PGEO Tancap Gas: Bangun PLTP 55 MW Sekaligus Masuk Bisnis Data Center dan Hidrogen

Abdul Malik • 20 Apr 2026

an image
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) Area Kemojang. (dok. PGEO)

PGEO mulai proyek PLTP Lumut Balai 55 MW dan siapkan ekspansi ke data center serta hidrogen, simak dampaknya bagi bisnis perseroan.

Bareksa - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) resmi memulai proyek PLTP Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW di Sumatera Selatan. Langkah ini penting karena menambah kapasitas energi bersih perseroan sekaligus membuka potensi sumber pendapatan baru dari ekspansi bisnis non-kelistrikan.

PGEO adalah emiten sektor energi panas bumi yang fokus pada pengembangan listrik berbasis geothermal dan energi hijau. Perseroan menjadi salah satu pemain utama transisi energi di Indonesia.

Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 17 April 2026, PGEO memulai tahap awal proyek Lumut Balai Unit 4 melalui kick-off meeting pada 17 April 2026.

Sebagai tahap pertama, PGEO mengalokasikan investasi US$32,21 juta untuk pengeboran tiga sumur eksplorasi. Infrastruktur awal ditargetkan selesai pada Oktober 2027.

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani, menyampaikan pengembangan ini bukan hanya menambah kapasitas terpasang, tetapi juga menjaga keberlanjutan pasokan energi bersih. Menurut manajemen, proyek tersebut menjadi bagian dari target bauran energi nasional dan arah menuju Net Zero Emissions.

Secara teknis, hasil simulasi reservoir menunjukkan cadangan eksisting di wilayah kerja Lumut Balai masih mampu menopang tambahan kapasitas baru. PGEO menargetkan Commercial Operation Date (COD) Unit 4 pada 2032.

Jika target tercapai, total kapasitas Area Lumut Balai akan meningkat menjadi 220 MW, setelah Unit 3 direncanakan beroperasi lebih dulu pada 2030.

Dua Lini Bisnis Baru

Selain proyek pembangkit, PGEO juga mengumumkan rencana penambahan dua lini usaha baru, yakni bisnis data center dan jasa sewa generator Hydrogen Fuel Cell (HFCG).

Untuk proyek data center, PGEO memperkirakan kebutuhan investasi sekitar US$19 juta untuk PLTP khusus 5 MW. Berdasarkan studi kelayakan penilai independen KJPP RHR, proyek ini diproyeksikan memiliki IRR 10,51% dan NPV Rp126,37 miliar.

Sementara itu, lini usaha Hydrogen Fuel Cell Generator diperkirakan membutuhkan investasi Rp1,17 miliar dengan proyeksi IRR 110,83% dan periode balik modal sekitar 1 tahun 11 bulan.

Perseroan menyatakan ekspansi tersebut bertujuan menciptakan recurring income baru serta mengoptimalkan pemanfaatan energi panas bumi melalui pengembangan green hydrogen.

Secara kinerja, hingga 31 Desember 2025 PGEO mencatat total aset US$3,03 miliar dan laba tahun berjalan US$137,66 juta.

Keputusan final atas rencana penambahan kegiatan usaha akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 21 April 2026 di Jakarta.

Tabel Ringkasan Informasi

Keterangan
Nilai

Proyek Baru

PLTP Lumut Balai Unit 4

Kapasitas

55 MW

Investasi Awal

US$32,21 juta

Target Infrastruktur Awal

Oktober 2027

Target COD

2032

Total Kapasitas Area Lumut Balai

220 MW

Bisnis Baru

Data Center

Investasi Data Center

US$19 juta

IRR Data Center

10,51%

Bisnis Baru

Hydrogen Fuel Cell Generator

Investasi HFCG

Rp1,17 miliar

IRR HFCG

110,83%

Sumber: PGEO, diolah

Kesimpulan

PGEO melanjutkan ekspansi inti melalui pembangunan PLTP baru 55 MW sambil menyiapkan diversifikasi usaha ke data center dan hidrogen. Strategi ini menunjukkan fokus perseroan pada pertumbuhan jangka panjang berbasis energi hijau dan sumber pendapatan berulang.

FAQ

1. Apa itu PLTP?
PLTP adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang memanfaatkan uap panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik.

2. Mengapa PGEO masuk bisnis data center?
Karena data center membutuhkan pasokan listrik stabil, sehingga bisa disinergikan dengan energi geothermal.

3. Apa arti IRR bagi investor?
IRR adalah estimasi tingkat pengembalian investasi suatu proyek.

4. Kapan proyek Lumut Balai Unit 4 beroperasi?
PGEO menargetkan COD pada tahun 2032.

5. Apa itu recurring income?
Pendapatan berulang yang diharapkan masuk secara rutin dari bisnis baru.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap. 

Beli Saham di Sini

(Adam Nugoroho/AM)

Tentang Penulis

​*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.