
Bareksa - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan ke entitas induk Rp5,66 triliun pada kuartal pertama 2026, tumbuh 5,2% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp5,38 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan interim tidak diaudit yang disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi BEI (29/4), pendapatan bunga menjadi penopang utama, tercatat Rp18,99 triliun pada Q1 2026, naik 13,7% dari Rp16,71 triliun di Q1 2025. Beban bunga juga meningkat menjadi Rp7,97 triliun dari Rp6,88 triliun, sehingga pendapatan bunga bersih (NII) mencapai sekitar Rp11,03 triliun.
Laba sebelum pajak tercatat Rp6,88 triliun, naik dari Rp6,52 triliun pada Q1 2025. Total aset BBNI tumbuh signifikan menjadi Rp1.426,76 triliun per 31 Maret 2026, dari Rp1.362,05 triliun per 31 Desember 2025, mencerminkan ekspansi bisnis yang berlanjut di awal tahun. BBNI merupakan emiten sektor perbankan yang dikendalikan oleh Pemerintah Indonesia.
Total pinjaman yang diberikan mencapai Rp919,32 triliun (pihak ketiga + berelasi, sebelum CKPN), tumbuh dari Rp899,53 triliun pada akhir 2025. Dana pihak ketiga dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito juga meningkat; deposito berjangka pihak ketiga naik tajam menjadi Rp228,25 triliun dari Rp188,21 triliun. Pertumbuhan kredit ini menjadi perhatian pasar karena mencerminkan permintaan pembiayaan yang masih solid di awal 2026.
Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atas pinjaman tercatat Rp36,61 triliun, naik dari Rp35,86 triliun di akhir 2025, seiring pembentukan provisi kredit Rp2,42 triliun selama Q1 2026 — naik dari Rp1,76 triliun pada Q1 2025. Ini mencerminkan sikap kehati-hatian manajemen dalam menghadapi potensi risiko kredit.
Laba per saham dasar (EPS) tercatat Rp152 per saham di Q1 2026, naik dari Rp144 per saham pada Q1 2025, menjadi indikator positif bagi pemegang saham.
Total ekuitas BBNI tercatat Rp165,91 triliun per 31 Maret 2026, turun dari Rp176,34 triliun pada akhir 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran dividen kas Rp13,03 triliun, pembelian saham treasuri senilai Rp75 miliar, serta kerugian pada penghasilan komprehensif lain (OCI) akibat perubahan nilai wajar aset keuangan negatif Rp3,62 triliun. Total penghasilan komprehensif untuk Q1 2026 tercatat Rp2,67 triliun, lebih rendah dibanding Rp6,10 triliun di Q1 2025, terutama karena tekanan OCI tersebut.
Arus kas dari aktivitas operasi sangat kuat, mencapai Rp40,90 triliun di Q1 2026, jauh meningkat dari Rp12,99 triliun pada Q1 2025, didorong oleh pertumbuhan simpanan nasabah yang signifikan. Kas dan setara kas akhir periode mencapai Rp185,66 triliun, naik dari Rp152,85 triliun pada awal tahun.
Ringkasan Kinerja Keuangan Q1 2026
Indikator | Q1 2026 | Q1 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
Pendapatan Bunga | Rp18,99 T | Rp16,71 T | +13,7% |
Beban Bunga | Rp7,97 T | Rp6,88 T | +15,9% |
Laba Sebelum Pajak | Rp6,88 T | Rp6,52 T | +5,6% |
Laba Bersih (ke Induk) | Rp5,66 T | Rp5,38 T | +5,2% |
EPS Dasar | Rp152 | Rp144 | +5,6% |
Total Aset | Rp1.426,76 T | — | vs Rp1.362,05 T (Des 2025) |
Total Ekuitas | Rp165,91 T | — | vs Rp176,34 T (Des 2025) |
Total Kredit (bruto) | Rp919,32 T | — | vs Rp899,53 T (Des 2025) |
Arus Kas Operasi | Rp40,90 T | Rp12,99 T | +214,9% |
Sumber: BBNI. diolah
Penopang utama: Pertumbuhan pendapatan bunga +13,7% YoY menjadi motor laba
Kredit tumbuh: Pinjaman bruto naik ~2,2% dari akhir 2025
Tekanan OCI: Kerugian nilai wajar aset keuangan menekan total comprehensive income
Provisi naik: Pembentukan CKPN meningkat 37,4% YoY, mencerminkan sikap konservatif
Dividen besar: Kas dividen Rp13,03 T menekan ekuitas di Q1 2026
Likuiditas kuat: Arus kas operasi melonjak signifikan, kas akhir periode tumbuh pesat
EPS naik: Rp152/saham vs Rp144/saham, potensi menjadi perhatian valuasi
Kinerja BBNI pada kuartal pertama 2026 mencerminkan pertumbuhan profitabilitas yang stabil dengan laba bersih tumbuh 5,2% YoY, ditopang ekspansi kredit dan pendapatan bunga yang solid. Penurunan ekuitas lebih bersifat teknis akibat distribusi dividen besar dan tekanan OCI, bukan indikasi pelemahan fundamental. Investor perlu memperhatikan perkembangan kualitas kredit dan tren pembentukan provisi ke depan, mengingat CKPN meningkat cukup signifikan di awal tahun.
1. Berapa laba bersih BNI (BBNI) di Q1 2026?
Laba bersih yang dapat diatribusikan ke entitas induk tercatat Rp5,66 triliun, naik 5,2% dibandingkan Q1 2025 Rp5,38 triliun.
2. Berapa EPS BNI di kuartal I 2026?
Laba per saham dasar (EPS) BBNI tercatat Rp152 per saham di Q1 2026, meningkat dari Rp144 per saham pada Q1 2025.
3. Mengapa ekuitas BNI turun di Q1 2026?
Ekuitas turun terutama karena pembayaran dividen kas Rp13,03 triliun dan kerugian OCI dari perubahan nilai wajar aset keuangan, bukan karena penurunan kinerja operasional.
4. Apa penopang utama kinerja BBNI di Q1 2026?
Pendapatan bunga yang tumbuh 13,7% YoY menjadi penopang utama, didukung oleh ekspansi kredit dan pertumbuhan simpanan nasabah.
5. Apakah laporan keuangan ini sudah diaudit?
Tidak. Laporan keuangan ini merupakan laporan interim yang tidak diaudit (unaudited), disampaikan sesuai ketentuan OJK untuk periode kuartal I yang berakhir 31 Maret 2026.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.