Kontrak Baru ADHI Melejit 131%, Tembus Rp4,72 Triliun di Awal 2026

Abdul Malik • 22 Apr 2026

an image
Ilustrasi logo Adhi Karya atau ADHI. (Shutterstock)

ADHI kantongi kontrak baru Rp4,72 triliun hingga Maret 2026, naik 131,5% YoY. Didominasi proyek pemerintah, ini dampaknya.

Bareksa - PT Adhi Karya (Persero) Tbk mencatatkan kontrak baru sebesar Rp4,72 triliun hingga Maret 2026. Pencapaian ini penting karena menunjukkan percepatan kinerja awal tahun dan memperkuat visibilitas pendapatan ke depan.

Menurut laporan perseroan dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 21 April 2026, nilai kontrak baru tersebut tumbuh 131,5% secara tahunan (YoY). Lonjakan ini mencerminkan keberhasilan ADHI dalam memenangkan proyek strategis sejak awal tahun.

ADHI merupakan emiten BUMN di sektor konstruksi dan infrastruktur. Perseroan fokus pada proyek pembangunan nasional seperti jalan tol, transportasi, dan properti.

Didominasi Proyek Pemerintah

Sebagian besar kontrak baru berasal dari proyek pemerintah dengan porsi 76%. Sisanya berasal dari BUMN sebesar 22% dan swasta sebesar 2%.

Manajemen menyebut fokus pada bisnis inti konstruksi menjadi kunci utama pertumbuhan ini. Pendekatan tersebut membantu ADHI menangkap peluang proyek infrastruktur nasional. 

Kontribusi terbesar datang dari lini Engineering and Construction sebesar 95%. Ini menegaskan peran utama segmen konstruksi dalam pendapatan perusahaan.

Proyek Mandiri Lebih Dominan

Dari total kontrak, sekitar Rp4 triliun berasal dari proyek non-joint operation (non-JO). Sementara Rp183 miliar berasal dari proyek kerja sama atau joint operation (JO). 

Dominasi proyek non-JO menunjukkan kemampuan ADHI mengeksekusi proyek secara mandiri. Hal ini juga berpotensi meningkatkan margin karena tidak berbagi dengan mitra.

Proyek-proyek yang diperoleh mencakup infrastruktur strategis seperti jalan tol dan fasilitas publik. Ini menjadi penopang utama order book perseroan ke depan.

Implikasi ke Kinerja 2026

Lonjakan kontrak baru mempertebal cadangan proyek (order book) ADHI. Kondisi ini memberikan visibilitas pendapatan yang lebih terjaga sepanjang 2026.

Namun, keberhasilan ini tetap bergantung pada eksekusi proyek di lapangan. Faktor seperti waktu penyelesaian dan pengelolaan biaya menjadi kunci.

Dengan pipeline proyek yang kuat, ADHI berada pada posisi strategis di sektor konstruksi nasional. Terutama dalam mendukung proyek infrastruktur pemerintah.

Tabel Ringkasan Informasi

Indikator
Nilai

Kontrak Baru (Q1 2026)

Rp4,72 triliun

Pertumbuhan YoY

131,5%

Proyek Pemerintah

76%

Proyek BUMN

22%

Proyek Swasta

2%

Non-JO

Rp4 triliun

Joint Operation

Rp183 miliar

Kontribusi Engineering & Construction

95%

Sumber: ADHI

Kesimpulan

Lonjakan kontrak baru ADHI di awal 2026 menunjukkan akselerasi kinerja yang kuat. Dominasi proyek pemerintah dan proyek mandiri memperkuat posisi perseroan di sektor konstruksi.  Ke depan, realisasi proyek menjadi faktor kunci dalam menjaga kinerja.

FAQ

1. Berapa nilai kontrak baru ADHI hingga Maret 2026?
Rp4,72 triliun.

2. Apa penyebab utama pertumbuhan?
Didorong proyek pemerintah dan fokus pada bisnis konstruksi inti.

3. Apa arti dominasi proyek non-JO?
Menunjukkan kemampuan mengerjakan proyek mandiri dengan potensi margin lebih tinggi.

4. Sektor apa yang paling berkontribusi?
Engineering and Construction dengan porsi 95%.

5. Apa dampaknya ke kinerja ke depan?
Memberikan visibilitas pendapatan, tergantung eksekusi proyek.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa  adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap. 

Beli Saham di Sini

(Adam Nugroho/AM)

Tentang Penulis

​*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.