
Bareksa - Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar global. Namun dampaknya terhadap ekonomi dunia tidak selalu besar.
Menurut Rizki Ardhi, Senior Portfolio Manager - Equity di Manulife Aset Manajemen Indonesia, dalam keterangannya (15/4), dampak konflik sangat ditentukan oleh durasi konflik dan normalisasi pasokan minyak.
Jika gangguan hanya sementara, dampaknya cenderung terbatas. Sebaliknya, konflik berkepanjangan berisiko menekan ekonomi global, terutama dari sisi energi.
Situasi saat ini dinilai berbeda dari episode sebelumnya karena adanya risiko gangguan di jalur penting seperti Selat Hormuz.
Meski begitu, proyeksi OECD Maret 2026 masih memperkirakan pertumbuhan global relatif stabil, dengan asumsi harga minyak mereda di pertengahan tahun.
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi, khususnya sektor energi dan transportasi.
Namun menurut Rizki, inflasi inti masih relatif stabil, sehingga tekanan terhadap kebijakan moneter belum terlalu besar. Artinya, bank sentral global masih memiliki ruang untuk tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga.
Di AS, arah suku bunga masih dipengaruhi dinamika inflasi dan geopolitik. Sementara di Indonesia, Bank Indonesia tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia juga belum memberikan sinyal kuat penurunan suku bunga dalam waktu dekat, mencerminkan sikap kehati-hatian.
Pemerintah memutuskan menahan harga BBM, yang berdampak positif pada daya beli dan inflasi.
Namun, konsekuensinya adalah peningkatan subsidi energi. Dengan asumsi harga minyak sekitar US$85 per barel, tambahan beban subsidi diperkirakan mencapai sekitar Rp103 triliun.
Berikut gambaran historis dampak konflik geopolitik terhadap pasar finansial:
Sumber: Bloomberg, Manulife Aset Manajemen Indonesia
Strategi Investor: Diversifikasi Jadi Kunci
Dalam kondisi tidak pasti, strategi utama adalah diversifikasi. Menurut Rizki:
Dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global sangat bergantung pada durasi dan stabilitas pasokan energi. Saat ini, inflasi masih relatif terkendali dan bank sentral cenderung berhati-hati.
Bagi investor, pendekatan yang lebih defensif dan terdiversifikasi menjadi kunci menghadapi ketidakpastian global.
1. Apa risiko terbesar dari konflik ini?
Gangguan pasokan minyak global.
2. Apakah inflasi akan melonjak?
Berpotensi naik, tapi masih terkendali saat ini.
3. Apa sikap bank sentral?
Masih hati-hati, belum agresif menaikkan suku bunga.
4. Strategi investor saat ini?
Fokus pada diversifikasi dan sektor defensif.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi reksa dana terpercaya yang telah berizin OJK sejak 2016. Dengan 160+ produk reksadana dari 35 manajer investasi, kamu bisa memilih sesuai tujuan dan profil risiko. Dilengkapi fitur pembanding performa, riset pasar, dan rekomendasi ahli, Bareksa membantu kamu mulai investasi reksadana dengan mudah, aman, dan terarah dalam satu aplikasi.
(Reynaldi Gumay/AM)
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.