
Bareksa - Di tengah tekanan pasar global akibat meningkatnya tensi geopolitik sejak akhir Februari 2026, harga crude palm oil (CPO) justru menunjukkan kinerja yang berlawanan arah.
Sejak Amerika Serikat-Israel serang Iran 28 Februari, pasar penuh ketidakpastian. Dalam periode 26 Februari hingga 6 April 2026, harga CPO naik sekitar 19,4% dari RM4.042 menjadi RM4.826 per ton.
Sebaliknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sekitar 15,1% dari level 8.235 ke 6.989. Kondisi ini menunjukkan bahwa komoditas sawit menjadi salah satu aset yang relatif lebih tahan terhadap gejolak pasar.
Grafik Historis Harga CPO
Sumber: Investing
Kenaikan harga CPO tidak lepas dari kombinasi faktor permintaan dan pasokan. Dari sisi demand, implementasi program biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai 1 Juli 2026 diperkirakan menambah kebutuhan sekitar 3,5 juta ton CPO.
Kebijakan ini berpotensi meningkatkan permintaan domestik sekaligus menjaga stabilitas harga, dengan estimasi kenaikan kebutuhan CPO sekitar 15–25% dibandingkan program B40 sebelumnya.
Di sisi lain, potensi El Nino pada semester II 2026 berisiko menekan produksi sawit global. Jika terjadi, kondisi ini dapat memperketat pasokan dan menjadi katalis tambahan bagi kenaikan harga.
Kombinasi permintaan yang meningkat dan pasokan yang berpotensi terbatas menciptakan sentimen positif bagi harga CPO ke depan.
Kenaikan harga CPO umumnya berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan margin emiten sawit. Namun, karakteristik masing-masing perusahaan membuat peluangnya berbeda.
Emiten seperti PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) cenderung memiliki profil pertumbuhan lebih tinggi karena usia tanaman yang relatif lebih muda, sehingga produksi berpotensi meningkat lebih cepat. Konsekuensinya, valuasi sahamnya juga cenderung lebih premium.
Sementara itu, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT. Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) memiliki kebun yang lebih matang, dengan pertumbuhan produksi yang lebih stabil. Saham-saham ini umumnya diperdagangkan dengan valuasi yang lebih rendah, sehingga cocok untuk investor dengan pendekatan lebih defensif.
Sumber: laporan keuangan perseroan
*Keterangan: Horizontal = growth, vertikal = valuasi, bubble = rerata transaksi harian, TBS= tandan buah segar.
Secara umum, saham sawit dapat dikategorikan menjadi dua strategi:
Di tengah volatilitas pasar akibat faktor geopolitik, sektor sawit justru menunjukkan ketahanan. Kenaikan harga CPO, didukung oleh kebijakan B50 dan potensi gangguan pasokan, menciptakan peluang yang relatif jarang terjadi.
Bagi investor, kondisi ini menjadikan saham sawit sebagai kombinasi menarik antara defensive play dan growth opportunity. Strategi yang dapat dipertimbangkan antara lain fokus pada emiten dengan eksposur CPO kuat, memantau pergerakan harga komoditas, serta melakukan akumulasi bertahap saat terjadi koreksi.
Harga CPO yang menguat di tengah pelemahan pasar menjadi sinyal kuat bagi sektor sawit. Dengan dukungan B50 dan potensi El Nino, saham sawit berpeluang melanjutkan tren positif, baik untuk strategi defensif maupun pertumbuhan.
1. Apa itu CPO?
Minyak kelapa sawit mentah yang menjadi komoditas utama industri sawit.
2. Apa dampak B50 ke saham sawit?
Meningkatkan permintaan domestik, sehingga berpotensi mendukung harga dan kinerja emiten.
3. Kenapa El Nino berpengaruh?
Dapat menurunkan produksi sawit, sehingga pasokan berkurang dan harga naik.
4. Saham sawit cocok untuk siapa?
Bisa untuk investor defensif maupun agresif, tergantung pilihan emiten.
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
(Christian Halim/AM)
Tentang Penulis
*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
***
DISCLAIMER
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.