
Bareksa - PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) kembali mendapat rekomendasi Buy dari Ciptadana Sekuritas Asia dalam riset ekuitas yang dirilis pada 13 April 2026. Analis menetapkan target harga Rp8.200 per saham, atau potensi kenaikan sekitar 22,4% dari harga terakhir Rp6.700 per saham.
Berikut poin-poin utama yang menjadi dasar rekomendasi tersebut, sesuai isi riset.
Divisi Consumer Branded Products (CBP) yang dijalankan melalui ICBP, mencatat peluncuran lebih dari 60 produk baru sepanjang 2025, kembali ke level sebelum pandemi. Langkah ini mendorong pertumbuhan penjualan sebesar 3,3% secara tahunan (year-on-year/YoY), yang mayoritas ditopang oleh pertumbuhan volume. Manajemen belum menaikkan harga jual rata-rata (ASP) pada awal 2026, namun kenaikan ASP pada kuartal III–IV 2026 disebut masih menjadi opsi jika tekanan biaya berlanjut.
Segmen agribisnis mencatat pertumbuhan pendapatan 31,8% YoY pada 2025, didorong kenaikan ASP CPO sebesar 10,1% YoY dan ekspansi volume. Untuk 2026, analis memproyeksikan margin EBIT segmen ini mencapai 20,4%, naik dari 19,6% di 2025, dengan asumsi harga CPO global sekitar RM4.500 per ton. Namun, kenaikan tarif pungutan ekspor sawit Indonesia menjadi 12,5% pada Maret 2026 diperkirakan sedikit membatasi kenaikan ASP.
Bogasari membukukan kenaikan pendapatan 1,8% YoY pada 2025. Untuk 2026, manajemen memproyeksikan pertumbuhan volume 2–5% dengan margin EBIT serupa di kisaran 6–8%. Harga gandum global menguat ke sekitar USD6 per bushel per April 2026 akibat ekspektasi panen yang lebih ketat di AS dan Australia. Analis menilai risiko lonjakan harga gandum yang berkepanjangan masih terbatas, mengingat INDF memiliki stok gandum untuk 3–4 bulan ke depan.
Sepanjang 2025, INDF membukukan pendapatan Rp123,5 triliun (naik 6,7% YoY) dan laba bersih Rp10,7 triliun (naik 23,6% YoY). Analis memproyeksikan pendapatan 2026 sebesar Rp131,8 triliun dengan laba bersih Rp12,5 triliun. EPS 2026 diproyeksikan Rp1.420,1, naik 16,7% YoY. Analis juga merevisi EPS 2026/2027 masing-masing turun 3%/4% untuk mencerminkan realisasi keuangan kuartal IV 2025 dan perubahan proyeksi ICBP.
Dengan harga saat ini di 4,7x P/E 2026, analis menilai INDF masih menarik secara valuasi. Target harga Rp8.200 ditetapkan berdasarkan metode Sum-of-the-Parts (SOTP) dengan diskon holding company sebesar 40%, menyiratkan P/E 5,7x untuk 2026. Analis juga menyebut INDF sebagai alternatif yang lebih murah dibanding berinvestasi langsung di ICBP.
Analis menyebut risiko utama adalah kinerja segmen non-CBP yang lebih lemah dari perkiraan.
Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia, INDF mendapat rekomendasi Buy dengan target harga Rp8.200 per saham, ditopang oleh pertumbuhan di tiga segmen utama: CBP, agribisnis, dan Bogasari. Valuasi saat ini dinilai analis masih menarik. Namun, artikel ini bukan rekomendasi investasi. Setiap keputusan beli atau jual saham sepenuhnya merupakan tanggung jawab dan pertimbangan pribadi investor.
1. Apa itu metode valuasi SOTP yang digunakan analis?
Metode penilaian dengan menjumlahkan nilai masing-masing segmen bisnis dalam satu grup perusahaan.
2. Apa perbedaan INDF dan ICBP?
INDF adalah induk usaha, sementara ICBP fokus pada bisnis produk konsumen (makanan & minuman).
3. Mengapa harga komoditas seperti CPO dan gandum penting?
Karena sangat memengaruhi biaya produksi dan margin keuntungan perusahaan.
4. Apa arti rasio P/E dalam menilai saham?
Perbandingan harga saham dengan laba per saham, digunakan untuk melihat valuasi murah atau mahal.
5. Apa itu ASP (Average Selling Price)?
Harga jual rata-rata produk yang mencerminkan strategi penetapan harga perusahaan.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.