Rekomendasi Saham ICBP Turun Jadi Hold, Ini Penyebab dan Target Harganya

Abdul Malik • 14 Apr 2026

an image
Ilustrasi indomie produk dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk atau ICBP. (Shutterstock)

Ciptadana Sekuritas menurunkan rekomendasi saham ICBP dari Buy menjadi Hold dengan target harga Rp8.100. Simak alasan analis dan proyeksi kinerja 2026 di sini.

Bareksa - PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mendapat perubahan rekomendasi dari Ciptadana Sekuritas Asia dalam riset ekuitas yang dirilis 13 April 2026. Analis menurunkan rating saham ICBP dari sebelumnya Buy menjadi Hold, dengan target harga Rp8.100 per saham, atau potensi kenaikan sekitar 8,7% dari harga terakhir Rp7.450 per saham.

Apa yang Terjadi dengan Kinerja ICBP?

Sepanjang 2025, ICBP membukukan pendapatan Rp74,9 triliun, tumbuh 3,1% secara tahunan (YoY). Laba bersih tercatat Rp9,2 triliun, naik signifikan 30,3% YoY. Namun di sisi lain, gross margin turun 180 basis poin menjadi 35,2% di 2025, tertekan oleh kenaikan biaya minyak goreng dan kentang yang hanya sebagian terkompensasi oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP) di awal 2025.

Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan pendapatan mulai menguat ke 8,6% YoY, ditopang terutama oleh perbaikan volume. Segmen mi instan, yang menyumbang sekitar 87% dari total penjualan, tumbuh 3,7% YoY. Namun pemulihan dinilai tidak merata: segmen mi, susu, dan bumbu tumbuh moderat sekitar 3%, sementara segmen snack hanya tumbuh sekitar 1%, dan segmen nutrisi serta minuman masih mencatat kinerja di bawah ekspektasi.

Mengapa Rekomendasi Diturunkan ke Hold?

Analis menyebut beberapa alasan utama di balik penurunan rating ini:

Pertama, tekanan biaya bahan baku diperkirakan berlanjut ke awal 2026. Paparan bahan baku ICBP terkonsentrasi pada gandum dan minyak goreng yang mencakup sekitar 30% dari penjualan, di samping gula dan produk susu. Kenaikan harga komoditas global akibat faktor geopolitik membuat ruang untuk menaikkan ASP dinilai masih terbatas, mengingat daya beli konsumen domestik yang masih lemah.

Kedua, meskipun ICBP memiliki stok bahan baku untuk 3–6 bulan ke depan sebagai penyangga, analis menilai cadangan ini hanya memberikan perlindungan parsial jika tekanan biaya berlanjut lebih lama.

Ketiga, analis menilai risiko penurunan pendapatan masih lebih besar dibanding potensi kenaikannya, dan belum ada katalis jangka pendek yang dinilai cukup kuat untuk mendorong re-rating saham ICBP.

Proyeksi Keuangan 2026

Analis merevisi turun estimasi laba bersih 2026 menjadi Rp10,2 triliun dan laba inti (core profit) menjadi Rp9,5 triliun. Pendapatan 2026 diproyeksikan tumbuh 5,4% YoY menjadi Rp78,9 triliun. EPS 2026 diproyeksikan Rp876,8. Manajemen ICBP sendiri memandu pertumbuhan penjualan 5–7% dengan margin EBIT di kisaran 20–22% untuk 2026.

Bagaimana dengan Operasional di Luar Negeri?

Operasional Pinehill, anak usaha ICBP yang bergerak di kawasan Timur Tengah dan Afrika,disebut masih berjalan stabil meski situasi geopolitik Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Di pasar Afrika, terjadi pergeseran ke SKU dengan harga lebih terjangkau untuk memperluas jangkauan konsumen, yang menurut analis bersifat konstruktif untuk penetrasi pasar meski berpotensi menekan pertumbuhan pendapatan jangka pendek.

Di pasar domestik, tidak ada tanda-tanda downtrading yang signifikan. Program makan bergizi gratis pemerintah juga disebut memberikan dorongan tambahan pada konsumsi produk susu ICBP.

Valuasi Saat Ini

Dengan harga saham saat ini di 8,5x P/E 2026, analis menilai valuasi ICBP sudah mencerminkan profil laba defensifnya. Target harga Rp8.100 ditetapkan menggunakan P/E 9,2x untuk estimasi laba 2026. Analis juga mencatat harga saham ICBP telah turun sekitar 11% sejak awal 2026.

Kesimpulan

Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia, rekomendasi saham ICBP diturunkan menjadi Hold dengan target harga Rp8.100 per saham. Tekanan biaya bahan baku, daya beli konsumen yang masih lemah, dan minimnya katalis jangka pendek menjadi alasan utama. Analis memproyeksikan kinerja ICBP tetap tumbuh di 2026, namun laju pemulihan dinilai belum merata. Artikel ini bukan rekomendasi investasi. Keputusan beli atau jual saham sepenuhnya merupakan tanggung jawab dan pertimbangan pribadi investor.

FAQ 

1. Apa itu margin kotor (gross margin)?
Selisih antara pendapatan dan biaya produksi langsung, mencerminkan efisiensi operasional perusahaan.

2. Apa yang dimaksud basis poin (bps)?
Satuan untuk mengukur perubahan persentase, di mana 100 bps = 1%.

3. Mengapa stok bahan baku penting bagi perusahaan?
Sebagai penyangga untuk meredam fluktuasi harga komoditas dalam jangka pendek.

4. Apa arti “katalis” dalam saham?
Faktor atau peristiwa yang bisa mendorong kenaikan harga saham.

5. Apa itu SKU dalam konteks bisnis?
Varian produk yang dijual, biasanya dibedakan berdasarkan ukuran, harga, atau kemasan.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.