Pendapatan EDGE Tembus Rp1,1 T, Tapi Laba Anjlok 52%, Apa Penyebabnya?

Abdul Malik • 17 Apr 2026

an image
Ilustrasi pelaku pasar berspekulasi ledakan kecerdasasan buatan (artificial intelligence/AI) akan terus mendorong keuntungan pasar. (Shutterstock)

EDGE catat pendapatan Rp1,1 triliun di 2025, laba turun 52%. Simak analisis aset, ROA, ROE, dan strategi ekspansi data center.

Bareksa - Emiten infrastruktur digital yang menyediakan layanan data center, cloud, dan konektivitas internet, PT Indointernet Tbk (EDGE) mencatat pendapatan naik menjadi Rp1,1 triliun pada 2025.

Menurut laporan perseroan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (17/4), laba bersih perseroan turun tajam hingga 52% di periode yang sama. 

Hal ini terjadi karena perseroan sedang dalam fase ekspansi agresif data center, yang mendorong lonjakan aset tetapi menekan profitabilitas jangka pendek.

Ringkasan Kinerja EDGE

Keterangan
2025
2024
Perubahan

Pendapatan

Rp1.100,8 miliar

Rp950,4 miliar

↑ 15,8%

Laba Bersih

Rp120,8 miliar

Rp253,3 miliar

↓ 52,3%

Total Aset

Rp5.455,0 miliar

Rp3.511,8 miliar

↑ 55,3%

Ekuitas

Rp1.829,5 miliar

Rp1.708,9 miliar

ROA

2,2%

6,6%

ROE

6,6%

13,6%

Sumber: materi presentasi EDGE

Aset Naik, Profitabilitas Turun

Menurut laporan perseroan terlihat tren cukup jelas:

  • Aset meningkat tajam dari Rp2,7 triliun (2023) → Rp3,5 triliun (2024) → Rp5,45 triliun (2025)
  • Namun ROA turun signifikan dari 9,3% → 6,6% → 2,2%
  • Artinya: aset bertambah cepat, tapi belum langsung menghasilkan laba optimal

Hal serupa juga terjadi pada ekuitas:

  • Ekuitas naik dari Rp1,47 triliun → Rp1,70 triliun → Rp1,83 triliun

  • Tapi ROE turun dari 17,2% → 13,6% → 6,6%

  • Ini menandakan return ke pemegang saham sementara tertekan

Pendapatan Naik, Tapi Struktur Berubah

Dari sisi pendapatan:

  • 2023: Rp950,4 miliar

  • 2024: Rp1.016,8 miliar

  • 2025: Rp1.100,8 miliar

Namun ada catatan penting:

  • Pendapatan cloud sebelumnya dicatat gross (2023–2024)

  • Tahun 2025 berubah menjadi net basis

  • Artinya, kenaikan ini tetap solid meski metode pencatatan lebih konservatif

Kenapa Laba Turun Tajam?

Catatan laba menunjukkan:

  • 2023: Rp253,3 miliar

  • 2024: Rp232,3 miliar

  • 2025: Rp120,8 miliar

Penurunan ini sejalan dengan:

  • Investasi besar data center

  • Pengembangan infrastruktur baru

  • Ekspansi layanan (termasuk AI & liquid cooling)

Strategi Besar EDGE ke Depan

EDGE sedang membangun fondasi jangka panjang:

  • Kapasitas data center saat ini: 29 MW

  • Target CGK Campus: 500 MW (potensi 1 GW)

  • Pengembangan:

    • Fiber bawah tanah (2025–2026)

    • Data center AI-ready (liquid cooling)

    • SLA tinggi: 100% (data center) & 99,96% (konektivitas)

Apa Artinya bagi Investor?

Kondisi ini menunjukkan EDGE sedang berada di fase ekspansi agresif, di mana:

  • Pertumbuhan pendapatan tetap berjalan

  • Laba dan rasio profitabilitas tertekan sementara

Model seperti ini umum di bisnis infrastruktur digital, terutama data center dan AI ecosystem.

Kesimpulan

EDGE mencatat pertumbuhan pendapatan yang konsisten, namun laba dan rasio profitabilitas turun akibat lonjakan investasi. Kenaikan aset dan ekspansi besar menunjukkan fokus jangka panjang, terutama untuk menangkap peluang AI dan digitalisasi. Dalam jangka pendek, kinerja tertekan, namun arah bisnis menunjukkan potensi pertumbuhan ke depan jika proyek berjalan optimal.

FAQ 

1. Kenapa ROA dan ROE EDGE turun?
Karena aset dan ekuitas naik cepat akibat investasi, sementara laba belum mengikuti.

2. Apa arti perubahan gross ke net revenue?
Pendapatan dicatat lebih konservatif, sehingga angka lebih mencerminkan nilai bersih.

3. Apakah penurunan laba ini wajar?
Umum terjadi pada perusahaan yang sedang ekspansi besar.

4. Apa itu data center untuk AI?
Infrastruktur khusus untuk komputasi tinggi seperti machine learning dan AI.

5. Apa risiko utama EDGE saat ini?
Eksekusi proyek dan kemampuan monetisasi dari investasi besar.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

(Adam Nugoroho/AM)

Tentang Penulis

​*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.