Sementara EBITDA tumbuh menjadi US$80,1 juta atau sekitar Rp1,38 triliun.

Meski demikian, produksi nikel matte turun menjadi 13.620 ton dari 17.027 ton pada Q1 2025. Penurunan ini dipengaruhi jadwal pemeliharaan terencana dan penyesuaian operasional terkait RKAB 2026. Namun, kenaikan harga jual rata-rata nikel matte ke US$14.213 per ton berhasil menjaga margin tetap positif. INCO merupakan emiten sektor pertambangan bijih nikel.

Estimasi Laba per Saham dalam Rupiah

Berdasarkan laporan keuangan interim, Vale Indonesia mencatat laba per saham (EPS) dasar dan dilusian US$0,0041 pada Q1 2026, atau setara sekitar Rp70,7 per saham dengan asumsi kurs tengah BI 29 April Rp17.245 per dolar AS.

CEO dan Presiden Direktur Bernardus Irmanto menegaskan disiplin biaya, diversifikasi usaha, dan penguatan operasional tetap menjadi fokus utama. Strategi tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.

Ringkasan Kinerja INCO Q1 2026

Indikator
Nilai

Pendapatan

US$252,7 juta

EBITDA

US$80,1 juta

Laba Bersih

US$43,6 juta

Laba Bersih Q1 2025

US$21,8 juta

Estimasi EPS

US$0,00414/saham

Sumber: INCO

Rasio dan Posisi Pasar INCO

Per 29 April 2026, saham Vale Indonesia ditutup di level Rp6.825 per saham, dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp71,93 triliun. Dengan valuasi tersebut, INCO tergolong salah satu emiten nikel besar di Bursa Efek Indonesia.

Rasio price to earnings (P/E) berada di 54,99 kali, yang mencerminkan valuasi premium dibanding sebagian emiten tambang lain. Angka ini menunjukkan pasar masih memberi ekspektasi pertumbuhan jangka panjang terhadap kinerja perseroan, terutama seiring prospek hilirisasi dan permintaan nikel global.

Dalam 52 minggu terakhir, harga saham bergerak di rentang Rp2.460 hingga Rp7.900, yang menandakan volatilitas cukup tinggi namun juga mencerminkan minat pasar terhadap sektor nikel dan kendaraan listrik.

Catatan bagi Investor

  • Profitabilitas meningkat signifikan, dengan laba bersih tumbuh 100% YoY.

  • Margin tetap terjaga, meski volume produksi menurun.

  • Harga jual nikel lebih tinggi menjadi penopang utama kinerja.

  • Valuasi premium mencerminkan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang.

  • Potensi rerating dapat terjadi bila tren laba berlanjut di kuartal berikutnya.

FAQ

1. Berapa laba bersih INCO pada Q1 2026?
US$43,6 juta atau setara Rp751,9 miliar.

2. Berapa pendapatan INCO pada Q1 2026?
US$252,7 juta atau sekitar Rp4,36 triliun.

3. Berapa EPS INCO pada Q1 2026?
EPS resmi tercatat US$0,0041 per saham, atau sekitar Rp70,7 per saham.

4. Berapa jumlah saham beredar INCO?
Berdasarkan estimasi kapitalisasi pasar, sekitar 10,54 miliar saham, sedangkan jumlah rata-rata tertimbang untuk perhitungan EPS sekitar 10,64 miliar saham.

5. Apa faktor utama kenaikan laba?
Harga jual nikel yang lebih tinggi dan efisiensi operasional.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis 

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.